Thursday, November 16, 2017

Klasifikasi Tipologi Lahan pada Daerah Pasang Surut untuk Pengembangan Pertanian

Peningkatan roduksi hasil pertanian salah satunya dapat dicapai dengan peningkatan luas areal pertanaman. Salah satu lahan yang potensial untuk dikembangkan sebagai sentra pertanian adalah lahan pasang surut. Di Indonesia terdapat lahan pasang surut seluas 20,1 juta ha dan baru sekitar 3-4 juta ha yangsudah direklamasi.

Identifikasi dan karakterisasi tipologi lahan pada daerah pasang surut berguna untuk perencanaan serta pengembangan agar tidak mengalami kegagalan. Beberapa tipologi lahan yang berada di daerah pasang surut adalah:

1. Lahan Sulfat Masam Aktual (SMA)
SMA merupakan tanah yang memiliki pH lapang rendah (<3,5), memiliki horizon sulfurik atau tanda tanda horison sulfurik yang disebabkan teroksidasinya pirit, yang terjadiakibat drainase berlebihan. Lahan SMA umumnya memiliki luapat tipe C/D dan kisi-kisi liat kaan hancur saat pH tanah <3,5. Lahan SMA cocok untuk tanaman yang sudahadaptif seperti galem/purun dan karet.

2. Lahan Sulfat Masam Potensial (SMP)
SMP memiliki pH tanah >3,5 dan akan semakin tinggi selaras dengan kedalaman tanah. SMP memiliki pirit pada kedalaman hingga 100 cm. SMP memiliki luapan lahan tipe A/B dan harus dijaga agar bahan sulfidik tidak teroksidasi. Lahan SMP sesuai untuk tanaman pangan terutama padi sawah untuk tipe luapan A/B dan tipe luapan C/D sesuai untuk tanaman hortikultura dan perkebunan. 

3. Lahan Aluvial Bersulfida Dangkal Bergambut (HSM)
HSM berupa tanah tanah mineral yang memiliki pirit hingga kedalaman 50 cm dan kedalaman gambut 20-50 cm serta memiliki tipe luapan A. Tanaman yang sesuai untuk lahan HSM adalah padi sawah.

Monday, November 13, 2017

Karakteristik Tanah Andosol

Kesesuaian lahan dan potensi lahan berperan penting dalam pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan. Salah satu komponen dalam analisis kesesuaian lahan dan potensi lahan adalah jenis tanah. Terdapat beragam jenis tanah dengan masing-masing karakteristik termasuk dalam hubungannya dengan jenis komoditas yang sesuai dan cara perlakuan tanah tersebut.

Salah satu jenis tanah yang paling potensial untuk pengembangan pertanian (komoditas pertanian) di Indonesia adalah Andosol.

Dalam sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah, Andosol dikenal sebagai Andisol. Andosol memiliki epipedon histik dan sifat andik, memiliki kompleks pertukaran yang didominasi oleh bahan amorf, serta bobot isi kurang dari 0,85g/cm kubik.

Andosol merupakan tanah yang berkembang dari abu vulkan dan memiliki ciri kandungan mineral liat alofan yang tinggi. Tanah dengan alofan tinggi memiliki sifat diantaranya lapisan atas gembur, terdapat lapisan permukaan yang hitam (gelap) serta terdiri dari senyawa humik yang tahan dekomposisi mikroorganisme, perkembangan struktur tanah baik, dan tidak ada sifat lekat ketikalembab dan bila dikeringkan akan sukar basah kembali.

Andosol juga memiliki kemampuan mengikat air yang tinggi, permeabilitas tinggi (sangat gembur) tetapi memiliki derajat ketahanan struktur yang tinggi sehingga mudah diolah. 

Secara kimiawi, andosol memiliki tingkat keasaman masam sampai netral. Kejenuhan basa sekitar 20-40 %m, KTK 20-30 me.100 g dan kandungan bahan organik pada lapisan atas 5-20%. Andosol terbentuk baik di dataran redah maupun di lereng-lereng guung sampai ketinggian 2000 m diatas permukaan laut. 

Yuliana, Nia. 2002. Analisis Penggunaan Lahan dan Usahatani Komoditas Hortikultura pada Tanah Andosol. Institut Pertanian Bogor, Skripsi.

Sunday, November 12, 2017

Dormansi biji dan Perlakuan Perbaikan Perkecembahan pada Sorgum Pakan Ternak

Pada setiap kegiatan budidaya tanaman, ketersediaan benih yang berkualitas dan siap untuk tumbuh menjadi hal yang mutlak diperlukan. Salah satu kendala ketersediaan benih yang siap tumbuh karena adanya dormanis dari benih yang akan ditanam. Secara alami, terdapat beberapa tanaman yang memiliki masa dormansi sebelum bijinya bisa siap kembali ditanam.

Dormansi adalah mekanisme pertahanan alami dari suatu spesies tanaman untuk dapat bertahan hidup saat lingkungan tumbuh tidak optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Biji sorgum merupakan salah satu biji yang memiliki masa dormansi sehingga tidak dapat tumbuh segera setelah dipanen. Dibutuhkan waktu tertentu bagi biji sorgum untuk dapat siap tanam dan siap tumbuh. 

Pemecahan dormansi dibutuhkan untuk menyediakan bahan tanam segera setelah biji sorgum dipanen. Terdapat beberapa teknik untuk mematahkan dormanis biji diantaranya dengan menggunakan zat pengatur tumbuh atau pelukaan menggunakan asam sulfat, dan dapat juga dengan menggunakan kombiasi keduanya.

Monday, November 6, 2017

Hama pada Tanaman Talas

Pengendalian organisme pengganggu tanaman merupakan hal yang mutlak diakukan agar budidaya tanaman dapat memberikan hasil yang optimal. Dalam budidaya tanaman talas, organisme pengganggu tanaman dapat berasal dari golongan hama, patogen penyakit, dan gulma. Berikut adalah beberapa hama dan penyakit yang sering dijumpai dan menyerang tanaman talas beserta cara pengendaliannya.

1. Aphis gossypii
Merusak tanaman talas dengan cara menghisap cairan yang berada di daun. Aphis dapat mengeluarkan cairan madu yang juga menarik semut. Tanaman yang terserang Aphis memiliki daun yang kering dan sedikit keriting. Selain menyerang talas, Aphis juga menyerang melon, timun, labu-labu an, dan kapas. Aphis dapat dikendalikan menggunakan insektisida berbahan aktif carbaryl, diazinon dimetoat, dan malation.

2. Ulat Heppotion calerino
Ulat berukuran besar yang memakan helai daun tanaman talas. pada populasi besar dapat juga memakan pelepah daun dan tanaman menjadi gundul. Dapat dikendalikan secara fisik dengan cara mengambil ulat tersebut dan melakukan pembajakan tanah karena kepompong ulat berada di dalam tanah. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan insektisida berbahan aktif carbaryl terhadap lahan dengan tingkat serangan 50%.

3. Serangga Agrius convolvuli
Ulat berukuran besar yang memakan helai daun tanaman talas. Pada populasi besar dapat juga memakan pelepah daun dan tanaman menjadi gundul. Dapat dikendalikan secara fisik dengan cara mengambil ulat tersebut dan melakukan pembajakan tanah karena kepompong ulat berada di dalam tanah. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan insektisida berbahan aktif carbaryl 0,2% pada ulat yang masih kecil.

Thursday, October 12, 2017

Pemeliharaan Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott)

Pemeliharaan tanaman dilakukan untuk menyediakan kondisi yang ideal untuk pertumbuhan tanaman. Dalam budidaya tanaman talas, pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan, pemupukan, dan pengairan.

Penyiangan dan pembumbunan
Peyiangan dilakukan sejak tanaman bermur 1 miinggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan dengan tujuan mengendalikan atau bahkan menghilangkan gulma agar tidak berkompetisi dengan tanaman talas dalam mendapatkan air, nutrisi, ruang tumbuh, dan sinar matahari. Penyiangan juga dilakukan untuk memudahkan teknis perawatan yang lain. Pembumbunan dilakukan dengan menutup pangkal batang dan akar dengan tanah agar tanaman lebih kokoh dan tahan terhadap terpaan angin. Pembumbunan juga dilakukan untuk menyediakan ruang tumbuh yang lebih besar sehingga hasil umbinya juga lebih besar.

Pemupukan
Pemupukan dilakukan sebanyak 4 kali. Pupuk dasar diberikan beramaan dengan pengolahan tanah sebelum bibit ditanam. Pupuk dasar berupa pupuk kandang dengan takaran 1 ton/ha. Pemupukan kedua diberikan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Pupuk yang diberikan berupa 100 kg urea/ha dan 50 kg TSP/ha. Pemupukan diberikan dengan membuat lubang pupuk di samping tanaman berjarak 3 cm. Pemupukan ketiga dan keempat dilakukan saat tanaman berumur 3 bulan dan 5 bulan masing-masing mengguanakan urea sebanyak 100 kg/ha. Aplikasi dilakukan dengan membuat larikan disamping tanaman sejauh 7 cm pada pemupukan ketiga dan 10 cm pada pemupukan keempat.

Pengairan
Talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Lingkungan tumbuh yang kurang air menyebabkan tanaman talas tidak mampu menhasilkan umbidengan optimal dan bahkan mungkin menyebabkan kematian pada tanaman talas. Pengairan dilakukan dengan sistem penggenangan pada bedengan dan segera diatuskan segera setelah tanah menggenang. 

Saturday, September 30, 2017

Pengolahan Tanah dan Penanaman Talas

Dalam budidaya tanaman talas, pengolahan tanah perlu dilakukan untuk menciptakan kondisi lahan yang sesuai untuk pertanaman talas. Umumnya, talas ditanam setelah pertanaman padi atau pertanaman sayuran. Perlakuan pengolahan tanah untuk pertanaman talas setelah padi berbeda dengan yang setelah sayuran.

Pengolahan tanah setelah pertanaman padi dimulai dengan pembabatan jerami. Jerami selanjutnya dikumpulkan kemudian dibakar. Tanah dibiarkan beberapa hari, dicangkul, dihaluskan, lalu dibuat bedengan dan diberi pupuk dasar. Pengolahan tanah setelah tanaman sayuran dimulai dengan penyiangan gulma, pencangkulan dan penghalusan tanah, pembuatan bedengan, dan pemupukan dasar.

Bedengan dibuat dengan lebar 1,2 meter dan panjang menyesuaikan panjang lahan. Untuk tanah yang masam, perlu diberi kapur dengan takaran 1 ton/Ha.Untuk tanah ber-pH normal cukup diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang. 

Talas umumnya ditanam dengan jarak 74 x 75 dan kedalaman 30 cm atau sesuai dengan keadaan lahan dan musim penanaman. Penanaman di lahan sawah menggunakan jarak tanam yang lebih rapat ketika ditanam di musim kemarau. Intensitas dan durasi penyinaran yang lama pada musim kemarau cukup untuk menguapkana air di sekitar pertanaman talas sehingga kelembaban udara di sekitar pertanaman talas menjadi optmal. Jarak tanam yang rapat pada musim penghujan kurang tepat karena akan menciptakan kondisi kelembaban yang terlalu tinggi sehingga lebih rentan terserang organisme pengganggu tanaman penyebab penyakit. 

Penanaman dilakukan dengan cara meletakkan bibit talas tepat di tengah lubang dengan posisi tegak lurus. Lubang kemudian ditutup dengan tanah sampai batang talas tidak rebah (sekitar 7 cm). Sisa lubang kemudian ditutup dengan menggunakan pupuk kandang atau kompos. 

Refferensi:
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas. 

Wednesday, September 27, 2017

Budidaya Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott).

Talas memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Talas mengandung karbohidrat yang tinggi, protein,dan vitamin sehingga dapat digunakan sebagai makanan pokok pengganti beras. Talas juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena hampir semua organnya dapat dimanfaatkan. Selain kedua hal tersebut, potensi pengembangan talas didukung oleh kemudahan budidaya tanaman talas. 

berikut adalah tahapan budidaya tanaman talas.

Lokasi penanaman menentukan keberhasilan budidaya tanaman talas. Lokasi penanaman dipilih berdasarkan persyaratan tumbuh tanaman talas. Lokasi penanaman yang sudah sesuai dengan syaratu tumbuh tanaman hanya sedikit membutuhkan modifikasi sehingga terjadi efisiensi biaya. 

Bibit yang baik akan menghasilkan tanaman dan panenan yang baik. Asal bibit tanaman talas dapat diperoleh dari potongan umbi atau juga dari anakan tanaman. 

Secara umum, talas ditanam pada bedengan bedengan dengan maksud tetap mendapatkan suplai air tanpa membuat tanaman talas tergenang. Talas ditanam dengan jarak tanam 75 x 75 dan ditanam pada musim penghujan.

d. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman ada budidaya tanaman talas meliputi penyiangan dan pembumbunan, pemupukan, serta pengairan dan penyiraman.

e. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
Pengendalian organisme pengganggu tanaman dilakukan secara manual, fisik, kimiawi, dan biologi. Pengendalian organisme pengganggu tanaman diakukan segera setelah populasi haa atau gejala penyakit sudah berada di atas ambang batas ekonomi.

f. Panen
Talas dipanen setelah berumur 6-9 bulan. Panen dilakukan dengan mencabut pohon talas beserta umbinya. 

Refferensi: 
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas. 

Saturday, September 23, 2017

Pembibitan Tanaman Talas

Pembibitan merupakan salah satu penentu keberhasilan budidaya tanaman talas. Bahan tanam untuk budidaya tanaman talas dapat berasal dari umbi atau juga dari tunas anakan. Untuk bibit yang berasal dari tunas anakan, dipilih tunas anakan yang berasal dari talas yang berumur 5-7 bulan (tunas kedua dan ketiga). Untuk bibit yang berasal dari umbi, dipilih bagian umbi yang dekat dengan titik tumbuh.

Bibit yang berasal dari anakan sebelumnya dipishkan terlebih dahulu dari indukannya kemudian disimpan di tempat lembab baru kemudian dapat ditanam ketika musim tanam tiba. Bibit dari umbi diperoleh dengan cara mengiris bagian umbi dengan minimal satu mata tunas. Umbi yang telah diiris dikeringanginkan dan dilapisi abu ketika hendak disemaikan.

Bibit yang berasal dari tunas anakan dapat langsung ditanam di lahan pertanaman sedangkan bibit yang berasal dari umbi harus disemaikan terlebih dahulu hingga memiliki 2-3 helai daun sebelum dapat dipindahkan ke lahan pertanaman. 

Refferensi: 

Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas.

Tuesday, August 22, 2017

Syarat Tumbuh Tanaman Talas

Kesesuaia lahan menjadi hal yang perlu diperhatikan dan dipenuhi dalam sebuah usaha budidaya tanaman yang intensif. Dalam budidaya tanaman talas, lahan yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman dan diikuti oleh teknis budidaya yang tepat akan mengoptimalkan pertumbuhan, perkembangan, dan hasil tanaman talas. Berikut adalah persyaratan kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan budidaya tanaman talas. 

a. Iklim 
Secara umum, talas mampu tumbuh dan berkembang baik padaiklim tropis dan sub tropis. Talas dapat dibudidayakan di lingkungan dengan curah hujan tinggi ataupun juga curah hujan rendah. Curah hujan yang optimal untuk pertumbuhan talas adalah 175 cm per tahun. Talas membutuhkan penyinaran penuh selama pertumbuhan dengan suhu 25-30 dan kelembaban tinggi. 

b. Media tanam 
Talas dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti lempung yang bebas air tanah, tanah vulkanik, andosol, dan latosol. Talas tumbuh baik pada tanah dengan drainase baik dengan tingkat keasaman 5,5-6,5. Tanah bergambut juga sesuai untuk pertumbuhan talas asa diberi kapur terlebih dahulu sebanyak 1 ton/Ha. 

c. Ketinggian tempat 
Talas dapat tumbuh pada ketinggian 0-1300 mdpl. Di indonesia, talas dapat tumbuh di daerah pantai sampai dengan pegunungan dengan ketinggian 2000 mdpl. Semakin tinggi ketinggian tempat maka umur panen juga kana semakin panjang. 

Refferensi: 
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas. 

Saturday, August 12, 2017

Sejarah, Jenis, dan Manfaat Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott)

Sejarah Singkat
Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk suku talas-talasan (Araceae) yang memiliki sosok tegak, tinggi 1 meter atau lebih dan merupakan tanaman semusim tetapi dapat tumbuh sepanjang tahun. Talas memiliki beberapa nama seperti Taro, Old cocyam, dash(e)en dan eddo (e). Di beberapa negara, talas juga memiliki nama masing-masing seperti abalong (Filipina), taioba (Brazil), arvi (India), keladi (Malaysia),saitomo (Jepang), tayoba (Spanyol) dan yu tao (China). 

Talas berasal dari Asia Tenggara dan menyebar ke China pada abad pertama, ke Jepang, ke Asia Tenggara lain dan ke beberapa pulau di samudra pasifik terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia dijumpai di hampir seluruh wilayah Indonesia tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 100 mdpl. 

Morfologi dan Jenis Talas
Talas memiliki sistem perakaran serabut dan pendek. Umbi dapat mencapai 4 kg atau lebih, berbentuk silinder atau bulat, memiliki ukuran 30 x 15 cm dan berwarna coklat. Talas memiliki daun berbentuk perisai atau hati denga ukuran 20-50 cm, tangkai berukuran 1m dengan warna pelepah yang bermacam-macam. Bunga jantan dan bunga betina terpisah dengan posisibunga jantan lebih di atas. Buah bertipe buah buni dengan biji berjumlah banyak, berbentuk bulat telur, dan berukuran 2 mm. 

Friday, August 11, 2017

Konsumsi Jagung sebagai Pemenuh Kebutuhan Karbohidrat

Program-program yang dilakukan pemerintah untuk dapat swasembada beras secara tidak langsung menggeser pola konsumsi sumber karbohidrat masyarakat. Sumber karbohhidrat dimonopoli beras bahkan oleh masyarakat yang sebelumnya tidak pernah mengkonsumsi nasi untuk sumber utama karbohidratnya. Bahkan sampai ada istilah bahwa belum makan kalau belum mengkonsumsi nasi. 
Sesuatu yang biasa, wajar, dan akan baik-baik saja ketika ketersediaan beras berada di atas tingkat kebutuhan. Namun menjadi potensi masalah yang besar ketika ketersediaan beras menjadi langka di tengah masyarakat. Potensi kerawanan pangan cukup tinggi ketika hanya mngandalkan satu komoditas sebagai sumber makanan pokok. 

Salah satu cara meminimalisir atau bahkan menghilangkan potensi kerawanan tersebut adalah dengan melakukan diversifikasi sumber karbohidrat. Perlu dicari, dipraktikkan, dan dikampanyekan pengkonsumsian sumber karbohidrat selain nasi. Jagung merupakan salah satu alternatifnya. 

Dari sisi kesesuaian lahan, jagung merupakan tanaman yang toleran dan tahan untuk ditanam di lahan marginal (kering). Banyak daerah di Indonesia yang sesuai untuk pertanaman dan pengembangan komoditas jagung. Beberapa daerah tersebut adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, Sumatra bagian selatan, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. 

Monday, July 3, 2017

Tahapan Pembungaan Mawar Hijau (Rosa x odorata “viridiflora”)

Tanaman mawar hijau (Rosa x odorata “viridiflora”) merupakan persilangan antara Rosa chinensis dengan Rosa gigantea. Mawari hijau memiliki sosok tanaman berupa semak, batang berduri, daun hijau dengan anak daun sebanyak 3-5 berbentuk lonjong berukuran panjang 4-6 cm, bunga muncul pada ranting kecil, membentuk roset dengan bunga tumpuk diameter 4-5 cm,berwarna hijau, dan kelopak bunga menyerupai bentuk mahkotanya.

Pertumbuhan dan perkembangan bunga mawar hijau dimulai dari kuncup (seluruh bagian bunga terbungkus kelopak) sampai dengan berakhirnya pembungaan (seluruh mahkota bunga gugur) dan berlangsung selama 75 hari. Perkembangan kuncup bunga sampai dengan menjadi bunga dibagi menjadi 4 tahapan.

Tahap pertama: kuncup.
Bunga masih berbentuk kuncup dan merupakan tahap perlindungan proses pembungaan. Seluruh bagian bunga masih tertutup oleh kelopak bunga dengan bulu bulu yang halus. Sekilas tahapan ini hanya terlihat seperti tunas dengan bagian ujung meruncing. Panjang kucup sekitar 1-1,5 cm dan lebarnya 0,3-0,5 cm. Tahap kuncup berlangsung selama 14 hari.

Tahap kedua: Penggembungan kuncup
Kuncup mulai berkembang dengan normal. Kelopak bunga pecah, membuka dan berwarna hijau. Tajuk bunga terlihat dengan jelas dan berwarna hijau. Kuncup menggelembung dengan ukuran panjang 2,5-3 cm dan lebar 0,7-1 cm. Penggembungan kuncup berlangsung selama 19 hari. Pada tahapan ini mulai terbentuk organ reproduksi. Benang sari memiliki tangkai sari berwarna kekuningan dengan pangang 0,5 cm dan terbungkus lembaran tajuk berwarna kunig kecoklatan. Secara morfologi, kuncup berwarna hijau dengan bagian kelopak sudah membuka dan terjuntai.

Tuesday, June 13, 2017

Penanganan Pasca Panen yang Tepat untuk Mempertahankan Mutu Buah dan Sayuran

Permasalahan pengembangan agribisnis buah dan sayur salah satunya adalah kehilangan hasil yang tinggi setelah komoditas dipanen. Kehilangan hasil baik karena susut bobot ataupun kerusakan-kerusakan pada buah dan sayur dapat mencapai 25-40%, nilai yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju. 
Penanganan dan perlakuan pascapanen yang tepat selain dapat meminimalisir kehilangan hasil komoditasbuah dan sayur setelah dipanen juga dapat mempertahankan mutu buah dan sayur. Beberapa penanganan pascapanen yang umum dilakukan adalah pencucian, perbaikan bentuk kulit (curing), sortasi, penghilangan warna hijau (degreening), pengemasan, dan pendinginan. 

Pencucian 
Pencuciadilakukan dengan tujuan menghilangkan kontaminasi kotoran baik secara fisik, kimia, ataupun biologi. Pencucian tidak dilakukan pada sayuran yang teksturnya lunak dan mudah rusak. Pencucian

Sunday, June 11, 2017

Akibat Kekeringan pada Berbagai Fase Pertumbuhan Kedelai

Ketersediaan air menjadi hal yang mutlak untuk mendukung optimasi produktivitas tanaman kedelai. Cekaman kekeringan pada tanaman kedelai secara umum dapat menghambat pertumbuhan tanaman yang akhirnya berdampak pada berkurangnya hasil panen. Secara spesifik, cekaman kekeringan di setiap fase pertumbuhan tanaman kedelai memiliki dampak yang berbeda. 

Cekaman kekeringan pada awal fase pembungaan menyebabkan berkurangnya hasil panen sebesar hingga 10%. Cekaman kekeringan pada awal fase pembunggan menyebabkan kerontokan pada polong bagian bawah. 

Cekaman kekeringan pada saat pembungaan menyebabkan kerontokan bunga, cekaman kekeringan pada saat pembentukan polong menyebabkan turunnya jumlah polong yang terbentuk dan juga kerontokan polong, cekaman kekeringan pada fase pengisian polong menyebabkan menurunnya jumlah polong isi dan ukuran biji. 

Cekaman kekeringan mengubah konsentrasi ABA pada tanaman yang pada akhirnya mendorong kerontoka polong dan menurunkan pembentukan polong hingga 40% serta menurunkan ukuran biji. Cekaman kekeringan disetiap stadia pertumbuhan kedelai dapat menurunkan hasil biji. Namun cekaman kekeringan pada fase pengisian polong mengakibatkan penurunan hasil biji yang paling besar. Cekaman kekeringan pada fase pengisia polong menyebabkan penurunan jumlah polong, biji per tanaman, bobot biji, dan keseluruhan hasil. 

Cekaman kekeringan pada tanaman kedelai hingga berumur 45 hari dapat menurunkan produksi rata-rata hingga 63%. 

Purwanto dan Agustono T., 2010. Kajian fisiologis tanaman kedelai pada berbagai kepadatan gulma teki dalam kondisi cekaman kekeringan. Jurnal Agroland 17(2): 85-90.

Pengaruh Kepadatan Gulma Teki pada Kondisi Cekaman Kekeringan terhadap Sifat Fisiologis Kedelai

Upaya peningkatan produksi kedelai salah satunya dilkaukan dengan cara perluasan areal tanam. Mengacu pada ketersediaan lahan untuk pertanaman kedelai, sebagian besar lahan yang tersedia adalah lahan kering. Selain faktor ketersediaan air yang rendah pada lahan kering, keberadaan gulma, utamanya teki merupakan salah satu kendala utama. 

Dalam kaitannya dengan ketersediaan air, cekaman kekeringan pada berbagai fase pertumbuhan kedelai mengakibatkan berkurangnya hasil panen. Keberadaan gulmajuga dapat menurunkan hasil panen akibat adanya persaingan antara kedelai dengan gulma untuk mendapatkan cahaya, air, nutrisi, karbondioksida, dan ruang hidup. 

Luas Daun 
Rerata luas daun kedelai turun sebesar 35,7 % pada lingkungan dengan kadar air 60% serta dengan keberadaan teki sebanyak 5 umbi di sekitar pertanaman kedelai. Luas daun semakin menurun dengan meningkatnya taraf kekeringan dan populasi awal gulma teki. 

Lebar Bukaan Stomata 
Kadar air 60% dan 40% dari kapasitas lapang dapat menurunkan lebar bukaan stomata masing-masing sebesar 33,14 dan 76,61% dibandingkan bukaan stomata pada tanaman kedelai yang berada pada kondisi kapasitas lapang. Kepadatan populasi awal gulma teki 5, 10, 15 dan 20 umbi di sekitar pertanaman dapat mengurangi lebar pembukaan stomata berturut-turut 17,14%, 17,14%, 42,64% dan 65,93% dibanding tanaman kedelai tanpa gulma teki.

Friday, June 9, 2017

Sejarah Controlled Atmosphere Storage (CAS)

Controlled atmosphere storage (CAS) adalah suatu teknologi pengkondisian atmosfer padaruang penyimpanan komoditas hortikultura (buah dan sayuran) untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan bauh dan sayuran segar setelah dipanen.

Pengaruh gas (kondisi atmosfer) pada hasil panen produk hortikultura telah diketahui sejak beberapa abad yang lalu. Pada masa dinasti Tang, sekitar abad ke-8 telah diketahui bahwa lengkeng yang disimpan dalam batang bambu dengan tambahan sedikit daun segar selama pengiriman/transportasi memiliki kualitas yang lebih baik daripada sekedar dikirimkan tanpa wadah bambu dan daun segar.

Pada tahun 1821, Berard melakukan penelitian dan mendapatkan hasil bahwa buah yang disimpan padaruangan tanpa oksigen tidak akan pernah mengalami kemasakan (matang). Tetapi akan segera matang segera setelah disimpan pada udara terbuka.

Tahun 1850 dan 1860 sebuah perusahaan ruang pendingin di Amerika Serikat melakukan uji coba dengan memodifikasi oksigen dan karbondioksida untuk penyimpanan buah apel. Hasil uji coba menunjukkan bahwa apel tetap berada pada kondisi baik sampai dengan 11 bulan penyimpanan, dengan hanya sedikit buah apel yang mengalami kerusakan.

Monday, May 29, 2017

TINGKAT KETUAAN BUAH PEPAYA DAMPIT

Ketuaan buah pepaya waktu panen salah satunya berpengaruh terhadap rasa dan ketahana dalam penyimpanan. Buah pepaya yang disimpan pada tingkat ketuaanbuah optimal memiliki rasa yang paling enak tetapi tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama. Buah yang dipanen sebelum matang optimal memiliki kelebihan disimpan dalam jangka waktu yang lama. 

Dalam sistem agribisnis pepaya yang mensyaratkan distribusi pepaya dari produsenke konsumen, diperlukan pengetahuan akan tingkat ketuaan buah untuk menjaga mutu dan kualitas pepaya tetap baik

Penggolongan tingkat ketuaan buah pepaya Dampit berdasarkan warna merah pada kulit buah adalah sebagai berikut: 

1. Tingkat ketuaan star 1: kulit buah berwarna hijau dengan merah yang samar-samar pada ujung buah, jumlah star satu buah. 

2. Tingkat ketuaan star 2: warna merah pada ujung yang semula samar berubah menjadi jelas. Jumlah star dua buah. 

3. Tingkat ketuaan star 3: warna merah pada ujung buah jelas dan melebar. Jumlah star tiga buah. 

4. Tingkat ketuaan star 4: warna merah pada ujung buah sangat jelas dan melebar. Jumlah star empat buah. 

5. Tingkat ketuaan star 5: warna merah pada ujung buah sangat jelas dan semakin melebar. Jumlah star lima buah. 

Pepaya merupakan buah klimakterik yang tetap dapat matang malaupun sudah dilepaskan dari tanaman (dipanen). Buah dengan tingkat ketuaan star satu dan star dua dapat matang sempurna pada hari ke-4 setelah pemanenandan disimpan pada suhu ruang (28-30 C). 

sumber/refferensi: 
Suyanti. 2011. Teknologi pascapanen untuk meningkatkan mutu buah pepaya.Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian Vol 7 (2). 

Thursday, May 25, 2017

Penanganan Panen dan Pascapanen untuk Mempertahankan Mutu Buah Pepaya (Carica papaya)

Buah pepaya merupakan salah satu buah yang paling banyak dikonsumsi. Harga yang terjangkau, kandungan gizi yang beragam dan tinggi, serta ketersediaannya sepanjang tahun membuat konsumsi pepaya relatif stabil dan bahkan meningkat dari waktu ke waktu. Peluang pengembangan agribisnis buah pepaya salah satunya terkendala oleh kehilangan hasil setelah panen. 

Kehilangan hasil setelah panen umumnya disebebkan oleh penyakit pascapanen, kerusakan mekanis selama penyimpanan dan proses penjualan, serta susut bobot karena adanya metabolisme pada buah setelah dipanen. Di Filipina, kehilangan hasil pepaya sebanyak 20-26% karena busuk, 2-4% karena terlalu matang, dan 10% karena kerusakan mekanis. 

Penanganan panen dan pascapanen yang tepat dapat menekan dan meminimalisir kerusakan dan susut bobot buah. Pengetahuan akan karakteristik buah serta teknik penanganan yang tepat dapat mempertahankan mutu buah pepaya.

Saturday, March 4, 2017

Teknis Budidaya Bawang Merah

Secara umum, teknis budidaya bawang merah hampir sama dengan teknis budidaya tanaman semusim yang lainnya. Beberapa tahapan budidaya tanaman bawang merah diantaranya adalah penyiapan lahan, pengolahan lahan, penyiapan benih dan penanaman, perawatan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, panen, dan penanganan pascapanen. 

1. Penyiapan lahan 
Penyiapanlahan dimaksudkan untuk membersihkan lahan pertanaman dari sisa tanaman, gulma, semak belukar, dan benda atau barang yang tidak mendukung kegiatan budidaya tanaman bawang. Penyiapan lahan dilakukan agar lahan yang tersedia siap untuk diolah. 
penyiraman tanaman bawang merah

Pengolahan tanah adalah mempersiapkan lahan menjadi media yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Lahan yang telah disipakan dengan baik memiliki potensi tinggi untuk memberikan hasil umbi bawang merah yang optimal. Pengolahan lahan meliputi pembalikan tanah, pembuatan bedengan, dan penggemburan. 

Tuesday, February 28, 2017

Penyimpanan dan Packing Bawang Merah

Penyimpanan merupakan salah satu tahapan pascapanen dalam agribisnis bawang merah. Penyimpanan bawang merah dimaksudkan untuk mempertahakan kualitas bawang merah. Ruang penyimpanan dan teknik penyimpanan yang baik dapat memperpanjang umur simpan bawang merah tanpa mengurangi kualitas secara signifikan. Perubahan pada bawang merah setelah dipanen dapat diminimalisir dengan ruang dan teknik penyimpanan yang tepat. 
teknik menyimpan bibit bawang merah

Secara konvensioanl, bawang merah disimpan dalam gudang yang teduh dengan ventilasi yang baik. Disimpan pada suhu 25-30 C dan kelembaban 70-75%. Di dalam gudang, bawang merah ditata di atas rak/ para-para. Rak atau para para harus bersih dan bebas dari patogen penyebab penyakit. Untuk bibit, penyimpanan dilakukan selama 2-3 bulan. Untuk konsumsi, penyimpanan dilakukan maksimal selama 2 bulan. 

Monday, February 27, 2017

Pembersihan, Sortasi, dan Grading Bawang Merah

Dalam agribisnis bawang merah, kegiatan pascapanen sama pentingnya dengan kegiatan budidaya di lahan pertaninan. Kegiatan pascapanen tidak mampu meningkatkan kualitas bawang yang telah dipanen, tetapi kegiatan pascapanendapat memperpanjang umur simpan bawang merah. Bawang merah merupakan tanaman yang mengalami perubahan setelah dipanen. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan penanganan yang tepat untuk meminimalisir kerusakan setelah bawang dipanen. 
pembersihan dan sortasi bawang merah

Pembersihan dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada bawang merah. Selain untuk memastikan agar umbi bersih dan bebas dari penyakit, pembersihan juga berfungsi agar penampakan umbi lebih menarik. 

Beberapa yang perlu dilakukan dantaranya: 
  1. Memotong bagian akar menggunkaan pisau kecil ataupun alat potong lain 
  2. Menghilangkan kotoran (tanah/kulit umbi kering) dari umbi 
  3. Mengambil daun yang sudah lepas dari umbi 
  4. Memisahkan umbi bawang merah protolan (rogol) 

Tuesday, February 21, 2017

Penanganan Pascapanen Bawang Merah

pengikatan bawang merah
Penanganan pascapanen merupakan tindakan atau serangkaian tindakan yang dilakukan segera setalah bawang merah dipanen. Penanganan pascapanen bertujuan untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa simpan bawang merah (untuk bawang merah yang akan disimpan).

Beberapa tindakan pascapanen yang harus dilakukan untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa simpan diantaranya:

Pengikatan
Tanaman bawang yang dicabut harussegera diikat pada bagian daun. Pegikatan menggunakan tali dari bilah bambu (tutus) atau batang alang-alang agar ikatan tidak mudah lepas serta memudahkan dalam mengencangkan ikatan pada saat penjemuran dilakukan. Bagian yangdiikat adalahbagian pucuk daun (3-5 cm dari ujung daun dengan besar ikatan segenggam atau sekitar 1 kg basah).

Pelayuan (curing)

Curing dilakukan dengan menjemur bawang ikatan di bawah sinar matahari dengan durasi 2-3 hari sampai tanah yang menempel pada umbi dapat mudah dilepaskan. Curing juga bertujuan untuk menutup luka pada umbi bawang yang terjadi pada saat panen.

Monday, February 20, 2017

Pedoman Panen Bawang Merah

Panen merupakan pemungutan hasil tanaman. Dalam budidaya bawang merah, panen adalah pemungutan umbi bawang merah. Panen dilakukan setelah umbi masak secara fisiologis berdasar kondisi dan umur tanaman. 
kegiatan pengumpulan hasil bawang merah

Untuk bawang konsumsi, panen dilakukan setelah tanaman berumur 50-55 hst atau tergantung varietas yang ditanam. Untuk bawang yang akan dijadikan bibit, panen dapat dilakukan pada umur 60-70 hst. Namun, di beberapa daerah, panen untuk bibit justru dilakukan pada umur 55 hari ketika daun masih kuat sehingga memudahkan dalam proses pascapanen dan penyimpanan bawang untuk bibit.

Pemeliharaan Tanaman Bawang Merah

Pemeliharaan tanaman adalah pengkondisian tanaman dan lingkungan agar tanaman dapat tumbuh dan bekembang dengan optimal tanpa menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Pemeliharaan tanaman bawang merah meliputi pengairan, pengendalian gulma, dan pengendalian hama dan penyakit. 
pemeliharaan tanaman bawang dengan penyiraman menggunakan ember air
Bawang merupakan tanaman yang sensitif terhadap keberadaan air. Terlalu banyak air menyebabkan umbi tidak berkembang dan memacu serangan penyakit sementara kekurangan air menyebabkan tanaman tidak dapat berkembang dengan optimal. Pengairan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan air. Setiap jenis tanah membutuhkan teknik pengairan yang berbeda-beda 

  1. Tanah debu berpasir pengairan dilakukan dengan cara dileb (digenangi hingga permukaan air sama dengan permukaan bedengan selama 30 menit), selanjutnya air segera dibuang dari lahan pertanaman bawang. 
  2. Tanah lempung berpasir pengairan dilakukan dengan penyiraman menggunakan ember siram. 

Thursday, February 16, 2017

Panduan Pemupukan Tanaman Bawang Merah

Hara merupakan unsur esensial yang dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pada lahan untuk budidaya tanaman, keberadaan hara umumnya belum mampu memenuhi total kebutuhan tanaman. Cara paling umum untuk menyediakan hara bagi tanaman adalah dengan kegiatan pemupukan.
ara aplikasi pupuk bawang merah dengan disebar

Bawang merah merupakan tanaman yang banyak membutuhkan hara, baik pada masa pertumbuhan vegetatif atau juga saat pembentukan, pembesaran, dan pematangan umbi. Pemupukan harus tepat jenis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat kombinasi. Pemupukan yang tepat dan berimbang selain dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman juga merupakan salah satu cara penting untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan patogen penyebab penyakit pada tanaman bawang merah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemupukan tanaman bawang merah adalah sebagai berikut:
  1. Pupuk yang diberikan harus sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman dan diberikan secara berimbang
  2. Pupuk yang terdiri dari beberapa jenis harus diaduk secara merata (asal bukan bersifat antagonis) dan diberikan secara merata di lahan.
  3. Pupuk diaplikasikan dengan cara disebar di areal pertanaman dengan rata.
  4. Sebelum pemupukan dilakukan, tanah di areal pertanaman harus dibersihkan dari gulma (dilakukan penyiangan).

Tuesday, February 14, 2017

Penyiapan Bibit dan Penanaman pada Budidaya Bawang Merah

Benih/bibit merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya tanaman. Benih/bibit yang baik memiliki potensi hasil yang baik disamping memiliki ketahanan terhadap cekaman, baik cekaman biotik ataupun abiotik. Bibit yang baik adalah yang memiliki daya tumbuh minimal 95%.

Pada budidaya tanaman bawang merah, penanaman umumnya menggunakan bibit. Bibit diperoleh dari umbi bawang yang telah dipanen dan disimpan untuk memecahkan dormansi.
penyimpanan bibit bawang menunggu masa dormansi

Beberapa standar penyiapan bibit yang diperhatikan diantaranya:
  1. Calon bibit merupakan umbi dari tanaman sehat, disimpan dalam keadaan kering, dan masih terdapat daun pada umbi calon bibit.
  2. Berasal dari tanaman yang dipanen minimal 55 hari.
  3. Bibit telah disimpan 2-3 bulan, bernas (keras, tidakkempos) dan berwarna merah.
  4. Umbi memiliki ukuran sedang (1,5-1,8 cm)
  5. Umbi tidak luka dan memiliki penampakan yang bagus serta tidak busuk.
  6. Umbi yang siap tanam dipotong 1/3 bagian ujung untuk memecah dormansi segera setelah akan ditanam.

Monday, February 13, 2017

Pengolahan Lahan dalam Budidaya Tanaman Bawang Merah

Pengolahan lahan merupakan salah satu penentu keberhasilan teknik budidaya bawang merah. Tanah yang terolah dengan baik akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang pada akhirnya dapat megoptimalkan hasil panen. Selain memperbaiki aerasi dan drainase tanah,pengolahan lahan juga berfungsi untuk memutus siklus organisme pengganggu tanaman.
bedengan untuk pertanaman bawang merah
bedengan untuk pertanaman bawang merah
Bawang merah membutuhkan tanah yang gembur untuk dapat memberikan panen yang optimal. Selain gembur, tanah juga harus memiliki drainase yang baik karena bawang merah adalah salah satu tanaman yang rentan pada genangan air. 

Standar dan teknik pengolahan tanah pada budidaya bawang merah adalah. 

1. Pembalikan tanah 
Pembalikan tanah dilakukan dengan tujuan memecah kapiler tanah dan memperbaiki aerasi tanah. Lahan dicangkul atau dibajak dengan kedalaman 20-30 cm. Rumput dan sisa tanaman yang lunak dapat dibiarkan dan dicampur dengan tanah hingga membusuk sehingga menjadi tambahan bahan organik. 

Tanah yang sudah dbalik dibiarkan terkena sinar matahari selama 2 minggu dengan tujuan mematikan patogen penyebab penyakit serta menyediakan udara yang baik untuk tanah. Setelah dua minggu, tanah yang sudah dibalik ditambah dengan mikroba dekomposer dengan takaran 5 liter/ha. Tujuan pemberian dekomposer adalah untuk memperepat dekomposisi bahan organik, melarutkan sisa pupuk anorganik (khususnya P), meningkatkan porositas tanah, dan meningkatkan penyerapan hara oleh tanaman.

Sunday, February 12, 2017

Pengenalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman pada Bawang Merah yang Ramah Lingkungan

Bawang merah merupakan salah satu komoditas pertanaian, khususnya tanaman sayuran yang bernilai tinggi, baik dari sisi ekonomi ataupun berkaitan langsung dengan pengembangan masyarakat tani. Bawang merah memberikan nilai ekonomi tinggi pada petani dan berdampak baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap pengembangan suatu wilayah. 

Salah satu kendala dalam pengembangan agribisnis bawang merah adalah keberadaan organisme pengganggu tanaman pada bawang merah. Serangan opt pada budidaya bawang merah menurunkan kualitas dankuantitas produksi bawang merah. Penurunan produksi pada bawang merah akibat serangan OPT bahkan dapat mencapai lebih dari 90%.
gejala penyakit moller
Pengendalian dengan pendekatan kimiawi dalam jangka pendek dapat terlihat langsung hasilnya. Namun, dalam jangka panjang justru menjadikan OPT tahan dan berdampak pada semakin tinggi akibat kerusakan dan penurunan hasil yang didapatkan. Selanjutnya, pengendalian menggunakanpendekatan yang lebih ramah lingkungan dengan berprinsip pada pengendalian dan pengelolaan hama dan organisme pengganggu tanaman secara terpadu.

Saturday, February 11, 2017

Pengendalian Penyakit Mosaik pada Tanaman Bawang Merah

Mosaik merupakan salah satu penyakit pada tanaman bawang merah. Penyakit mosaik disebabkan oleh onion yellow dwarf virus (oydv). Penularan dapat melalui umbi yang dipanen dari tanaman yang sakit. Penularan dapat lintas generasi. Virus dapat hidup terus menerus dari musim ke musim dalam bawang yang telah terinfeksi.
gejala penyakit mozaik pada bawang merah

Penyakit ditandai dengan tanaman yang tumbuh kerdil, bentuk daun lebih kecil jika dibandingkan dengan tanaman yang sehat. Warna daun menjadi belang hijau pucat sampai bergaris kekuningan, seringkali disertai dengan pertumbuhan daun yang berpilin, sehingga tanaman nampak menjadi kerdil walaupun tidak mengalami pemendekan 

Pengendalian 

1. Penanaman umbi yang bebas virus dan ditanam di daerah bebas virusyang letaknya jauh dari sumber penyakit. 

2. Eradikasi tanaman yang menunjukkan gejala serangan 

Sumber: Dirjen Hortikultura. 2015. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT Ramah Lingkungan pada Bawang Merah.

Thursday, February 9, 2017

Pengendalian Penyakit Embun Bulu pada Tanaman Bawang Merah

Embun bulu disebut juga dengan penyakit tepung palsu (downy mildew). Embun bulu disebabkan oleh cendawan/jamur Peronospora destructor (Berk) Casp. Embun bulu merupakan penyakit yang dapat menular melalui udara, benih, dan tanah, khususnya padalahan yang drainasenya buruk. 
serangan embun bulu pada tanaman bawang merah
Serangan dapat bersifat sistemik dan juga dapat berskala lokal. Infeksi pada awal pertumbuhan tidak menyebabkan tanaman mati, tetapi tanaman akan terhambat pertumbuhannya serta daun menjadi berwarna hijau pucat. Infeksi pada daun akan mencapai umbi, menjalar ke semua lapisan umbi dan menyebabkan umbi menjadi berwarna coklat. Serangan berat menyebabkan umbi membusuk, daun menguning, layu serta umbi akan diliputi oleh miselium yang berwarna hitam.


Pengendalian 

1. Mencegah menanam bawang merah di sekitar areal pertanaman sekitar serangan atau lahan bekas terserang. 

2. Mengadakan pergiliran tanaman selama tiga tahun pada lahan bekas serangan embun bulu

Wednesday, February 8, 2017

Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Bawang Merah yang Ramah Lingkungan

Layu fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum. Penyakit layu fusariun dapat ditularkan melalui umbi bibit, udara, tanah, dan air. Infeksidi lahan pertanaman dimulai dari akar, kemudian menyebar ke umbi lalu daun. 
penyakit layu fusarium pada bawang merah

Gejala ditandai dengan adanya daun yang menguning, terpelintir, kemudian layu. Tanaman akan sangat mudah dicabut akibat akar yang sudah rusak dan tidak berkembang. Penyakit yang dibawa umbi akan segera terihat gejalanya saat tanaman berumur 7-17 hari setelah tanam. Jika terinfeksi melalui tanah, gejala serangan baru terlihat setelah tanaman berumur 30 hari. Layu fusarium menyerang sporadis pada hamparan lahan yang luas dan akan menjadi sangat sulit diatasi saat serangan sudah berat. 

Pengendalian 
1. Menggunakan varietas yang tahan seperti Bauji, Filipine, atau Sumenep. 

2. Menggunakan bibit umbi yang sehat, kompak, tidak terkelupas.

Tuesday, February 7, 2017

Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Bawang Merah yang Ramah Lingkungan

Antaknosa merupakan salah satu penyakit pada bawang merah yang disebabkan oleh cendawan/jamur Colletotricum gloesporioides. Antraknosa disebut juga dengan istilah penyakit otomatis karena tanaman yang terserang otomatis akan mati mendadak, cepat, dan serentak.
gejala penyakit antraknosa bawang merah

Serangan ditandai degan adanya bercak berwarna putih pada daun. Selanjutnya, terdapat lekukan, lubang, dan patah terkulai tepat pada bercak tersebut. Pada kondisi lingkungan yang lembab atau pada saat musim hujan, jamur berkembang dengan cepat dan membentuk miselia yang tumbuh menjalar di permukaan daun. Miselia menembus sampai ke umbi, menyebar ke permukaan tanah, dan menjadikan permukaan tanah berwarna keputihan. Umbi yang telah terserang akan busuk kemudian daun menjadi kering. 

Seringkali terdapat hamparan pertanaman yang botak-botak karena adanya serangan antraknosa yang sporadis. 

Pengendalian 

1. Waktu tanam yang tepat, yaitu pada saat musim kemarau. 

2. Menanam varietas yang tahan seperti varietas Sumenep 

3. Perlakuan benihsebelum tanam dengan mencelupkan bibit umbi maksimal 3 menit dalam larutan PGPR dengan dosis 10ml/liter air. 

4. Mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang 

5. Penggunaan pupuk yang berimbang seperti mengurangi penggunaan N pada musim penghujan karena N yang berlebih menyebabkan tanaman menjadi sukulen dan rentan terserang hama dan organisme yang menyebabkan penyakit. 

6. Penggunaan pestisida nabati seperti daun dan biji nimba. 

Sumber: Dirjen Hortikultura. 2015. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT Ramah Lingkungan pada Bawang Merah. 

Wednesday, February 1, 2017

Pengendalian Penyakit Bercak Ungu/Trotol pada Tanaman Bawang Merah

Bercak ungu merupakan penyakit pada bawang merah yang disebabkan oleh cendawan Alternaria porri. Secara umum, bercak ungu menyerang pada musim penghujan, walaupun pada beberapa kasus terdapat serangan pada musim kemarau. Penyebaran terjadi dengan media angin. Infeksi terjadi melalui mulut daun dan luka pada permukaan daun. 
gejala serangan bercak ungu/ trotol pada bawang merah

Gejala penyakit 
Pada daun terdapat bercak melekuk berwarna putih/kelabu. Pada serangan lanjut,bercak menjadi berwarna keunguan dan melingkar membentuk cincin dengan tepi agak kemerahan atau keunguan yang dikelilingi zona berwarna kuning. Pada saat cuaca lembab, permukaan tertutup oleh konidium cendawan yang berwarna coklat atau hitam. Ujung daun yang terserangakan menjadi kering. 

Pengendalian 
1. Waktu tanam yang tepat yaitu penanaman pada musim kemarau 

2. Menggunakan varietas yang tahan seperti thailand dan bauji 

3. Pemupukan dan pengairan yang tepat dan seimbang. Nitrogen yang berlebih pada musim penghujan akan meningkatkan serangan Alternaria porri. 

4. Melakukan penyiraman segera setelah turun hujan. Penyiraman akan mencuci konidium yang menempel pada daun bersama percikan air hujan. Sisa air hujan merupakan salah satu media paling baik untuk perkembangan cendawan dan percikan tanah dapat menimbulkan luka pada daun. 

5. Mengurangi kerapatan tanaman menjadi 20 x 15 cm dengan tinggi bedengan 50 cm. 

6. Rotasi tanaman dengan tanaman dari keluarga selain Allium 

7. Perlakuan benihsebelum tanam dengan mencelupkan bibit umbi maksimal 3 menit dalam larutan PGPR dengan dosis 10ml/liter air. 

Sumber: Dirjen Hortikultura. 2015. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT Ramah Lingkungan pada Bawang Merah. 

Thursday, January 26, 2017

Pengendalian Orong-orong/ Anjing Tanah (Gryllotalpa) pada Bawang Merah yang Ramah Lingkungan

Orong-orong banyak dan hanya umum dijumpai di pertanaman bawang merah pada musim tanam kedua dan saat tanaman berumur 1-2 minggu setelah tanam. Serangan ditandai dengan adanya tanaman yang layu. Pelayuan disebabkan oleh adanya akar yang rusak. Pada beberapa kasus, terdapat lubang yang tidak beraturan pada umbi bawang merah.
anjing tanah / orong-orong hama tanaman bawang merah
Pengendalian

1. Penggunaan pupuk kandang yang telah matang dan menjaga kebersihan lahan (sanitasi) lahan pertanaman dari gulma.

2. Pemasangan umpan beracun yang diformulasikan dari 10kg dedak dicampur dengan 10 ml insektisida yang dianjurkan. Formulasi disebar pada bedengan pertanaman bawang merah pada waktu sore hari.

3. Pemanfaatan musuh alami seperti predator Labidura riparia, parasitoid Neoathrombium gryllotalpae, dan patogen serangga Beauveria bassiana.

Sumber: Dirjen Hortikultura. 2015. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT Ramah Lingkungan pada Bawang Merah.

Thursday, January 19, 2017

Pengendalian Trips (Thrips tabaci) pada Bawang Merah yang Ramah Lingkungan

Pada umumnya, trips menyerang pada musim kemarau dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi. Pada kondisi lahan yang kekeringan, serangan akan meningkat dengan cepat. Trips dewasa berukuran 1 mm dengan sayap yang berjumbai seperti sisir.

Gejala serangan dapat diidentifikasi dengan adanya noda berwarna putih mengkilat seperti perak yang terdapat pada daun. Noda berubah menjadi coklat dengan bintik bintik berwarna hitam jika berkomplikasi dengan penyakit lain. Pada serangan yang berat, daun seluruhnya akan berwarna putih. Berkaitan dengan hal tersebut, hama trips sering disebut sebagai hama putih.
biologi thrips tabaci, serangan thrips tabaci padabawang merah
Beberapa cara pengendalian trips yang ramah lingkungan adalah:

1. Penyiraman tanaman pada siang hari. Penyiraman ini bertujuan menurunkan suhu di sekitar pertanaman dan menghilangkan nimfa trips yang masih menempal pada daun.
2. Penggunaan mulsa perak yang dapat memantulkan cahaya sehingga menghalau trips pada waktu terbang.

Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera litura) pada Bawang Merah yang Ramah Lingkungan

Ngengat dari ulat grayak berwarna agak gelap dengan garis putih pada bagian sayap depan. Sayap belakang berwarna putih dengan bercak hitam. Ngengat betina mampu menghasilkan telur sebanyak 2000-3000 butir. Telur diletakkan menggerombol sebanyak kurang lebh 350 per kelompok. Telur berbulu halus seperti beludru.
akibat serangan ulat grayak pada bawang merah
Warna ulat bervariasi, terdapat bercak hitam melingkar yang menyerupai kalung pada segmen abdomen keempat dan kesepuluh. Terdapat garis kuning pada sisilateral dan dorsal. Kepompong terdapat di dalam tanah.

Friday, January 13, 2017

Perangkap Lalat Penggorok Daun Bawang Merah

Perangkap merupakan salah satu cara pengendalian lalat penggorok daun pada tanaman bawang merah yang cukup efektif. Beberapa perangkap yang umum digunakan adalah kartu perangkap, kain perangkap, perangkap lampu, dan penyapuan dengan kain berperekat.

Kartu perangkap
Lalat penggorok daun tertarik pada warna kuning. Perangkap dibuat dari bahan kertas atau plastik berwarna kuning yang berperekat. Kartu berukuran 16 x 16 cm dan dipasang pada papan (kayu atau seng) dengan ukuran sama dengan kartu. Kartu dipasang pada ketinggian 0,5 meter dari permukaan tanah. setiap hektar dibutuhkan 80-100 buah perangkap.

Kain perangkap
Pada prinsipnya, hampir semua jenis kain dapat digunakan sebagai perankap. Tetapi yang paling ideal adalah yang tipis, luas, dan dapat dibentangkan. Sebelum diaplikasikan, kain perangkap terlebih dahulu dicelupkan pada oli bekas. Kain kemudian dibentangkan diantara beberapa bedengan bawang merah. Kain dibentankan dengan bantuan bambu sebagai ajir. Bentangan kain adalah setinggi sekitar 0,6 dari permukaan bedengan.

Pengendalian Lalat Penggorok Daun (Liriomyza chinensis) pada Bawang Merah yang Ramah Lingkungan

Biologi lalat penggorok
Lalat betina menyisipkan telur di bawah epidermis daun. Setiap lalat betina mampu menghasilkan sekitar 50-300 butir telur. Belatung selanjutnya membuat lubang korokan pada daun dan menuju ke umbi. Kepompong terbentuk dan terdapat di atas permukaan tanah. Daur hidup lalat penggorok daun adalah sekitar 3 minggu.

Gejala serangan
Adanya serangan lalat penggorok daun ditandai oleh adanya bintik-bintik putih sebagai tanda tusukan ovipositor dan berupa liang korokan larva yang berkelok-kelok dari bagian atas daun. Serangan berat, seluruh helaian daun penuh dengan korokan sehingga daun menjadi kering, berwarna coklat, dan timbul efek seperti terbakar. Larva penggorok daun dapat masuk sampai ke dalam umbi batang dan akan menyebabkan kerusakan yang parah pada musim kemarau.

Pengendalian
Secara umum, pengendalian dilakukan dengan cara pencegahan melalui teknis budidaya yang tepat, pengendalian secara fisik/mekanis, pengendalian secara biologis, dan pengendalian dengan menggunakan perangkap.