Tuesday, January 15, 2013

EKOSISTEM HUTAN


Satuan pokok ekologi adalah ekosistem atau sistem ekologi yakni satuan kehidupan yang terdiri atas suatu komunitas makhluk hidup (dari berbagai jenis) dengan berbagai benda mati berimteraksi membentuk suatu sistem. Ekosisitem dicirikan dengan pertukaran materi dan transpormasi energi yang sepenuhnya berlangsung di antara berbagai komponen dalam sisitem itu sendiri atau dengan sistem lain diluarnya (Soekarni et al., 1987).
Ekosistem adalah ungkapan pendek untuk sistem ekologi. Bagi beberapa orang, “sistem ekologi merupakan sinonim untuk sistem lingkungan. Aliran energi menghasilkan jaringan-jaringan transfortasi energi yang khas, interaksi umpan balik, dan daur ulang. Jaring-jaring tersebut membentuk hirarki dari transformasi energi yang khas, interaksi umpan balik dan daur ulang. Suatu sitem lingkungan adalag suatu jaringan bagian-bagian komponen dan proses-proses komponen pada skala lingkungan contohnya hutan, sawah , danau , laut, daerah pertanian. Semua areal tersebut biasanya tersusun atas organisme hidup, siklus kimia, aliran air, komponen bumi dan seterusnya (Odum, 1983).
Suatu ekosistem tersusun dari organisme hidup di dalam suatu area ditambah dengan keadaan fisik yang mana saling berinteraksi. Karena tidak ada perbedaan yang tegas antara ekosistem, maka objek pengkajian harus dibatasi atas daerah dan unsur penyusun. Kegunaan dari pemikiran dalam ekosistem adalah saling keterkaitan antara satu hal dengan hal yang lain, saling ketergantungan, dan hubungan sebab akibat yang kesemuanya itu membentuk suatu rantai kehidupan yang berkesinambungan (Clapham, 1973).
Suatu ekosistem tidak pernah terisolir dari suatu sistem lainnya. Ekosistem bersifat kompleks dan dinamis. Ekosistem terintegrasi oleh arus energi dan benda-benda diantara organisme dan lingkungannya. Ekosistem dengan piramida biomas terbalik harus didukung oleh turnover time secara cepat pada tingkat trofik yang rendah. Sebuah ekosistem memperoleh energi dari suatu sumber, energi tersebut dapat disimpan atau dirubah ke dalam bentuk kerja (Nasution, 1995).
Ekosistem hutan adalah sistem ekologi yang saling terkait antara lingkungan dengan makhluk hidup yang menempati hutan. Menjadi tatanan kesatuan utuh yang tidak terpisahkan atas berbagai unsur kehidupan organisme dan anorganiasme. Organisme berkembang dalam komunitas dan terjalin dalam sebuah sistem dengan lingkungan fisik untuk keperluan kehidupan. Spesies binatang dan tumbuhan dalam suatu ekosistem sangat ditentukan oleh pengaruh potensi sumber daya alam dan faktor kimiawi-fisis yang sesuai dengan kebutuhan hidup spesies tersebut. Kawasan hutan ditumbuhi oleh lebatnya pohon dan tumbuhan. Menjadi bentuk kehidupan yang tersebar di dunia, baik di daerah tropis, iklim dingin, pegunungan, di dataran rendah, di pulau terkecil atau di suatu benua. Ekosistem hutan memiliki fungsi untuk menampung karbondioksida, menjadi tempat hidup hewan dan tumbuhan, pelestari utama tanah, modulator hidrologi dan fungsi biosfer penting untuk menjaga keberlansungan kehidupan di muka bumi ini (Anonim, 2009).

Konsep ekosistem merupakan konsep yang luas, fungsi utamanya di dalam pemikiran atau pandangan ekologi merupakan penekanan hubungan wajib ketergantungan, dan sebab musabab, yakni perangkaian komponen-komponen untuk membentuk satuan-satuan fungsional. Akibat hal tersebut adalah bagian-bagian itu cara bekerjanya tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan, sehingga ekosistem merupakan tingkat organisasi biologi yang paling baik untuk teknik analisa system.
Di dalam ekosistem hutan juga terjadi daur materi dan daur energi. Energi utama dari ekosistem hutan berasal dari sinar matahari yabg ditangkap oleh produsen yang diteruskan kekonsumen – konsumen berikutnya sampai keperombak. Kehidupan disini mempunyai kesinambungan masukan energi dan materi karena keluar energi (Panas) dan materi berhubungan juga selalu mengalir dari dalam tubuh. Keseimbangan masukan serta keluaran tergantung pada daur materi dan aliran energi. Daur energi tida sesederhana ini, karena dalam ekosistem hutan tidak hanya rantai makanan saja yang akhirnya membuat semakin komplek daur-daur yang ada dalam ekosistem tersebut. 
Dari sekema yang ada dapat diketahui bahwa arus energy berbeda dengan daur materi. Arus energi adalah perpindahan atau transfer tenaga yang dimulai dari sinar matahari melalui organisme-organisme dalam ekosistem melalui peristiwa makan dan dimakan. Sedangkan daur materi adalah perputaran substansi atau materi melalui peristiwa makan dan dimakan. Arus energi bersifat non siklik sedangkan daur materi bersifat siklik.
   Secara umum, arus energi yan ada di Hutan Wanagama dimulai dari panangkapan energi oleh tanaman (produsen) dari matahari melalui proses fotosintesis. Produsen jumlahnya sangatlah banyak. Kemudian beralih kepada konsumen. Konsumen merupakan kelompok organisme yang heterotrof, yaitu tidak dapat mensintesis makanannya sendiri. Maka dari itu mereka mendapatkan makannnya dengan cara memakan organisme lain. Bermula dari konsumen tingkat pertama. Konsumen tingkat ini biasanya berkembang biak dengan cepat sehingga populasinya sangat banyak, namun tidak lebih banyak dari produsen. Konsumen tingkat pertama ini biasanya merupakan herbivora (pemakan tumbuhan). Dalam ekosistem hutan ini, konsumen pertamanya adalah belelang yang jumlahnya cukup banyak.
Berlanjut kepada konsumen tingkat kedua, ketiga dan seterusnya. Konsumen ini juga merupakan organisme heterotrof. Namun bedanya, organisme di sini adalah golongan karnivora (pemakan daging/hewan) dan omnivora. Populasi yang mereka miliki lebih kecil daripada hewan herbivora (konsumen tingkat 1) karena kemampuan berkembangbiaknya rendah. Dalam ekosistem hutan ini, konsumen tingkat kedua ditempati oleh katak ataupun burung pemakan serangga. Dan konsumen tingkat ketiga ditempati oleh ular. Produsen menempati tempat teratas dengan populasi terbanyak, lalu konsumen tingkat akhir menduduki peringkat paling buncit dengan populasi paling sedikit. Demikian terjadi karena produsen ataupun sumber makanan yang berada 1 tingkat diatas konsumen, harus mampu memenuhi semua kebutuhan makanan dan energi konsumen tersebut. Maka dari itu, jumlah populasi produsen atau sumber makanan di atasnya tidak boleh kurang dari jumlah populasi konsumen di bawahnya. Supaya tidak terjadi kekurangan pangan di dalam ekosistem tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pengurai yang sangat berperan dalam ekosistem hutan adalah cacing. Perannya tidak hanya menguraikan jasad konsumen, tetapi juga dapat menguraikan produsen yang mati.
Pada daur materi, apa yang dihasailkan oleh produsen akan kembali lagi kepada produsen. Sumber materi utama dalam ekosistem Hutan Wanagama adalah tanah dan udara yang ada di bumi.Materi yang ada di bumi (air dan CO2) akan diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman. Secara berturut-turut zat tersebut akan berpindah dari tubuh organisme satu ke organisme lain, maka suatu ketika akan kembali ke bumi sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh tumbuhan.          
Daur materi dan arus energi erat kaitannya dengan komponen-komponen yang ada pada ekosistem yang bersangkutan (dalam hal ini adalah ekosistem hutan). Secara umum ada dua jenis komponen yang menyusun keberadaan ekosistem hutan. Keduanya adalah komponen biotik dan juga komponen abiotik. Komponen biotik adalah penyusun suatu ekosistem yang terdiri dari organisme-organisme yang  masih hidup. Komponen biotik juga masih bisa dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu organisme autotrof (mampu menghasilkan makanan sendiri) dan organisme heterotrof (tidak mampu menghasilkan makanan sendiri). Sedangkan komponen abiotik merupakan penyusun ekosistem yang terdiri dari benda-benda yang tidak hidup atau bisa juga dikatakan lingkungan dalam arti fisiknya.
            Dalam ekosistem Hutan Wanagama I , penyusun komponen abiotik adalah batu, sampah plastik, udara, daun kering, suhu, genangan air, dan sebagainya. Penyusun komponen biotik autotrof adalah pohon mahoni, pohon jati, rumput, putri malu, pohon pornis, dan pohon kayu putih. Sedangkan penyusun komponen biotik heterotrof adalah semut, belalang, laba-laba, kupu-kupu, bekicot, lebah, nyamuk, katak, ular, burung, dan anjing. Selain kedua komponen di atas, masih ada satu komponen lagi, yaitu dekomposer.  Dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Decomposer tidak berperan dalam arus energy tetapi hanya berperan dalam daur materi. Ini karena decomposer tidak meneruskan energy yang diperoleh dari organisme yang mati kepada tanaman dalam bentuk unsur hara. Tetapi, decomposer mamapu meneruskan materi dari organisme mati (biasanya dalam bentuk mineral organik) kepada tanaman. Yang bertindak sebagai dekomposer dalam ekosistem hutan ini adalah cacing dan beberapa mikroorganisme lain yang mungkin tidak dapat terlihat secara kasat mata. Komponen-komponen tersebut saling berinteraksi membentuk suatu sistem yang kompleks dengan tujuan untuk menciptakan keadaan yang seimbang  (homeostasis), artinya suatu keadaan yang menunjukkan bahwa sistem tersebut  mempunyai kecenderungan untuk melawan perubahan dan memelihara keseimbangan.
            Matahari merupakan sumber energi utama yang memberikan kehidupan di bumi. Akan tetapi, energi matahari tidak dapat dimanfatkan secara langsung oleh semua organisme yang ada di bumi. Hanya organisme autotrof yang dapat memenfaatkan cahaya matahari secara langsung melalui proses fotosintesis yang dapat menghasilkan makanan bagi organisme autotrof tersebut maupun organisme heterotrof yang memakan organisme autotrof.
            Dalam ekosistem hutan, matahari merupakan sumber energi yang utama. Tak hanya memberi energi kepada tanaman untuk menghasilkan makanan, matahari juga memiliki pengaruh yang cukup besar bagi sebagian komponen abiotik dalam ekosistem hutan. Seperti suhu, angin, kelembabaan dan lain-lain. Suhu, air dan kelembaban memiliki peranan dalam menentukan organisme yang sesuai untuk tinggal di daerah tersebut. Hutan Wanagama beriklim tropis (iklim makro di daerah Indonesia) sehingga tanaman yang banyak tumbuh adalah jenis pepohonan tahunan yang relatif memiliki ukuran yang besar. Pepohonan besar yang ada adalah pohon mahoni, pohon jati, pohon pornis, dan pohon kayu putih. Tidak hanya berperan sebagai organisme autorof yang mampu menciptakan makanan sendiri. Lebih dari itu, ada banyaknya pohon-pohon besar seperti itu juga berperan dalam mengubah iklim mikro yang ada di daerah Hutan Wanagama terebut.
Iklim mikro di Hutan Wanagama yang berbeda dengan iklim tropis pada umumnya adalah suhu, kelembaban, dan banyaknya cahaya matahari yang sampai di permukaan tanah. Iklim mikro yang merupakan komponen abiotik tentunya berpengaruh terhadap komponen biotik (organisme) yang berada di Hutan Wanagama.
Sedikitnya cahaya matahari yang mencapai permukaan tanah membuat suhu di daerah tersebut relatif agak rendah dan kelembaban udara yang terdapat pada Hutan Wanagama juga sedikit lebih tinggi. Suhu rendah dengan tingkat kelembaban yang tinggi sangat cocok untuk berbagai jenis rumput dan putri malu tumbuh dengan subur. Adanya banyak rerumputan membuat banyak serangga kecil banyak dijumpai di Hutan Wanagama tersebut. Selain menjadi tempat tinggal bagi semut, dan laba-laba, rerumputan juga berperan dalam menyediakan makanan bagi belalang dan bekicot, serta bunga dari rerumputan tersebut juga menyediakan nektar yang merupakan makanan bagi lebah dan kupu-kupu. Genangan air ditambah dengan tempat yang sedikit gelap (cahaya matahari sedikit yang mencapai tanah) membuat banyak nyamuk yang berhabitat di tempat tersebut.  Selain itu, karakteristik daerah seperti itu juga menjadi habitat yang cocok untuk katak. Pohon-pohon yang besar menjadikan tempat tersebut juga menjadi tempat yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan burung (baik pemakan biji, maupun pemakan serangga).
Setelah iklim mikro berpengaruh kepada vegetasi penutup tanah pada suatu wilayah (Hutan Wanagama), maka vegetasi akan berpengaruh terhadap binatang yang menghuni wilayah tersebut, khususnya berpengaruh pada binatang yang berperan sebagi konsumen tingkat I dan sebagian kecil konsumen tingkat II. Konsumen tingkat III dan seterusnya yang ada di ekosistem hutan lebih dipengaruhi oleh adanya konsumen tingkat I dan II daripada oleh iklim mikro yang ada. Sebagai  contoh, mungkin katak ( konsumen II) hanya akan dapat hidup pada daerah yang lembab dengan minimal ada sedikit genangan air (masih dipengaruhi oleh iklim mikro). Sedangkan ular (konsumen III) dapat tinggal di lingkungan apa saja asal ada makanan,dalam hal ini adalah katak. Untuk contoh lain, burung pemakan serangga yang merupakan konsumen tingkat II mungkin juga dapat hidup di banyak lingkungan berbeda (tidak hanya hutan), tetapi karena iklim mikro hutan cocok untuk serangga dapat berkembang biak, maka di hutan pun banyak serangga dan burung pemakan serangga pun banyak yang menghuni hutan.
sumber:
Anonim. 2009. Ekosistem. <http://wikipedia.ekosistem.org>. Diakses pada tanggal 4 Mei 2011.

Clamphan. 1973. Natural Ecosystem. Mac Millan Publishing Company. Inc, New York.

Nasution,  A. 1995. Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Litera Antar Nusa,Yogyakarta.

Odum, Eugene P. 1983. Dasar-Dasar Ekologi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Soekarni, Ahmad R, dan Munir R. 1987. Lingkungan: Sumber daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. UI Press, Jakarta.


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment