Monday, February 24, 2014

Budidaya Tanaman Kubis

Kubis merupakan salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Namun demikian, sampai saat ini, tingkat produksi tanaman kubis masih tergolong rendah, baik dari sisi kualitas ataupun kuantitas. Hal ini karena teknis budidaya yang selama dilakukan selama ini masih belum optimal disamping kondisi lingkungan yang semakin menurun baik yang disebabkan manusia atau juga secara alami. Teknik budidaya tanaman yang tepat diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil tanaman kubis.

Syarat tumbuh
Kubis merupakan tanaman yang banyak dibudayakan di daerah dataran tinggi dengan ketinggian minimal 800 mdpl. Suhu yang dikehendaki tanaman kubis untuk tumbuh, berkembang dan menghasilakan adalah 15-20C. Kubis dapat ditanam sepanjang tahun dan akan optimal pertumbuhannya ketika ditanam pada tanah yang gembur, bertekstur ringan, dan memiliki pH 6-6,5.

Persiapan lahan
Sebelum kubis ditanam, tanah diolah agar gembur dan dibuat bedengan sebagai media penanaman. Penggemburan tanah diakukan untuk memperbaiki aerasi dan sifat fisik tanah. Pupuk kandang sebesar 10 ton/ha ditambahkan untuk memperbaiki sifat tanah sekaligus memberikan hara kepada tanaman.

Fase pesemaian
Pesemaian dilakukan di bedengan dengan ukuran lebar 1,2 meter dan panjang sesuai dengan kebutuhan dan lahan yang ada. Pesemaian dilakukan di campuran antara tanah dan pupuk kandang (kompos) halus dengna perbandingan 1:1. Benih direndam di dalam fungisida untuk mencegah jamur selama pesemaian. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan merendam benih dalam air hengat bersuhu 55C selama 30-60 menit kemudian dianginkan. Benih disebar merata pada bedengan kemudian ditutup dengan daun pisang selama 3-4 hari. Setiap hari disiram dengan menggunakan pupuk urea yang dilarutkan dengan dosis 0,5 gram setiap liter air. Pesemaian dibuka setiap pagi hingga pukul 10.00 dan sore setelah pukul 15.00.

Fase penanaman
Bibit yang berumur 3-4 minggu dengan daun 4-5 helai ditanam di lahan dengan jarak tanam 70 x 50 cm atau 60 x 50 cm. Pupuk dasar diberikan sehari sebelum penanaman dengan dosis ZA 175 kg/ha, TSP 250 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha. Kubis dapat ditumpangsarikan dengan tanamna tomat dengan cara tanam 2 baris kubis diselingi 1 baris tomat. Penanaman tomat dilakukan 3-4 minggu sebelum tanaman kubis ditanam.

Fase pembentukan krop (0-49 hari)
Pada musim kemarau, penyiraman dilakukan setiap hari setiap pagi atau sore hari. Pupuk susulan diberikan pada saat tanaman berumur 28 hari. Dosis pupuk adalah 175 kg/ha ZA, dan 100 kg/ha KCl. Penyiangan sekaligus penggemburan dan pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 dan 4 minggu. Pewiwilan dilakukan sedini mungkin untuk mengoptimalkan pertumbuhan krop. Pengamatan terhadap hama dilakukan setiap seminggu sekali semenjak tanaman berumur 13 hari. Populasi hama tertinggi terjadi pada awal musim kemarau. Pengendalian hama dilakukan secara mekanik dan dengan sanitasi lingkungan. 

Fase pematangan krop (50-90 hari)
Penyiangan secara manual perlu dilakukan sampai satu minggu sebelum panen. Pengamatan hama dilakukan secara lebih intensif terutama hama yang dapat menimbulkan kerusakan berat seperti ulat daun kubis dan ulat krop kubis. Serangan paling parah adalah pada bulan Februari dan bulan Maret.

Panen dan pasca panen
Tanaman kubis dapat dipanen kropnya setelah besar dan berumur 3-4 bulan setelah pesemaian. Ciri kubis yang sudah dapat dipanen adala padat, tepi daun terluar krop sudah melengkung keluar, dan berukuran besar. Panen dilakukan dengan mengikutsertakan dua helai daun hijau untuk melindungi kropnya. Pemanenan diusahakan tepat waktu karena krop akan pecah atau membusuk ketika terlalu lama tidak dipanen. Hasil yang didapatkan adalah sekitar 20-60 ton/ha untuk kubis telur dan 10-15 to/ha untuk kubis bunga.

Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung Barat.

No comments:

Post a Comment