Tuesday, December 5, 2017

Media Simpan untuk Mempertahankan Viabilitas Benih Kakao

Bahan tanam merupakan salah satu faktor terpenting penentu keberhasilan budidaya tanaman. Bahan tanam yang bermutu baik dari sisi genetik dan fisiologis akan menghasilkan tanaman yang vigor dan berproduksi tinggi.

Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menggunakan biji/benih sebagai bahan tanam. 

Benih kakao termasuk benih rekalsitran dimana akan sangat mengalami kemunduran ketika berada di lingkungan simpan dengan suhu dan kadar air yang rendah. Kisaran batas kadar air benih kakao yang disimpan adalah berkisar antara 25-35C. Kisaran tersebut didapatkan dengan pengeringan dan atau menghembuskan udara kering ke area benih kakao.

Diperlukan perlakuan khusus selama penyimpaan agar benih kakao tetap memiliki kualitas dan mutu yang baik. Pada prinsipnya, bahan pengemas benih harus dipilih dari bahan yang dapat mencegah terjadinya peningkatan kadar air benih selama penyimpanan. Syarat-syarat tersebut diantaranya: (1) Mampu menahan masuknya air dan uap air ke dalam kemasan, (2). Mampu menahanpertukaran gas-gas, (3). Mudah didapat, bahan kuat, dan tidak beracun, (4). Harga terjangkau, dan (5). Mudah dicetak untuk logo, merk dan keterangan lainnya.

Saturday, December 2, 2017

Implementasi Penggunaan Cara Tanam Legowo dalam Pengelolan Tanaman Terpadu Padi sawah

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah merupakan pendekatan yang inovatif dan dinamis dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. Komponen dalam PTT meliputi komponen dasar dan komponen pilihan. Komponen dasar merupakan komponen yang sangat dianjurkan agar diaplikasikan semetara koponen pilihan adalah komponen yang dapat disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat. 

Komponen dasar dalam PTT meliputi:
1. Varietas unggul baru, hibrida, atau inhibrida
2. Benih bermutu dan berlabel
3. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau sudah dalam bentuk kompos
4. Pengaturan populasi secara optimum.
5. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah (menggunakan BWD)
6. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu 

Komponen pilihan terdiri dari:
1. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam
2. Penggunaan ibit muda (<21 hari) bila kondisi lahan tidak banyak dijumpai keong mas,
3. Tanam bibit 1-3batang per rumpun.
4. Pengairan secara efktif dan efisien
5. Penyiangan dengan landak dan gasrok
6. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontokkan.

Jajar Legowo
Pada prinsipnya, jajar legowo merupakan salah satu teknis dalam mengatur populasi tanaman. Hingga batas populasi tertentu, semakin tinggi populasi tanaman maka akan semakin banyak malai per satuan luas sehingga berpeluang menaikkan hasil panen.

Jajar legowo dilakukan dengan mengosongkan satu baris tanaman sehingga dikenal dengan legowo 2:1 apabila satu baris kosong diselingi oleh dua baris tanaman padi atau 4:1 bila diselingi empat baris tanaman. 

Walaupun terdapat baris yang kosong, pouplasi tanaman pada sistem jajar legowo adalah lebih tinggi daripada pertanaman padi konvensioanl. Hal ini karena jarak tanam pada sistem jajar legowo dijadikan semakin rapat. Dengan jarak tanam yang semakin rapat maka dapat menekan dan mengurangi serangan tikus, keong mas, dan keracunan besi. 

Keuntungan Jajar Legowo
Beberapa keuntungan penanaman dengan sitem jajar legowo adalah sebagai berikut:
1. Semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (border effect).
2. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah karena menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpulkeong mas, atau untuk mina padi.
3. Penggunaan pupuk lebih berdaya guna.

Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia. 2010. Implementasi penggunaan sitem legowo dalam PTT Padi Sawah. 

Thursday, November 30, 2017

Arah Pengembangan Pertanian pada Lahan Rawa

Lahan rawa merupakan salah satu lahan yang berpotensi dikembangkan untuk peningkatan produksi komoditas pertanian. Dengan tipologi/jenis lahan yang beragam, perlu diketahui karakterisitik masing-masing tipologi lahan rawa untuk bisa menentukan arah pengembagan komoditas pertanian di lahan rawa. 

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan komoditas yang akan dikembangkan di lahan rawa adalah: 1) kesesuaian agronomis, 2) kelayakan atau potensi ekonomi,3) ramah lingkungan dan berkelanjutan, dan 4) pemasaran hasil.

Secara umum, komoditas yang dapat dikembangkan di lahan rawa adalah tanaman pangan, tanaman perkebunan, buah dan sayur, peternakan, dan perikanan.

1. Tanaman pangan
Padi merupakan salah satu komoditas pangan yang paling potensial dikembangan di laha rawa. Secara agronomis, padi relatif mudah dibudidayakan pada lahan rawa dengan tipe luapan A dan B. Padi juga memiliki harga yang relatif lebih stabil dibandingkan dengan komoditas pangan yang lain.

Beberapa varietas padi sawah yang beradaptasi baik pada lahan rawa adalah Kapuas, Cisanggarung, Cisadane, IR 64, Lematang, dan Sei Lilin. Di lahan rawa, padi memiliki produktivitas antara 2-8 ton gabah kering giling per hektar. Takaran pupuk yang dianjurkan pada lahan potensial adalah 45-45-50 sampai 90-45-50 kg/ha dan lahan sulfat masam adalah 90-30-120 kg/ha.

Thursday, November 16, 2017

Klasifikasi Tipologi Lahan pada Daerah Pasang Surut untuk Pengembangan Pertanian

Peningkatan roduksi hasil pertanian salah satunya dapat dicapai dengan peningkatan luas areal pertanaman. Salah satu lahan yang potensial untuk dikembangkan sebagai sentra pertanian adalah lahan pasang surut. Di Indonesia terdapat lahan pasang surut seluas 20,1 juta ha dan baru sekitar 3-4 juta ha yangsudah direklamasi.

Identifikasi dan karakterisasi tipologi lahan pada daerah pasang surut berguna untuk perencanaan serta pengembangan agar tidak mengalami kegagalan. Beberapa tipologi lahan yang berada di daerah pasang surut adalah:

1. Lahan Sulfat Masam Aktual (SMA)
SMA merupakan tanah yang memiliki pH lapang rendah (<3,5), memiliki horizon sulfurik atau tanda tanda horison sulfurik yang disebabkan teroksidasinya pirit, yang terjadiakibat drainase berlebihan. Lahan SMA umumnya memiliki luapat tipe C/D dan kisi-kisi liat kaan hancur saat pH tanah <3,5. Lahan SMA cocok untuk tanaman yang sudahadaptif seperti galem/purun dan karet.

2. Lahan Sulfat Masam Potensial (SMP)
SMP memiliki pH tanah >3,5 dan akan semakin tinggi selaras dengan kedalaman tanah. SMP memiliki pirit pada kedalaman hingga 100 cm. SMP memiliki luapan lahan tipe A/B dan harus dijaga agar bahan sulfidik tidak teroksidasi. Lahan SMP sesuai untuk tanaman pangan terutama padi sawah untuk tipe luapan A/B dan tipe luapan C/D sesuai untuk tanaman hortikultura dan perkebunan. 

3. Lahan Aluvial Bersulfida Dangkal Bergambut (HSM)
HSM berupa tanah tanah mineral yang memiliki pirit hingga kedalaman 50 cm dan kedalaman gambut 20-50 cm serta memiliki tipe luapan A. Tanaman yang sesuai untuk lahan HSM adalah padi sawah.

Monday, November 13, 2017

Karakteristik Tanah Andosol

Kesesuaian lahan dan potensi lahan berperan penting dalam pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan. Salah satu komponen dalam analisis kesesuaian lahan dan potensi lahan adalah jenis tanah. Terdapat beragam jenis tanah dengan masing-masing karakteristik termasuk dalam hubungannya dengan jenis komoditas yang sesuai dan cara perlakuan tanah tersebut.

Salah satu jenis tanah yang paling potensial untuk pengembangan pertanian (komoditas pertanian) di Indonesia adalah Andosol.

Dalam sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah, Andosol dikenal sebagai Andisol. Andosol memiliki epipedon histik dan sifat andik, memiliki kompleks pertukaran yang didominasi oleh bahan amorf, serta bobot isi kurang dari 0,85g/cm kubik.

Andosol merupakan tanah yang berkembang dari abu vulkan dan memiliki ciri kandungan mineral liat alofan yang tinggi. Tanah dengan alofan tinggi memiliki sifat diantaranya lapisan atas gembur, terdapat lapisan permukaan yang hitam (gelap) serta terdiri dari senyawa humik yang tahan dekomposisi mikroorganisme, perkembangan struktur tanah baik, dan tidak ada sifat lekat ketikalembab dan bila dikeringkan akan sukar basah kembali.

Andosol juga memiliki kemampuan mengikat air yang tinggi, permeabilitas tinggi (sangat gembur) tetapi memiliki derajat ketahanan struktur yang tinggi sehingga mudah diolah. 

Secara kimiawi, andosol memiliki tingkat keasaman masam sampai netral. Kejenuhan basa sekitar 20-40 %m, KTK 20-30 me.100 g dan kandungan bahan organik pada lapisan atas 5-20%. Andosol terbentuk baik di dataran redah maupun di lereng-lereng guung sampai ketinggian 2000 m diatas permukaan laut. 

Yuliana, Nia. 2002. Analisis Penggunaan Lahan dan Usahatani Komoditas Hortikultura pada Tanah Andosol. Institut Pertanian Bogor, Skripsi.