Thursday, January 30, 2014

Morfologi Bunga dan Biji Tanaman Jagung


Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordia stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan (Palliwal 2000). Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih (Subekti dkk., 2008).

Morfologi Batang dan Daun pada Tanaman Jagung

Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalam lingkaran konsentris dengan kepadatan bundles yang tinggi, dan lingkaranlingkaran menuju perikarp dekat epidermis. Kepadatan bundles berkurang begitu mendekati pusat batang. Konsentrasi bundles vaskuler yang tinggi di bawah epidermis menyebabkan batang tahan rebah. Genotipe jagung yang mempunyai batang kuat memiliki lebih banyak lapisan jaringan sklerenkim berdinding tebal di bawah epidermis batang dan sekeliling bundles vaskuler (Paliwal 2000).

Sesudah koleoptil muncul di atas permukaan tanah, daun jagung mulai terbuka. Setiap daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun yang erat melekat pada batang. Jumlah daun sama dengan jumlah buku batang. Jumlah daun umumya berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman jagung di daerah tropis mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang (temperate) (Paliwal 2000). Genotipe jagung mempunyai keragaman dalam hal panjang, lebar, tebal, sudut, dan warna pigmentasi daun. Lebar helai daun dikategorikan mulai dari sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1-7 cm), sedang (7,1-9 cm), lebar (9,1-11 cm), hingga sangat lebar (>11 cm). Besar sudut daun mempengaruhi tipe daun. Sudut daun jagung juga beragam, mulai dari sangat kecil hingga sangat besar. Beberapa genotipe jagung memiliki antocyanin pada helai daunnya, yang bisa terdapat pada pinggir daun atau tulang daun. Intensitas warna antocyanin pada pelepah daun bervariasi, dari sangat lemah hingga sangat kuat (Subekti dkk., 2008).

Morfologi Akar pada Tanaman Jagung

Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar yaitu akar seminal, alar adventif, dan akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan akar seminal akan berhenti pada fase V3. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Bobot total akar jagung terdiri atas 52% akar adventif seminal dan 48% akar nodal. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air (Subekti dkk., 2008).

Budidaya Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor)

Bayam merupakan tanaman sayur yang banyak digemari masyarakat. Tanaman bayam dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi sampai ketinggian 2000 mdpl. Tanaman bayam umumnya dapat berumur 4-6 minggu setelah tanam. Curah hujan yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman bayam adalah 500-5000 mm/tahun.

1. Persiapan Benih
a. Varietas yang digunakan adalah varietas unggul yang sudah dilepas Menteri Pertanian atau sudah didaftarkan tim pelepasan varietas.

b. Benih yang digunakan adalah benih bermutu tinggi yaitu daya kecambah lebih dari 90 %, vigoritas baik, tingkat kemurnian 95 % dan bebas dari hama dan penyakit.

c. Memiliki adaptasi yang baik pada agroklimat yang akan dipakai lokasi penanaman

d. Merupakan benih bersertifikat dan belum kadaluarsa.

Monday, January 13, 2014

Pengendalian OPT pada Tanaman Bawang Merah

Bawang merah merupakan tanaman yang memiliki banyak fungsi baik dari segi kesehatan atau juga sebagai bahan pangan (bumbu) masakan. Sebagai bahan baku bumbu masakan dan dapat digunakan sebagai obat, permintaan akan bawang merah relatif stabil dan cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Permintaan yang stabil dan cenderung naik menjadikan komoditas bawang merah merupakan salah satu komoditas potensial yang akan menguntungkan ketika dikembangkan dalam skala usaha yang besar. Akan tetapi, pengembangan komoditas bawang merah senantiasa mengalami kendala seperti penguasaan teknologi budidaya yang rendah, musim yang tidak menentu, dan adanya serangan organisme pengganggu tanaman. Serangan organisme pengganggu tanaman merupakan salah satu yang membuat penurunan hasil bawang merah, baik dari sisi kualitas atau juga kuantitas. Beberapa OPT yang sering berada di pertanaman bawang merah adalah sebagai berikut:

1. Ulat bawang (Spodoptera exigua Hubner)

Gejala 
Ulat bawang menyerang sejak pertumbuhan awal bawang (1-10hst) hingga fase pemasakan umbi (51-65 hst). Ulat muda segera melubangi ujung daun kemudian masuk ke dalam daun bawang. Daun bawang kemudian terlihat bercak-bercak putih transparan.

a. Penanaman varietas toleran dan dengan kultur teknis yang lainnya (mangatur waktu tanam, penanaman serentak, pergiliran tanaman, dan dengan tumpang sari). Cara lain adalah dengan sanitasi, pengolahan tanah, pengelolaan air yang baik, dan mengatur jarak tanam.

Friday, January 10, 2014

Peran Unsur Hara bagi Tanaman

Usaha untuk meningkatkan produk-produk pertanian dapat ditempuh dengan dua cara yaitu secara ekstensif dan secara intensif. Secara ekstensif dengan memperluas areal lahan untuk penanaman. Secara intensif dengan melakukan teknik budidaya yang lebih baik atau dengan penerapan-penerapan teknologi unggul dalam bidang pertanian. Salah satu yang paling umum dilakukan adalah dengan malakukan pemupukan atau perbaikan teknik pemupukan. Pemupukan menjadi sangat penting karena tanaman pada dasarnya membutuhkan unsur hara yang berbeda-beda untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap unsur hara memiliki peran yang berbeda sehingga pemberiannya pun juga harus seimbang sesuai dengan peran unsur dan kebutuhan tanaman. Secara umum, peran unsur hara, baik makro ataupun mikro terhadap tanaman adalah sebagai berikut:

1. Nitrogen
Nitrogen merupakan salah satu unsur makro yang palig banyak dibutuhka tanaman. Hal ini karena hampir semua pertumbuhan vegetative tanaman dipacu oleh adanya nitrogen. Secara umum nitrogen berfungsi untuk menambah tinggi tanaman, dan merangsang tumbuhnya anakan. Fungsi lain dari nitrogen adalah menyusun klorofil daun sehingga tanaman menjadi lebih hijau atau juga sebagai penyusun protein dan lemak. 

Wednesday, January 8, 2014

Bunga Tabur Produksi Indonesia

1. Cempaka (Michelia champaca)
Produsen: Bogor, Cianjur, Sukabumi

2. Daun sirih (Piper batle)
Produsen: Jakarta, Bogor, Tangerang, Bandung

3. Kenanga (Cananga odorata)
Produsen: Jakarta, bogor, Sukabumi, Cianjur

Bunga Potong Produksi Indonesia

1. Amaranthus (Amaranthus cadatus)
Produsen: Cianjur, Sukabumi, Bandung

2. Anthurium bunga (Anthurium andreanum)
Produsen: Sukabumi, Purwakarta, Bogor, Bandung

3. Aster (Aster sp.)
Produsen: Cianjur, Sukabumi, Semarang

Bunga Potong Produksi Indonesia 2

11. Rasida (Solidaster sp)
Produsen: Cianjur, Sukabumi

12. Marigold (Tagetas erecta)
Produsen: Bogor, Tangerang

13. Krisan (Chrysanthemum sp.)
Produsen: Cianjur, Sukabumi, Semarang, Bogor.

Sunday, January 5, 2014

Kebijakan Pengembangan Ubijalar

Kebijakan pengembangan merupakan suatu tindak lanjut dari adanya peran ubijalar bagi peningkatan ekonomi atau juga sebagai penjaga ketahanan pangan. Dari adanya peran tersebut kemudian diperoleh atau diketahui potensi pengembangan ubijalar yang selanjutnya dapat diambil langkah kebijakan agar peran dan prospek dapat semakin optimal. Kebijakan pengembangan ubijalar dapat dilihat atau dipisahkan menurut beberapa aspek seperti aspek produksi, sosial ekonomi, dan kelembagaan.

1. Aspek produksi
a. Perluasan areal tanam dengan laju 1,5% per tahun melalui penerapan pola rotasi padi-ubijalar atau padi-padi-ubijalar yang didukung leh sarana irigasi sehingga produktivitas dapat meningkat dengan laju 3,5% per tahun.
b. Pengembangan usahatani komersial yang didukung oleh penerapan PHT, sistem integrasi tanaman-ternak, dan diseminasi teknologi inovatif.
c. Introduksi varietas unggul spesifik agroekologi dan toleran cekaman biotik ataupun abiotic.
d. Pengembangan indutri skala kecil.

Prospek Pengembangan Komoditas Ubijalar

Secara umum, ubijalar memiliki berbagai peran yang ketika dikembangkan mampu memberikan keuntungan dan manfaat baik dari segi ekonomi ataupun ketahanan pangan. Dari sisi agronomis, ubijalar memiliki berbagai kelebihan seperti potensi hasil yang secara genetis tinggi, toleran terhadap cekaman biotk dan abiotic, merupakan bahan yang edible, fleksibel dalam usaha tani dan umur panen, memiliki produksi minimal 20 ton/ha, dan biaya produksi tiap satuan karbohidrat yang lebih murah daripada tanaman pangan lainnya. Selain dari sisi agronomis, ada faktor eksternal yang juga mendorong pengembangan komoditas ubijalar. Faktor eksternal tersebut adalah program diversivikasi pangan, program peningkatan indeks panen lahan sawah, subsidi pupuk, pengembangan industry pangan, dan penderita malnutrisi yang cukup banyak. 

1. Aspek produksi
Pengembangan ubijalar berdasarkan aspek produksi diarahkan pada penyelarasan antara permintaan dengan penyediaan. Target peningkatanproduksi adalah 5,2 juta ton pada tahun 2030 atau meningkat dengan laju 5% per tahun. Peningkatan tersebut untuk memenuhi permintaan pangan, industry pangan, dan industry non pangan. Usaha komersial ubijalar akan semakin berkembang bila didukung oleh pasar lokal dan regional yang memberikan harga yang layak dan stabil. Pencapaian target produksi secara intensif dan ekstensif perlu didukung oleh kemitraan antara petani dengan pelaku industry. Kemitraan tersebut dapat mendorong tercapainya peningkatan produktivitas dan luas garapan serta pendapatan rumah tangga petani.

Peran Ubijalar sebagai Komoditas yang Layak untuk Dikembangkan

Ubijalar merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting dan memiliki beberapa keunggulan baik kompetitif dan komparatif dibandingkan dengan komoditas yang lain. Selain sebagai sumber pangan potensial yang dapat memenuhi kebutuhan gizi manusia, ubijalar juga dapat digunakan sebagai bahan industri yang tentu saja dapat mendatangkan penghasilan secara ekonomi. Beberapa peran yang dimiliki ubi jalar sehingga menjadikannya sebagai komoditas yang layak untuk dikembangkan adalah sebagai berikut: 

1. Sebagai bahan pangan
Ubijalar merupakan bahan pangan yang mengandung makronutien sebagai sumber energi seperti karbohidrat, lemak, dan protein serta beragam micronutrient seperti vitamin dan mineral yang berperan dalam proes pertumbuhan dan perkembangan, mempertahan kan dan memperbaiki kehidupan sel dan jaringan, serta menjaga keberlangsungan proses biokimia di dalam tubuh secara proporsional dan berkelajutan. Kandungan gizi makro dan mikro pada ubi jalar berdasarkan kesetaraan nilai gizi lebih baik daripada yang dikandung beras. Walaupun perlu sedikit penambahan protein.

Friday, January 3, 2014

Organisme Penganggu Tanaman Utama pada Bawang Merah

Bawang merah merupakan salah satu komoditas utama yang memberikan penghidupan kepada petani khusunya di daerah-daerah sentra produksi bawang merah. Sebagai komoditas hortikultura yang banyak digunakan sebagai bumbu di hampir semua masakan Indonesia, permintaan akan bawang merah akan selalu stabil dan bahkan mungkin cenderung mengalami peningkatan. Akan tetapi, permintaan bawang merah yang stabil kadang tidak mampu dipenuhi oleh petani. Salah satu alasan tidak terpenuhinya permintaan adalah rendahnya produksi yang disebabkan oleh adanya serangan organisme pengganggu tanaman.

Berikut adalah beberapa organisme pengganggu tanaman utama yang seringkali menyebabkan berkurangnya produksi dan produktivitas bawang merah:

1. Ulat bawang (Spodopthera exigua)
· Ngengat berwarna kelabu
· Telur diletakkan secara berkelompok
· Ulat berwarna hijau atau coklat
· Gejala serangan ditandai dengan adanya beas gerekan dan bercak putih transparan pada daun