Tuesday, April 17, 2018

Pengendalian Gulma Melalui Sistem Tumpangsari

Pola tanam tumpangsari adalah salah suatu teknik pola tanam yang dari segi usahatani mampu memberikan keuntungan ekonomi dan mengurangi risiko kegagalan panen sehingga modal petani dapat terjaga dan lebih meningkat (Nurindah dan Sujak, 2006). Gomez dan Gomez (1983) mendefinisikan tumpanggilir atau tumpangsari (relay cropping) sebagai menanam dua atau lebih tanaman secara bersama-sama pada sebidang lahan dimana tanaman kedua ditanam setelah tanaman pertama berbunga. Penanaman dengan sistem tumpanggilir telah lama dilakukan petani, khususnya yang mempunyai lahan relatif sempit sebagai usaha untuk mengintensifkan penanaman baik menurut ruang maupun waktu, menganekaragamkan bahan pangan dan pakan, mengurangi resiko kegagalan panen, meningkatkan pendapatan petani dan memperluas lapangan pekerjaan.
Sistim pertanaman tumpangsari, umumnya terdapat pada lahan yang luasnya terbatas. Pemilihan jenis tanaman sela yang tepat akan mempengaruhi pola tanam tumpangsari. Selain memanfaatkan lahan kosong di sela-sela tanaman utama, pola tumpangsari juga mempunyai beberapa keuntungan, seperti

Pengaruh Ketersediaan Sulfur Terhadap Pertumbuhan Bawang Merah

Setiap tanaman memiliki serapan unsur hara yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan metabolisme tiap tanaman. Pada dasarnya sulfur diserap tanaman dan diasimilasi melalui jalur asimilasi. Pada tanaman bawang merah, serapan sulfur cukup tinggi. Dibandingkan dengan tanaman yang lain seperti tanaman gandum dan bit, bawang merah adalah salah satu tanaman yang memiliki serapan dan kebutuhan pupuk sulfur yang tinggi.
Serapan sulfur yang termasuk tinggi pada tanaman bawang merah memberkan dampak terhadap kebutuhan sulfur yang juga tinggi. Dosis atau level sulfur yang tepat menentukan pertumbuhan dan kualitas umbi. Hal ini berkaitan pula dengan pemberian sulfur yang dapat mempengaruhi serapan hara lain seperti N, P dan K pada tanaman. Menurut Tisdale et al., (1989) salah satu peran sulfur dalam meningkatkan hasil tanaman yaitu melalui peningkatkan efisiensi penggunaan unsur hara tanaman esensial lainnya terutama nitrogen dan fosfor.

Fungsi Sulfur pada Bawang Merah

Sulfur (S) merupakan unsur makro yang penting dalam pertumbuhan tanaman. Tanaman yang terkandung unsur S memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingan dengan tanpa unsur S ( Buchner et al., 2004 dan Hawkesford dan De Kok, 2006). Allium memiliki varietas umbi terbanyak diantara sayuran umbi yang lainnya (Li et al., 2010) antara lain A. cepa L. (Bawang), A. sativum L. (Bawang Putih), A. porrum L. (Daun Bawang), A. schoenoprasum L. (Daun Bawang), and A. ļ¬stulosum L. (Bawang Welsh) merupakan jenis bawang yang banyak dibudidayakan dan di konsumsi di seluruh dunia baik sebagai bahan makanan maupun obat (Fritsch dan Friesen, 2002).
tanaman bawang merah
Fungsi sulfur pada umbi bawang merah mengenai kuantitas bawang merah berkaitan erat dengan ukuran dan banyaknya umbi yang dihasilkan. Aroma yang khas dikeluarkan pada umbi juga berkaitan erat dengan kandungan Sulfur. Umbi bawang merah mengandung senyawa - senyawa yang dipercaya berkhasiat sebagai antiinflamasi dan antioksidan seperti kuersetin yang bertindak sebagai agen untuk mencegah sel kanker. Kuersetin, selain memiliki aktivitas sebagai antioksidan, juga dapat beraksi sebagai antikanker pada regulasi siklus sel, berinteraksi dengan reseptor estrogen (ER) tipe II

Penurunan Daya Dukung Bumi

Penurunan daya dukung bumi dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1. Kepadatan penduduk
2. Alih fungsi lahan
3. Degradasi lahan

Jumlah penduduk Indonesia terus meningkat dengan laju pertumbuhan sekitar 1.38% per tahun. Peningkatan jumlah penduduk tersebut berimplikasi luas terhadap peningkatan kebutuhan papan, sandang dan pangan. Jumlah sumber daya alam yang terbatas akan semakin menipis seiring peningkatan kepadatan penduduk tersebut, hal ini mengakibatkan daya dukung bumi oleh sumber daya alam yang ada berkurang karena kepadatan penduduk. 
penurunan daya dukung lahan
Peningkatan kebutuhan papan mendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman, oleh karena lahan pertanian yang semakin sempit, populasi tumbuhan pula akan berkurang. Sumber oksigen bagi manusia yang utama berasal dari fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan hal tersebut, berkurangnya populasi tumbuhan akan mengakibatkan menipisnya oksigen di bumi, dan meningkatkan karbondioksida. Hal inilah yang mengakibatkan daya dukung bumi oleh oksigen yang ada berkurang karena alih fungsi lahan. 

Revolusi hijau pada tahun 90-an memberikan dampak yang cukup besar hingga saat ini, salah satunya adalah degradasi lahan karena pemakaian pupuk dan pengendali OPT yang berbasis bahan kimia. Pemakaian bahan kimia secara terus menerus tanpa penggunaan pupuk organik mengakibatkan kandungan unsur hara dan bahan organik menurun. Hal ini menyebabkan penurunan daya dukung bumi oleh kesuburan tanah berkurang karena degradasi lahan. Kepadatan penduduk, alih fungsi lahan dan degradasi lahan mengakibatkan bumi semakin panas. Meningkatnya emisi gas termasuk karobondioksida menyebabkan lapisan ozon terbuka. Hal ini merupakan salah satu penurunan daya dukung bumi yang cukup berakibat fatal dalam jangka pendek maupun panjang.