Thursday, December 31, 2015

Pengaruh Penyiraman Air Garam terhadap Pertumbuhan Bibit Nyamplung (Calopyllum inophylum L)

Nyamplung (Calopyllum inophylum L) merupakan salah satu jenis tanaman pantai yang mempunyai banyak manfaat. Salah satu manfaat yang paling potensial untuk dikembangkan adalah kemampuan biji nyamplung untuk dapat diolah menjadi biodisel. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi nyampung adalah adanya program penanaman nyamplung yang dicanangkan oleh Kementrian Kehutanan. Pengembangan nyamplung diharapkan juga sampai ke industri hilir.

biji nyamplung
Penyediaan bibit merupakan salah satu hal yang paling krusial dalam penanaman nyamplung. Pembibitan dan penanaman nyamplung di daerah pantai kemunginan terkendala oleh kondisi lingkungan pantai yang ekstrim. Kondisi yang ekstrim tersebut seperti suhu udara yang tinggi, kecepatan angin tinggi, dan tingkat salinitas yang tinggi. 

Penyiraman air garam terhadap bibit nyamplung dilakukan untuk mengetahui tingkat ketahanan bibit terhadap lingkungan ekstrim daerah pesisir pantai. Pengetahuan akan ketahanan bibit nyamplung terhadap salinitas akan sangat bermanfaat untuk pengembangan bibit nyamplung di daerah pesisir pantai.

Penyiraman air garam pada bibit nyamplung memberikan pengaruh yang positif pada parameter tinggi tanaman dan diameter batang. Kadar air laut sebanyak 75% nyata meningkatkan tinggi bibit nyamplung. Kation yang tinggi pada air laut diduga berperan dalam peningkatan metabolism bibit nyamplung sehingga memberikan pertumbuhan tinggi terbaik. Selain itu, nyamplung juga sudah memiliki mekanisme alami untuk bertahan hidup di lingkungan dengan suhu dan salinitas tinggi. Secara morfologi, daun nyamplung mempunyai ciri yaitu permukaan licin dan mengkilap akibat adanya kutikula lilin.Permukaan daun yang mengkilap selain untuk mengurangi intensitas sinar matahari dan mencegah pengupan yang terlalu tinggi juga dimungkinkan untuk melindungi dari kondisi salinitas yang tinggi. Kandungan air garam tidak mudah masuk ke dalam daun akibat adanya lapisan kutikula lilin tersebut, sehingga proses fotosintesis tidak terganggu.

Penyiraman air laut dengan kadar 75% juga meningkatkan kekokohan bibit nyamplung. Nilai kekokohan diperoleh dari perbandingan antara tinggi tanaman dan diameter batang.

Indonesia masih memiliki banyak garis pantai yang belum dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan kehutanan. Ketahanan bibit nyamplung untuk bertahan hidup pada kondisi salinitas tinggi merupakan peluang untuk memanfaatkan luasnya pesisir pantai Indonesia sekaligus mengoptimalkan potensi sebagai negara penghasil bahan bakar nabati berbasis nyamplung.

Refferensi:
Hani, Aditya. 2011. Pengaruh penyiraman air laut terhadap bibit nyamplung (Calopyllum inophylum L). Tekno Hutan Tanaman 4(2): 79-84.

No comments:

Post a Comment