Sunday, June 14, 2015

Mengenal Tanaman Jeruk Purut Manis

Jeruk purut manis merupakan salah satu jenis jeruk yang keberadaannya sudah langka di Indonesia. Di Indonesia, jeruk purut manis pertama ditemukan di Pontianak Kalimantan Barat. Jeruk purut mansis merupakan tanaman berbentuk pohon. Jeruk purut manis memiliki pohon yang rendah dan memiliki percabangan yang rapat sehingga tampak rimbun. Bunga kecil, berwarna keputihan dan muncul di ketiak daun. Buah memiliki banyak kerutan di bagian kulitnya yang tebal. Daging buah jeruk purut manis berwarna kekuningan. Tidak seperti buah jeruk purut lain yang berasa asam, jeruk purut manis memiliki rasa yang manis. Di dalam buah jeruk purut manis jarang dijumpai adanya biji. Namun terkadang juga terdapat satu atau hanya dua biji. Ukuran buah sedikit lebih besar daripada jeruk purut biasa. Setiap buah memiliki bobot antara 200 sampai 300 gram. 

Selain memiliki rasa yang manis sehingga dapat dikonsumsi sebagai buah meja, kulit buah jerup purut manis dapat juga digunakan untuk membuat serbat. Buah muda yang memiliki rasa asam dapat digunakan untuk bumbu masak sebagaimana jeruk purut biasa. Daun yang masih muda dapat digunakan untuk lalapan dan daun yang sudah tua dapat digunakan untuk penyedap makanan. 

Jeruk purut manis dapat diperbanyak dengan metode cangkok. Duapulu hari setelah pencangkokan, akar-akar akan tumbuh. Tiga bulan setelah cangokan ditumbuhkan di dalam polibag, cangkokan dapat ditanam di lapangan. Jeruk purut manis akan mulai berbuah pada umur 2 sampai 3 tahun. Jeruk purut manis termasuk jenis jeruk yang tahan terhadap gangguan hama dan penakit tanaman.

Anonim. 1994. Mengenal Tanaman Langka Indonesia. Penebar Swadaya, Jakarta. 

Thursday, June 4, 2015

Mengenal Tanaman Jeruk Jepara (Limonocitrus littoralis)

Jeruk jepara pertama kali ditemukan oleh J.E. Teijsman pada tanggal 6 Oktober 1854 di pantai Lasem, Rembang. Pada tanggal 24 Agustus 1930 dibuat koleksi khusus di pantai dekat Lendang, Rembang.

Selain ditemukan di Rembang, jeruk Jepara juga dapat ditemukan di Kepulauan Riau dan Vietnam, namun dengan sifat-sifat yang berbeda dengan yang berada di Rembang. Di Riau, Jeruk Jepara ditemukan oleh Ismail Husain di Pulau Ransang Riau pada tahun 1980. 

Jeruk Jepara merupakan tanaman berbentuk pohon perdu dengan ketinggian kurang dari 3 meter. Memiliki buah berdiameter 3-5 cm dan terdapat 5 ruangan di dalam buahnya dengan masing-masing ruangan terisi oleh dua biji. Jeruk Jepara memiliki rasa yang asam sedikit asin. Kandungan air di dalam buah Jeruk Jepara cukup sedikit sehingga kurang enak ketika dikonsumsi atau dijadikan minuman. 

Jeruk jepara mampu hidup di berbegai kondisi agroekosistem yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman lain. Jeruk jepara dapat hidup di tanah berpasir dengan kadar garam yang tinggi, rawa-rawa dekat pantai, dan tepian sungai dekat pantai. Jeruk jepara juga memiliki ketahanan yang tinggi terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Jeruk Jepara memiliki sifat pertumbuhan yang hampir sama dengan tanaman bakau. 

Kemampuan jeruk jepara dalam bertahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman menjadikan jeruk jepara menjadi salah satu bahan/sumber batang bawah untuk bibit yang baik. Umumnya, bibit yang menggunakan jeruk jepara sebagai batang bawah ditujukan untuk mencegah penyakit CVPD.

Anonim. 1994. Mengenal Tanaman Langka Indonesia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wednesday, May 20, 2015

Mengenal Tanaman Jeruk Besar (Citrus grandis)

jeruk besar
Jeruk Besar (Citrus grandis) termasuk keluarga Rutaceae dan merupakan tanaman asli Indonesia yang tersebar ke kawasan India, Malaysia, Persia, dan bahkan Eropa. Jeruk besar merupakan tanaman yang tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian maksimal 400 mdpl. Daerah yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jeruk besar adalah daerah basah ataupun setengah kering asalkan air tanah letaknya di bawah 50 cm dari permukaan tanah tetapi tidak lebih dalam dari 150 cm. 

Jambu besar merupakan tanaman pohon dengan ketinggian tanaman dapat mencapai 5 sampai 15 meter. Memiliki batang yang kuat dan agak bengkok dengan ukuran batang 10-30 cm. Kulit batang agak tebal, pada bagian luar berwarna coklat kuning dan dari dalam berwarna kuning. Daun berbentuk lancip ketika masih muda dan menjadi bulat seiring bertambahnya umur daun. Tajuk pohon rendah dengan bentuk yang tidak beraturan. Cabang saling berjauhan satu dengan yang lainnya dan ujungnya merunduk. Dahan dan cabang tanaman jeruk besar ada yang berduri dan tidak berduri. 

Mengenal Jambu Kopo (Syzygium densiflorum)

jambu kopo
Tanaman jambu kopo (Syzygium densiflorum) memiliki nama daerah yang berbeda-beda. Di jawa barat, dikenal dengan nama jambu kopo, kopo badak, ataupun petag. Di jawa timur dan jawa tengah disebut dengan nama jambu alas, jambu kelampok, jambu wana, jambu jambon, ataupun kelampok arum. Di Madura, jambu mawar hutan disebut dengan nama kelampok bato.

Jambu kopo tersebar di seluruh Jawa. Banyak di jumpai di hutan-hutan terbuka, dekat dengan aliran sungai, dan berada di daerah dengan ketinggian 5 sampai 1500 mdpl. Terdapat beberapa jenis jambu kopo di Indonesia. Beberapa jenis tersebut diantaranya:

1. Eugenia cymosa. Di jawa barat, tumbuhan ini dikenal dengan nama kisireum, di jawa tengah dan jawa timur, dikenal dengan nama mantingan. Tersebar di seluruh jawa dan terdapat di hutan campuran atau hutan jati dengan ketinggian 100-1200 mdpl. 

2. S. litoral. Merupakan tanaman asli jawa. Di jawa barat dikenal dengan nama kopo laut, jawa tengah dan jawa timur dikenal dengan nama kelampok watu. Tumbuhan ini tersebar di seluruh jawa, tumbuh di hutan-hutan, terutama di sepanjang aliran sungai. Bila daunnya diremas akan mengeluarkan bau harum yang semerbak.

Thursday, May 14, 2015

Menganal Tanaman Jambu Mawar (Eugenia Jambos)

Jambu mawar (Eugenia Jambos) merupakan tanaman dari keluarga jambu-jambuan (Myrtacae). Jambu mawar memiliki berbagai nama di Indonesia. Di Jawa Barat, jembu mawar dikenal dengan nama cai mawar, di Madura dikenal dengan sebutan klampok aeng mawar, di Bali diberi nama ermawa, dan di Sulawesi Selatan dikenal dengan nama jambu jene mawara.

Jambu mawar merupakan tanaman yang berasal dari Indo-Malaysia. Di Indonesia, keberadaan jambu mawar sudah jarang dan sudah semestinya untuk lebih dilestarikan. 

Jambu mawar dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian hingga 1200 mdpl. Tanah yang subur, gembur dan memiliki drainase yang baik merupakan salah satu persyaratan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan jambu mawar. 

Jambu mawar merupakan tanaman pohon dengan ketinggian maksimal hanya 10 meter. Memiliki batang berwarna coklat pucat serta memiliki percabangan yang rendah dan melebar. Daun berbentuk lanset sempit, tebal dan licin. Daun yang masih muda berwarna merah muda mengkilat dan akan berubah menjadi hijau seiring pertambahan umur daun. 

Bunga jambu mawar berukuran besar, berwarna putih atau silver pucat, dan memiliki bau yang agak harum. Tangkai bunga pendek dan terletak pada ujung cabang yang masih memiliki daun. Buah jambu mawar berbentuk agak bulat atau agak lonjong dengan bagian dasar yang melebar. Buah berukuran sedang dengan diameter 4 sampai 5 cm. Kulit buah licin dan keras. Buah yang telah masak akan berwarna kuning pucat atau kehijauan. Biji berwarna coklat dan setiap buah memiliki satu sampai dua biji. 

Daun jambu mawar dapat digunakan sebagai obat cacar air. Di Kamboja, daun buah jambu mawar dapat digunakan untuk menurunkan panas pada tubuh. Biji dapat digunakan untuk obat disentri, diare, dan radang selaput lender di hidung atau tenggorokan. 

Perbanyakan tanaman jambu mawar umumnya dilakukan dengan biji, cangkok, okulasi, ataupun dengan sambung pucuk. 

Anonim. 1994. Mengenal Tanaman Langka Indonesia. Penebar Swadaya, Jakarta.