Thursday, April 4, 2013

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Kelapa (Tinjauan Pustaka)


Tanaman kelapa termasuk tanaman yang memiliki ukuran batang dari sedang sampai tinggi berkisar antara 10-20 m dan terkadang dapat juga mencapai 30 m. batang tanaman kelapa berdiameter hingga 50 cm dan berbentuk lurus atau juga dapat berbelok tergantung pada kondisi lahan tanaman kelapa ditanam. Tanaman kelapa memiliki syarat tumbuh dengan toleransi yang relative luas tetapi berkembang optimal pada kondisi tanah yang memiliki fraksi tanah yang banyak dan dalam, serta pH antara 5,5 sampai dengan 8. Walaupun mampu tumbuh pada ketinggian di atas 1200mdpl untuk daerah tropis dan 900 mdpl pada daerah subtropis, pada umumnya tanaman kelapa dapat tumbuh dan berproduksi optimal pada ketinggian 600 mdpl atau di bawahnya (Allen, 1989). 

Kesesuaian lahan secara kuantitatif adalah penilaian kesesuaian lahan secara fisik dilanjutkan dengan penilaian kesesuaian lahan secara ekonomi. Hasil evaluasi lahan secara ekonomi akan memberikan gambaran keuntungan atau resiko kerugian dari suatu komoditas yang diusahakan di suatu areal pada tingkat manajemen tertentu. Kesesuaian lahan secara ekonomi akan menunjukkan keberhasilan suatu komoditas yang diusahakan tidak hanyak diekspresikan oleh produksi fisik ton per ha, tetapi juga dari aspek komersial (Djaenudin et al., 2006). 

Kelas kesesuaian lahan untuk pertanaman kelapa pada dasarnya didasarkan atas horizon di mana tanaman kelapa akan ditanam, sifat fisika tanah, dan kemampuan tanah dalam menahan air. Kebaradaan air di dala tanah merupakan dasar pengkelasan kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa karena berpengaruh terhadap penggunaan air khususnya ketika masa kekeringan. Air tanah tersedia juga berpengaruh terhadap luas daun tanaman kelapa dan kapasitas penyimpanan air di batang yang keduanya berpengaruh terhadap laju transpirasi tanaman. Perbedaan varietas tanaman kelapa juga memiliki perbedaan dalam kebutuhan air tanaman yang juga nantinya berpengaruh terhadap kesesuain lahan yang diperlukan tanaman kelepa (Madurapperuna and Jayasekara, 2009).

Tanaman perkebunan (kelapa) tumbuh baik pada gambut dangkal sampai gambut dalam (1-3 m). Ketebalan gambut lebih dari 3 m tidak disarankan untuk pertanian, dan lebih sesuai untuk kawasan hutan lindung atau konservasi. Pengembangan tanaman kelapa terutama kelapa hubrida di lahan gambut pasang surut banyak dilakukan di Propinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan (Mahmud dan Allolerung, 1998). 

Kelapa mempunyai persyaratan tumbuh dengan selang sifat yang relative lebar, sehingga dapat tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi, dengan iklim basah (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) maupun iklim kering (Sulawesi dan Nusa Tenggara). Dalam criteria kesesuaian lahan dinyatakan bahwa kelapa dapat tumbuh pada daerah dengan temperature tahunan rata-rata 20-350 C dengan suhu optimal 25-280 C, dan curah hujan 1.000-5.000 mm/tahun atau paling sesuai 2.000-3.000 mm/tahun. Meskipun demikian, pada umumnya tanaman kelapa (terutama kelapa hibrida) tidak dapat betahan apabila bulan kering lebih dari 6 bulan (Abdurachman dan Mulyani, 2003). 

Penggunaan lahan untuk pertanian secara umum dapat dibedakan atas: pengugnaan lahan semusim, tahunan, dan permanen. Penggunaan lahan tanaman tahunan merupakan penggunaan tanaman jangka panjang yang pergilirannya dilakukan setelah hasil tanaman tersebut secara ekonomi tidak produktif lagi, seperti pada tanaman perkebunan. Dalam evaluasi lahan penggunaan lahan harus dikaitkan dengan tipe penggunaan lahan (Land Utilization Type) yaitu jenis-jenis oenggunaan lahan yang diuraikan secara lebih detail karena menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. Setiap jenis penggunaan lahan dirinci ke dalam tipe-tipe penggunaan lahan. Tipe penggunaan lahan bukan merupakan tingkat kategori dar klasifikasi penggunaan lahan, tetapi mengacu pada penggunaan lahan tertentu yang tingkatannya di bawah kategori penggunaan lahan secara umum, karena berkaitan dengan aspek masukan, teknologi, dan keluarannya (Coleman dan Mechlich, 1957).

refferensi:
Abdurachman, A., A. Mulyani, dan K. Gandasasmita. 1998. Kesesuaian lahan untuk pengembangan beberapa tanaman perkebunan di Indonesia dalam prosiding pertemuan komisi penelitian pertanian bidang perkebunan. peremajaan, rehabilitasi, dan perluasan tanaman perkebunan: kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, kakao, teh, lada, pala, jambu mete. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan Bogor 4: 20-41. 

Allen, J.A. 1989. Arecaceae (Palm Family). Paul Smiths College, New York. 

Coleman, N. T., dan A. Mechlich. 1957. Soil in the Yearbook of Agriculture. The United States Government Printing Office, Washington D.C. 

Djaenudin, D., M. Hendrisman, dan Z. Zaini. 2006. Kesesuaian lahan secara kuantitatif untuk tanaman jagung, kedelai, kakao, dan kelapa di daerah Tanjung Bintang, Provinsi Lampung. Jurnal Tanah Tropika 12: 61-68. 

Madurrapperuma W.S. and C. Jayasekara 2009. Estimation of water use of mature coconut cultivars grown in the low country intermediate zone using the compensation heat pulse method. Journal of the National Science Foundation of Sri Lanka 37: 175-186. 

Mahmud, Z. dan D. Allolerung. 1988. Teknologi peremajaan, rehabilitas, dan perluasan tanaman kelapa dalam prosiding pertemuan komisi penelitian pertanian bidang perkebunan. peremajaan, rehabilitasi, dan perluasan tanaman perkebunan: kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, kakao, teh, lada, pala, jambu mete. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan Bogor 4: 116-130.

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment