Friday, February 23, 2018

Metode Pengawetan Buah Segar

Buah-buahan merupakan komoditas pertanian yang memiliki nilai gizi yang tinggi dan beragam. Konsumsi buah segar memiliki beragam keuntungan dibandingkan buah olahan. Selain masih memiliki aroma, rasa, dan warna yang masih optimal, buah segar juga memiliki kandungan gizi yang optimal. Namun, seperti produk hortikultura yang lain, bauh-buahan adalah aslah satu komoditas yang paling mudah mengalami kerusakan. 

Dibutuhkan penganganan dan perlakuan yang baik agar buah dapat dipertahankan dalam kondisi segar dengan durasi penyimpanan yang lama. Berikut merupakan beberapa metode untuk mengawetkan buah segar agar dapat disimpan dalam waktu yang lama.

1. Metode pendinginan
Pendinginan dengan suhu tertentu akan menekan laju metabolisme buah segar sehingga proses kerusakan, kematangan, dan pembusukan dapat terhambat dan pada akhirnya buah buahan dapat disimpan dalam waktu yang lama. Suhu yang berada di titik toleransi buah justru akan menimbulkan kerusakan pada buah yang disebut dengan chillling injury. Setiap buah memiliki nilai suhu yang berbeda sehingga tidak semua buah dapat disimpan dalam satu ruang pendingin yang sama. 

SISTEM INTEGRASI PADI-TERNAK (PENDEKATAN PERTANIAN TERPADU)

Sistem integrasi padi-ternak merupakan salah satu upaya meningkatkan pendapatan petani, melalui peningkatan produksi padi yang diintegrasikan secara sinergis dengan pemeliharaan ternak sapi (Basuni dkk, 2010). Pengembangan Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT) dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung upaya peningkatan kandungan bahan organik lahan pertanian melalui penyediaan pupuk organik yang memadai (Haryanto et al., 2002).

Integrasi ternak dalam usaha tani adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak sapi di areal tanaman tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas tanaman bahkan keberadaan ternak sapi ini dapat meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus meningkatkan produksi sapi itu sendiri.Ternak sapi yang diintegrasikan dengan tanaman mampu memanfaatkan produk ikutan dan produk samping tanaman (sisa-sisa hasil tanaman) untuk pakan ternak dan sebaliknya ternak sapi dapat menyediakan bahan baku pupuk organik sebagai sumber hara yang dibutuhkan tanaman. Sejalan dengan program pemerintah dalam peningkatan populasi dan produksi ternak sapi yaitu melalui program-program bantuan pengadaan bibit sapi maka hal ini sangat baik untuk penerapan integrasi ternak sapi dalam usaha tani tanaman (Dirjen Peternakan, 2010).

Pengaruh NaCl pratanam dalam mengurangi stress garam melalui peningkatan pertahanan antioksidan sistem dan akumulasi osmotik pada tanaman kedelai.

Pendahuluan :
Salinitas adalah salah satu stress abiotik dan menjadi masalah di berbagai produksi pertanian. Lahan yang terpengaruh garam berkisar 19% dari total 2.8 juta hektar lahan yang dapat ditanami di dunia. Stress garam menyebabkan kemunduran perkecambahan benih, panjang akar dan tajuk, bobot segar dan vigor benih pada kedelai. Salinitas menginduksi klorosis nekrosis dan menurunkan kandungan klorofil a, b serta karotenoid. Level kegaraman menginduksi penanda seperti proline glisin pinnitol dll. 

Tanaman dapat mengembangkan kemampuan fisiologisnya untuk beradaptasi terhadap macam-macam stres lingkungan. Fenomena ini bernama aklimatisasi. Dan telah ada yang melaporkan aklimatisasi untuk stress dingin, kekeringan, salinitas dan perubahan lingkungan yang lain. Menganalisis perubahan fisiologis dengan aklimatisasi tersebut dapat meningkatkan pengetahuan tentang toleransi tanaman terhadap stress lingkungan.

Metode :
Benih kedelai disrrelisiasi menggunakan HgCl2 (0.1%,w/v) lalu dicuci pada air destilasi. Benih untuk perlakuan pratanam direndam NaCl sebesar 50 mM selama 2 jam.Selanjutnya benih diberikan perlakuan salinitas sebesar 50 Mm, 100 mM dan 150 mM NaCl. Sebagai kontrol digunakan benih tanpa perlakuan pratanam dengan konsentrasi perlakuan salinitas yang sama. pemanenan dilakukan 7 hari setelah perlakuann salinitas.

Aklimatisasi level salinitas yang mematikan melalui perlakuan pratanam dengan keseimbangan osmotik.

Metode : Benih padi distrelisiasi dengan etanol dan H2O2. Dicuci dan didistilasi dengan air selama 48 jam. Benih diinkubasi selama 24 jam dibawah pada suhu 30 C keadaan lembab dan kondisi gelap. Benih dikecambahkan dengan hidroponik. 4 tanaman per wadah yang diaerasi dengan 8 liter setengah nutrisi Hoagland selama 40 hari. Di setiap set diatur minimum terdapat satu wadah sebagai kontrol. Kontrol ditanam dengan setengah nutrisi hoagland dan tidak ditambahkan NaCl. Salinitas dimulai pada 22 hari setelah semai. Tanaman dipapar 50 mM NaCl ditambahkan dengan setengah nutrisi larutan hoagland selama 1 minggu. Setelah satu minggu, tanaman dipindahkan ke larutan yang mengandung 100 mM NaCl dan dirawat selama satu minggu. Larutan nutrisi diganti setiap dua hari sekali. Dipanen pada umur 29 dan 36 hari setelah semai.

Hasil : stress garam secara umum telah diketahui dalam mengakibatkan efek stress osmotik dan ionik. Akumulasi dari ion toksik Na+ dan Cl- sering diklaim sebagai toksik dan penyebab utama hambatan pertumbuhan tanaman karena salinitas. Peningkatan laju pertumbuhan dibawah kondisi salin esensial untuk aklimasi garam. Tanaman pratanam dengan dosis subletal menunjukkan akumulasi K yang lebih tinggi di akar maupun tajuk dibandingkan tanaman tanpa pratanam.