Tuesday, June 23, 2026
Mengapa Tanaman Penutup Tanah Penting di Kebun Kelapa Sawit? Temuan Baru tentang Fotosintesis dan Penyimpanan Karbon
Monday, May 18, 2026
Perubahan Iklim Mengancam Produksi Bawang Merah? Ini Temuan Peneliti IPB tentang Lahan Ideal di Sleman
Bawang Merah dan Tantangan Perubahan Iklim
Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Selain menjadi kebutuhan pokok rumah tangga, bawang merah juga memiliki nilai ekonomi tinggi bagi petani. Namun dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas bawang merah semakin menghadapi tantangan akibat perubahan iklim yang tidak menentu.
Curah hujan ekstrem, perubahan suhu, hingga kondisi tanah yang kurang mendukung dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman secara signifikan. Situasi ini membuat petani sering mengalami penurunan hasil panen, bahkan gagal panen pada musim tertentu.
Mengapa Faktor Iklim Sangat Berpengaruh pada Bawang Merah?
Curah Hujan Menjadi Faktor Penting
Suhu dan Kelembapan Memengaruhi Pertumbuhan Umbi
Kondisi Tanah Menentukan Produktivitas
Monday, May 11, 2026
Rahasia Benih Padi Gogo Berkualitas: Waktu Panen dan Dosis Fosfat Ternyata Sangat Menentukan
Mengapa Kualitas Benih Padi Gogo Sangat Penting?
Permintaan beras di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Di sisi lain, lahan sawah semakin berkurang akibat alih fungsi lahan. Dalam kondisi seperti ini, padi gogo menjadi salah satu alternatif penting untuk menjaga ketersediaan pangan nasional. Namun, keberhasilan budidaya padi gogo tidak hanya ditentukan oleh teknik tanam atau pemupukan, melainkan juga oleh kualitas benih yang digunakan.
Benih berkualitas tinggi memiliki kemampuan tumbuh yang lebih baik, lebih tahan selama penyimpanan, dan mampu menghasilkan tanaman yang lebih seragam. Karena itu, penentuan waktu panen benih menjadi salah satu faktor penting dalam produksi padi gogo.Sebuah penelitian dari IPB University meneliti bagaimana tingkat kemasakan benih dan dosis pupuk fosfat memengaruhi mutu benih padi gogo varietas IPB 10G Tanimar. Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran menarik mengenai kapan waktu panen terbaik dan berapa dosis fosfat yang paling optimal untuk menghasilkan benih unggul.
Penelitian IPB tentang Benih Padi Gogo
Penelitian ini dilakukan menggunakan beberapa variasi dosis pupuk fosfat SP-36, yaitu 50 kg per hektare, 100 kg per hektare, dan 150 kg per hektare. Selain itu, benih dipanen pada beberapa tingkat kemasakan berbeda, mulai dari 112 hingga 128 hari setelah tanam.
Tujuan utama penelitian tersebut adalah mengetahui:- Tingkat kemasakan fisiologis benih padi gogo
- Lama periode after-ripening atau masa dormansi benih
- Daya simpan benih selama penyimpanan
Dosis pupuk fosfat terbaik untuk menghasilkan benih berkualitas tinggi
Peneliti menemukan bahwa dosis pupuk fosfat ternyata tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan vegetatif maupun generatif tanaman. Meski demikian, terdapat perbedaan pada kualitas benih yang dihasilkan.
Dosis Fosfat 100 Kg per Hektare Memberikan Hasil Terbaik
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah penggunaan pupuk fosfat sebesar 100 kg SP-36 per hektare menghasilkan kualitas benih terbaik berdasarkan indeks vigor awal.
Indeks vigor merupakan parameter penting untuk menilai kemampuan benih tumbuh cepat dan seragam. Benih dengan vigor tinggi biasanya lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang ideal serta memiliki performa penyimpanan yang lebih baik.Menariknya, peningkatan dosis fosfat hingga 150 kg per hektare tidak memberikan peningkatan mutu benih yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk secara berlebihan belum tentu menghasilkan kualitas benih yang lebih baik.
Bagi petani maupun produsen benih, hasil ini memberikan pesan penting bahwa efisiensi pemupukan perlu diperhatikan. Penggunaan dosis yang tepat bukan hanya lebih hemat biaya, tetapi juga mampu menghasilkan benih berkualitas optimal.
Waktu Panen Ideal Ternyata Ada di 124 Hari Setelah Tanam
Selain dosis pupuk, penelitian ini juga menemukan bahwa waktu panen sangat menentukan kualitas benih padi gogo.
Tuesday, April 14, 2026
Temua Riset Terbaru : Pupuk Mikro Seng dan Boron Terbukti Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis Hingga 78%
Peran Unsur Mikro dalam Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis
Jagung manis (Zea mays L. var. saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan karena rasa manis serta kandungan gizinya. Produktivitas tanaman ini dipengaruhi oleh berbagai faktor agronomi, salah satunya adalah pengelolaan nutrisi tanaman. Selain unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), tanaman juga memerlukan unsur mikro untuk mendukung pertumbuhan optimal.
Dalam praktik budidaya, perhatian terhadap unsur mikro sering kali masih terbatas. Padahal, unsur seperti seng (Zn) dan boron (B) memiliki peran penting dalam proses fisiologis tanaman jagung, termasuk pembentukan enzim, sintesis protein, perkembangan sel, serta transportasi nutrisi. Kekurangan kedua unsur ini dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, penyerbukan kurang optimal, hingga penurunan hasil panen.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, sebuah penelitian dari peneliti agronomi melakukan evaluasi efektivitas pupuk mikro yang mengandung seng dan boron pada budidaya jagung manis di kondisi agroekosistem tropis.
Metode Penelitian: Menguji Kombinasi Pupuk Mikro dan NPK
Penelitian dilakukan pada tahun 2025 di Kebun Percobaan Sindangbarang, Fakultas Pertanian IPB University, Bogor. Percobaan lapangan menggunakan rancangan percobaan randomized complete block design dengan empat perlakuan pemupukan.
Empat perlakuan tersebut meliputi:
Tanpa pemupukan sebagai kontrol
Pemupukan standar menggunakan NPK
Pupuk standar NPK ditambah satu dosis pupuk mikro
¾ dosis pupuk NPK ditambah satu dosis pupuk mikro
Pupuk mikro yang digunakan mengandung sekitar 5,46% seng (Zn) dan 3,59% boron (B). Penelitian ini juga dilakukan dengan enam ulangan untuk memastikan hasil yang lebih akurat secara statistik.
Thursday, April 2, 2026
Tanaman Katuk di Dataran Rendah: Pola Pertumbuhan Daun yang Jarang Diketahui
Katuk, Sayuran Lokal dengan Nilai Gizi Tinggi
Tanaman katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) merupakan salah satu sayuran daun yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Daun katuk dikenal kaya akan vitamin, mineral, serat pangan, serta berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain sebagai bahan pangan, tanaman ini juga dikenal dalam pengobatan tradisional karena kandungan nutrisinya yang tinggi.
Walaupun cukup populer sebagai sayuran rumah tangga, penelitian ilmiah mengenai karakter pertumbuhan tanaman katuk masih relatif terbatas, khususnya yang berkaitan dengan pola pertumbuhan daun di lingkungan tropis dataran rendah. Padahal, informasi mengenai pola pertumbuhan daun sangat penting untuk memahami produktivitas tanaman, kemampuan fotosintesis, serta potensi hasil panen daun yang dapat dimanfaatkan sebagai sayuran.
Tujuan Penelitian dan Metode Pengamatan
Pengamatan Langsung di Lahan Budidaya
Penelitian ini dilakukan di lahan pertanian di wilayah Bengkulu yang memiliki karakteristik lingkungan dataran rendah tropis. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan melakukan pengamatan langsung terhadap tanaman katuk yang dibudidayakan oleh petani setempat.
Friday, March 27, 2026
Fenomena Self-Pruning pada Tanaman Hortikultura: Ketika Tanaman Bisa “Memangkas Dirinya Sendiri”
Pentingnya Pemangkasan dalam Budidaya Tanaman Hortikultura
Pemangkasan merupakan salah satu praktik penting dalam budidaya tanaman hortikultura, khususnya pada tanaman buah. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga kesehatan tanaman, mengatur bentuk tajuk, meningkatkan penetrasi cahaya, serta mendukung produktivitas tanaman. Dalam praktiknya, pemangkasan biasanya dilakukan secara manual oleh petani atau tenaga kerja kebun.
(Baca Juca: Pemangkasan pada Tanaman Kopi)
Namun, metode pemangkasan konvensional memiliki beberapa kelemahan. Selain membutuhkan tenaga kerja yang cukup besar, kegiatan ini juga memerlukan waktu dan biaya operasional yang tidak sedikit. Oleh karena itu, para peneliti mulai mengeksplorasi kemungkinan adanya mekanisme alami pada tanaman yang dapat menggantikan sebagian fungsi pemangkasan manual. Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah self-pruning atau pemangkasan alami yang dilakukan oleh tanaman itu sendiri.
Self-pruning merupakan proses alami di mana tanaman secara spontan melepaskan bagian tertentu seperti daun, bunga, buah, atau cabang yang tidak lagi memberikan keuntungan fisiologis bagi pertumbuhan tanaman. Fenomena ini sebenarnya cukup umum terjadi di alam, tetapi kajian ilmiah yang secara khusus membahas mekanismenya pada tanaman hortikultura komersial masih sangat terbatas.
Tuesday, March 17, 2026
Hama dan Penyakit pada Kopi Gayo: Ancaman Tersembunyi di Sistem Agroforestri di Aceh
Kopi Gayo dan Sistem Agroforestri yang Menjadi Andalan Petani
Kopi Gayo merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang dikenal luas di pasar internasional. Kopi ini berasal dari dataran tinggi wilayah Gayo di Aceh Tengah dan terkenal karena kualitas rasa serta sistem budidayanya yang banyak menggunakan pendekatan agroforestri. Dalam sistem ini, tanaman kopi ditanam bersama berbagai jenis pohon pelindung dan vegetasi lain yang membentuk ekosistem menyerupai hutan alami.
Sistem agroforestri pada budiaya tanaman kopi tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta meningkatkan stabilitas ekosistem pertanian. Namun, meskipun memiliki banyak keunggulan, sistem ini tetap menghadapi tantangan serius berupa serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menurunkan produktivitas kopi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi dalam sistem agroforestri di wilayah Gayo, Aceh Tengah. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi tingkat serangan organisme pengganggu tanaman yang berpotensi mempengaruhi produksi kopi di daerah tersebut.
Identifikasi Hama yang Menyerang Tanaman Kopi
Jenis Hama yang Ditemukan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis hama utama yang ditemukan pada tanaman kopi di sistem agroforestri wilayah Gayo. Hama-hama tersebut menyerang berbagai bagian tanaman, mulai dari daun, batang, hingga buah kopi.
Penyakit Tanaman Kopi yang Ditemukan
Penyakit Daun dan Batang
Selain hama serangga, penelitian juga menemukan beberapa jenis penyakit tanaman yang menyerang kopi di sistem agroforestri. Penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh mikroorganisme seperti jamur yang berkembang pada kondisi lingkungan tertentu.
Salah satu penyakit yang sering ditemukan adalah penyakit karat daun kopi. Penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak berwarna kuning hingga oranye pada permukaan daun. Jika serangan cukup parah, daun dapat mengalami kerontokan sehingga mengganggu proses fotosintesis tanaman.
Selain karat daun, terdapat pula penyakit lain yang menyerang bagian batang dan cabang tanaman kopi. Penyakit tersebut dapat menyebabkan jaringan tanaman rusak sehingga menghambat pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Penyakit
Kondisi lingkungan dalam sistem agroforestri memiliki pengaruh terhadap perkembangan penyakit tanaman. Kelembapan yang relatif tinggi serta keberadaan vegetasi pelindung dapat menciptakan kondisi mikroklimat yang mendukung pertumbuhan patogen tertentu.Namun demikian, sistem agroforestri juga memiliki sisi positif karena keberagaman vegetasi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk keberadaan musuh alami hama.
Dampak Hama dan Penyakit terhadap Produktivitas Kopi
Serangan hama dan penyakit pada tanaman kopi dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen. Kerusakan pada daun dapat mengurangi kemampuan tanaman dalam melakukan fotosintesis, sementara serangan pada buah dapat langsung menurunkan kualitas biji kopi.
Pentingnya Pengelolaan Hama dalam Sistem Agroforestri
Monday, March 16, 2026
Limbah Sayuran Bisa Jadi Pestisida Alami? Ini Hasil Penelitian Ecoenzyme yang Mengejutkan
Limbah Sayuran Rumah Tangga yang Sering Terbuang
Limbah sayuran merupakan salah satu jenis sampah organik rumah tangga yang jumlahnya cukup besar. Setelah sisa serealia, limbah sayuran menjadi kategori sampah organik terbesar yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga sehari-hari. Sayangnya, sebagian besar limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya berakhir di tempat pembuangan sampah.
Bagaimana Ecoenzyme Dibuat dari Limbah Sayuran?
Bahan Baku dan Proses Fermentasi
Penelitian ini memanfaatkan beberapa jenis limbah sayuran yang umum ditemukan dalam kegiatan rumah tangga maupun pasar, yaitu kubis, serai, dan kulit bawang merah. Limbah tersebut kemudian difermentasi bersama gula dan air untuk menghasilkan ecoenzyme.
Monday, March 9, 2026
Teknologi Sonic Bloom pada Tanaman Melon: Gelombang Suara yang Terbukti Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman
Produksi Melon dan Tantangan Peningkatan Produktivitas
Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura dengan nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Buah ini banyak diminati karena rasanya yang manis, segar, dan memiliki nilai gizi yang baik. Namun demikian, peningkatan produksi melon di Indonesia masih tergolong lambat. Data statistik hortikultura menunjukkan bahwa produksi melon hanya mengalami kenaikan sekitar 6,44% dari tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa produktivitas tanaman belum meningkat secara signifikan.
Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah penerapan teknologi budidaya tanaman melon yang belum optimal. Oleh karena itu, berbagai inovasi teknologi mulai dikembangkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Salah satu pendekatan yang menarik perhatian peneliti adalah penggunaan teknologi sonic bloom, yaitu teknologi yang memanfaatkan gelombang suara untuk merangsang aktivitas fisiologis tanaman.Teknologi ini bekerja dengan cara memancarkan gelombang suara pada frekuensi tertentu yang mampu merangsang pembukaan stomata pada daun. Ketika stomata terbuka lebih optimal, proses pertukaran gas dan penyerapan unsur hara dapat berlangsung lebih efektif. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman.
Untuk memaksimalkan manfaat teknologi tersebut, penggunaan sonic bloom dapat dikombinasikan dengan pupuk daun yang disemprotkan langsung ke permukaan daun. Metode pemupukan ini memungkinkan unsur hara diserap lebih cepat oleh tanaman dibandingkan aplikasi melalui tanah.
Cara Mengurangi Pupuk NPK 25% pada Tanaman Cabai dengan Kompos Limbah Sawit dan Pupuk Hayati
Tuesday, March 3, 2026
Meningkatkan Produktivitas Tomat di Tanah Aluvial melalui Trichokompos dan Pupuk Kalsium
Apa Itu Trichokompos dan Pupuk Kalsium?
Metode Penelitian: Rancangan yang Terukur
Hasil yang Menarik: Peningkatan Produktivitas Tomat
Mengapa Ini Penting bagi Petani Tomat?
Temuan ini membawa pesan penting bagi petani tomat dan penyuluh pertanian yang bekerja di daerah dengan tanah aluvial atau tanah berkualitas rendah. Dengan menggunakan trichokompos dan pupuk kalsium sebagai bagian dari strategi pemupukan, petani dapat:
- Meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama pada fase awal kehidupan tanaman.
- Mengoptimalkan jumlah dan berat buah tomat yang dihasilkan, sehingga meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
- Memperbaiki kualitas tanah secara berkelanjutan, tanpa tergantung pada pupuk kimia sintetis secara berlebihan.
- Mengurangi risiko fisiologis pada buah, seperti kelainan akibat kekurangan kalsium.
Kesimpulan
Monday, March 2, 2026
Mengoptimalkan Pupuk Organik: Efektivitas Kompos Baglog Jamur Tiram untuk Pertumbuhan Cabai Merah
Metode Penelitian: Rancangan Percobaan yang Terstruktur
P1: 100% tanah subur (kontrol)
P2: 50% tanah subur + 50% kompos baglog
P3: 35% tanah subur + 65% kompos baglog
P4: 20% tanah subur + 80% kompos baglog
P5: 5% tanah subur + 95% kompos baglog
Setiap perlakuan diulang lima kali untuk mengurangi kesalahan percobaan dan meningkatkan validitas data. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, dan jumlah buah.
Saturday, February 28, 2026
Strategi Terpadu Mengatasi Toksisitas Aluminium pada Tanah Asam Tropis
Toksisitas Aluminium pada Tanaman
Saat pH tanah turun (tanah menjadi lebih asam), aluminium yang secara alami terdapat dalam mineral tanah berubah menjadi ion Al³⁺ yang sangat reaktif dan beracun bagi tanaman. Ion ini menempel pada permukaan akar, menyebabkan pertumbuhan akar terhambat, memicu gangguan penyerapan air dan hara, serta menekan produksi tanaman. Gangguan ini dapat berujung pada penurunan hasil panen dan kualitas tanaman.
Mekanisme Toleransi Tanaman terhadap Aluminium
Tanaman yang mampu bertahan di tanah asam memiliki beberapa mekanisme adaptasi terhadap stres aluminium. Jurnal ini merangkum bahwa ada dua strategi utama yang digunakan tanaman:
Tuesday, February 24, 2026
Foxtail Millet: Superfood Tahan Kekeringan untuk Ketahanan Pangan dan Kesehatan Modern
Foxtail millet (Setaria italica) merupakan salah satu serealia kuno yang kembali mendapat perhatian dalam isu ketahanan pangan global. Tanaman ini dikenal luas di wilayah Asia dan Afrika sebagai bahan pangan tradisional, terutama di daerah kering dan semi-kering. Dibandingkan beras atau gandum, foxtail millet memiliki ketahanan lingkungan yang lebih baik serta kandungan gizi yang lebih padat.
Dengan sistem fotosintesis tipe C4, tanaman ini mampu tumbuh optimal pada suhu tinggi dan kondisi air terbatas. Kemampuan adaptasi tersebut menjadikannya kandidat strategis dalam menghadapi perubahan iklim dan krisis pangan.
Karakter Agronomis dan Keunggulan Adaptif
Foxtail millet termasuk tanaman yang toleran terhadap kekeringan, tanah kurang subur, bahkan kondisi salinitas ringan. Siklus tanamnya relatif pendek sehingga cocok dikembangkan pada sistem pertanian lahan kering.
Beberapa keunggulan agronomisnya meliputi:
- Efisiensi penggunaan air yang tinggi
- Pertumbuhan cepat dan input rendah
- Potensi hasil stabil pada lingkungan marginal
- Cocok untuk sistem pertanian berkelanjutan
Monday, February 23, 2026
Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Foxtail Millet dengan Pupuk Biofouling Tiram Mutiara
Tanaman foxtail millet (Setaria italica L.) merupakan salah satu jenis millet yang semakin populer di berbagai wilayah tropis sebagai sumber pangan alternatif, pakan ternak, serta diversifikasi pangan. Millet dikenal tahan terhadap kondisi kering dan adaptif terhadap berbagai jenis tanah, sehingga cocok dikembangkan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Namun, seperti tanaman serealia lainnya, produktivitas foxtail millet sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi tanah.
Seiring meningkatnya permintaan pangan organik dan ramah lingkungan, petani dan peneliti mencari solusi alternatif pupuk yang efektif tanpa dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu inovasi yang menarik adalah pemanfaatan pupuk organik berbasis biofouling tiram mutiara (Pearl Oyster Biofouling Fertilizer).
Apa Itu Pupuk Biofouling Tiram Mutiara?
Pupuk biofouling tiram mutiara merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari limbah biofouling tiram mutiara (Pinctada maxima), yaitu organisme laut dan mikroorganisme yang menempel pada permukaan tiram. Limbah ini kaya akan bahan organik dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, serta kalium - unsur yang penting untuk pertumbuhan tanaman.
Selain menyediakan unsur hara dasar, pupuk organik ini juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan kesehatan perakaran tanaman.
Wednesday, February 18, 2026
Peran Jamur Mikoriza Arbuskular dalam Meningkatkan Pertumbuhan Porang
Porang (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian bernilai tinggi yang mulai populer sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri, terutama untuk pembuatan glucomannan. Porang juga tumbuh baik di dataran rendah hingga sedang dengan pengelolaan yang tepat. Namun, pertumbuhan dan produktivitas porang masih dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan hara dan kesehatan akar tanaman.
Salah satu solusi untuk meningkatkan pertumbuhan porang yang berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) — jamur tanah yang membentuk simbiosis mutualisme dengan akar tanaman. AMF membantu tanaman menyerap hara, terutama fosfor, serta meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan.
Penelitian Response of Porang to the Application of Arbuscular Mycorrhizal Fungi ini mengevaluasi bagaimana pemberian AMF memengaruhi pertumbuhan porang, termasuk biomassa dan kesehatan sistem akar, sebagai dasar rekomendasi praktik budidaya yang lebih efektif.
Apa Itu Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF)?
Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) adalah kelompok jamur tanah yang membentuk hubungan simbiotik dengan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan hifa (filamen) ke dalam tanah sehingga meningkatkan kemampuan penyerapan air serta unsur hara, terutama fosfor (P) yang penting bagi pertumbuhan tanaman umbi seperti porang.
Manfaat AMF untuk Tanaman Porang
Saturday, February 14, 2026
Dampak Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Fungsi Hidrologis DAS Ciujung
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan sistem alami yang mengatur aliran air dari hulu ke hilir dan menyediakan air bagi berbagai kebutuhan seperti pertanian, domestik, industri, dan ekosistem. Penelitian ilmiah di Land Use Change, Hydrological Responses and Water Balance of Upstream Ciujung Watershed mengkaji bagaimana perubahan penggunaan lahan di bagian hulu DAS Ciujung (Provinsi Banten dan sebagian Bogor) berpengaruh terhadap fungsi hidrologis dan keseimbangan air di kawasan tersebut.
Tren Perubahan Lahan (2016–2021)
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa antara tahun 2016 dan 2021 terjadi konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan areal bukan hutan. Luas hutan primer, sekunder, dan hutan produksi berkurang cukup signifikan, sedangkan lahan pertanian kering serta pemukiman meningkat. Perubahan ini menunjukkan adanya desakan kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian dan pemukiman penduduk.
Dampak Deforestasi
Pengurangan tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan dalam menyerap air hujan dan memperlambat aliran permukaan. Hal ini berdampak langsung pada fungsi DAS sebagai buffer terhadap banjir dan kekeringan, terutama pada musim hujan dan kemarau.
Respon Hidrologis terhadap Perubahan Tata Guna Lahan
Koefisien Aliran dan Respon Aliran
Penelitian menggunakan parameter Flow Regime Coefficient (FRC) dan Annual Flow Coefficient (AFC) untuk mengevaluasi respon hidrologi sungai. Pada periode 2012–2016, FRC termasuk kategori rendah, menandakan aliran sungai lebih seimbang antara musim hujan dan kemarau. Namun, pada periode 2017–2021, FRC meningkat ke tingkat menengah, yang berarti fluktuasi aliran lebih tajam akibat penurunan tutupan hutan. AFC juga menurun, menunjukkan perubahan cara air terdistribusi di dalam DAS dan berkurangnya kontribusi aliran dasar akibat perubahan lahan.
Friday, February 6, 2026
Kearifan Lokal Jawa sebagai Kunci Ketahanan Petani Hortikultura di Magelang
Monday, February 2, 2026
Pupuk ZA untuk Kedelai: Cara Meningkatkan Pembentukan Polong dan Hasil Panen
- Jumlah bunga yang terbentuk
- Jumlah polong yang dihasilkan
- Persentase bunga menjadi polong
- Kandungan sulfur dalam daun
Thursday, January 29, 2026
Respons Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery terhadap Dosis Pupuk Urea dan SP-36
Tuesday, January 27, 2026
Remote Sensing dalam Pertanian Presisi: Prinsip Dasar dan Langkah Praktis
- Mendeteksi Variabilitas Lahan: Remote sensing menunjukkan kondisi mikro di setiap bagian lahan sehingga petani tahu area mana yang membutuhkan perhatian lebih atau kurang.
- Menentukan Kesehatan Tanaman: Melalui citra multispektral, sensor mampu membedakan antara tanaman sehat dan stres akibat kekeringan, hama, atau penyakit.
- Meningkatkan Efisiensi Input: Dengan data akurat, petani dapat menyesuaikan penggunaan air atau pupuk hanya pada zona tertentu yang membutuhkannya, bukan seluruh lahan.
- Mengurangi Biaya Operasional: Dengan memprediksi masalah sebelum menjadi besar, biaya pengecekan manual dan perbaikan kerusakan lahan pun berkurang drastis.
Monday, January 26, 2026
5 Metode Irigasi Modern yang Efektif untuk Pertanian Masa Kini
Friday, January 23, 2026
Vertical Farming: Teknologi Pertanian Modern yang Menjawab Tantangan Masa Depan
Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar di hampir semua sektor, termasuk pertanian. Salah satu inovasi yang semakin mendapat perhatian global adalah vertical farming atau pertanian vertikal. Melalui video “CAN-Agri – Vertical Farming. Amazing Modern Farming Technology”, ditampilkan bagaimana teknologi ini diterapkan secara nyata sebagai solusi atas keterbatasan lahan, perubahan iklim, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.