Showing posts with label ekologi tanaman. Show all posts
Showing posts with label ekologi tanaman. Show all posts

Monday, May 18, 2026

Perubahan Iklim Mengancam Produksi Bawang Merah? Ini Temuan Peneliti IPB tentang Lahan Ideal di Sleman

Bawang Merah dan Tantangan Perubahan Iklim

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Selain menjadi kebutuhan pokok rumah tangga, bawang merah juga memiliki nilai ekonomi tinggi bagi petani. Namun dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas bawang merah semakin menghadapi tantangan akibat perubahan iklim yang tidak menentu.

Curah hujan ekstrem, perubahan suhu, hingga kondisi tanah yang kurang mendukung dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman secara signifikan. Situasi ini membuat petani sering mengalami penurunan hasil panen, bahkan gagal panen pada musim tertentu.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal agronomi IPB mencoba menjawab persoalan tersebut melalui kajian mengenai distribusi budidaya bawang merah berdasarkan kondisi hidroklimat dan sifat fisik tanah di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menjadi penting karena wilayah Sleman dikenal sebagai salah satu daerah pertanian hortikultura yang cukup aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengapa Faktor Iklim Sangat Berpengaruh pada Bawang Merah?

Curah Hujan Menjadi Faktor Penting

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa kondisi hidroklimat memiliki hubungan erat dengan keberhasilan budidaya bawang merah. Salah satu faktor utama adalah curah hujan.

Tanaman bawang merah membutuhkan kondisi air yang cukup, tetapi tidak berlebihan. Curah hujan tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan kelembapan meningkat dan memicu serangan penyakit pada tanaman. Sebaliknya, kekurangan air juga dapat menghambat pertumbuhan umbi.

Perubahan pola hujan akibat iklim ekstrem membuat petani semakin sulit menentukan waktu tanam yang ideal. Oleh karena itu, pemetaan wilayah berdasarkan kondisi iklim menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko produksi.

Suhu dan Kelembapan Memengaruhi Pertumbuhan Umbi

Selain hujan, suhu udara dan kelembapan lingkungan juga memengaruhi kualitas hasil panen. Suhu yang terlalu tinggi dapat mempercepat penguapan air dari tanah dan tanaman, sementara kelembapan tinggi dapat meningkatkan perkembangan jamur dan penyakit tanaman tidak terkecuali pada bawang merah.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa wilayah dengan kondisi hidroklimat tertentu memiliki tingkat kesesuaian yang berbeda terhadap budidaya bawang merah. Artinya, tidak semua wilayah memiliki potensi yang sama untuk menghasilkan panen optimal.

Kondisi Tanah Menentukan Produktivitas

Saturday, February 14, 2026

Dampak Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Fungsi Hidrologis DAS Ciujung

Pendahuluan: Mengapa Pengelolaan DAS Penting?
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan sistem alami yang mengatur aliran air dari hulu ke hilir dan menyediakan air bagi berbagai kebutuhan seperti pertanian, domestik, industri, dan ekosistem. Penelitian ilmiah di Land Use Change, Hydrological Responses and Water Balance of Upstream Ciujung Watershed mengkaji bagaimana perubahan penggunaan lahan di bagian hulu DAS Ciujung (Provinsi Banten dan sebagian Bogor) berpengaruh terhadap fungsi hidrologis dan keseimbangan air di kawasan tersebut.
 
Tren Perubahan Lahan (2016–2021)
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa antara tahun 2016 dan 2021 terjadi konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan areal bukan hutan. Luas hutan primer, sekunder, dan hutan produksi berkurang cukup signifikan, sedangkan lahan pertanian kering serta pemukiman meningkat. Perubahan ini menunjukkan adanya desakan kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian dan pemukiman penduduk.
 
Dampak Deforestasi
Pengurangan tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan dalam menyerap air hujan dan memperlambat aliran permukaan. Hal ini berdampak langsung pada fungsi DAS sebagai buffer terhadap banjir dan kekeringan, terutama pada musim hujan dan kemarau.
 
Respon Hidrologis terhadap Perubahan Tata Guna Lahan
Koefisien Aliran dan Respon Aliran

Penelitian menggunakan parameter Flow Regime Coefficient (FRC) dan Annual Flow Coefficient (AFC) untuk mengevaluasi respon hidrologi sungai. Pada periode 2012–2016, FRC termasuk kategori rendah, menandakan aliran sungai lebih seimbang antara musim hujan dan kemarau. Namun, pada periode 2017–2021, FRC meningkat ke tingkat menengah, yang berarti fluktuasi aliran lebih tajam akibat penurunan tutupan hutan. AFC juga menurun, menunjukkan perubahan cara air terdistribusi di dalam DAS dan berkurangnya kontribusi aliran dasar akibat perubahan lahan.
 

Thursday, June 4, 2020

LAHAN RAWA LEBAK

Lahan rawa lebak mempunyai ciri yang sangat khas, pada musim hujan terjadi genangan air yang melimpah dalam variasi kurun waktu yang cukup lama. Genangan air dapat kurang dari satu bulan sampai enam bulan atau lebih, dengan ketinggian genangan ≤ 50 cm – ≥100 cm. Air yang menggenang tersebut bukan merupakan limpasan air pasang, tetapi berasal dari limpasan air permukaan yang terakumulasi di wilayah tersebut karena topografinya yang lebih rendah dan drainasinya jelek. Kondisi genangan air sangat dipengaruhi oleh curah hujan, baik di daerah tersebut maupun wilayah sekitarnya serta daerah hulu (Ismail et al., 1993).

Keberhasilan usahatani padi di lahan rawa lebak sangat ditentukan oleh kondisi cuaca setempat dan wilayah sekitarnya terutama daerah hulu, yang akan berpengaruh langsung pada kondisi air rawa. AIR RAWA YANG MENYURUTsecara perlahan akan sangat memudahkan bagi petani untuk menentukan saat tanam yang tepat, tetapi sebaliknya air rawa yang menyurut berfluktuasi tidak teratur akibat curah hujan yang sangat fluktuatif akan menyulitkan petani dalam menentukan saat tanam yang tepat (Ar-Riza 2000). Pemilihan lokasi dan penentuan saat tanam yang tidak tepat utamanya untuk pertanaman padi surung akan membawa resiko gagal panen akibat terkena cekaman redaman air akibat air rawa yang terus meninggi.

Tuesday, April 14, 2020

Asal Penyebaran Tanaman Srikaya

penyebaran tanaman srikaya
Belum ada sumber yang menyebutkan dengan pasti darimana asal tanaman Srikaya. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Srikaya berasal dari Benua Amerika. Beberapa menyebut Srikaya dari Meksiko dan beberapa yang lain menyebut Srikaya berasal dari Peru. Awalnya Srikaya di domestikasi di daerah tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Awalnya Srikaya adalah tanaman liar yang belum dibudidayakan. Srikaya banyak dijimpai di padang rumput, hutan, dan pinggir jalan.

Penjajah Sanyol membawa biji-biji Srikaya dari Amerika menuju Filipina dan negara-negara di Asia Tenggara. Penjajah Portugis membawa dan memperkenalkan tanaman Srikaya di India Utara sebelum tahun 1590. Srikaya baru masuk Indonesia pada abad ke 17 dibawa oleh orang Belanda.

Tanaman Srikaya dikembangkan besar-besaran di Cina Selatan, Australia, Polinesia, Hawai, Afrika Tropis, Mesir, dan dataran rendah Palestina. Budidaya Srikaya baru mulainya intensif di daaerah India. Di India, terdapat beberapa kultivar Srikaya dan buahnya telah banyak dijumpai di pasar-pasar.

Wednesday, September 4, 2019

Gulma Lahan Pasir Pantai


Lahan pasir pantai merupakan lahan marjinal yang memiliki produktivitas rendah. Produktivitas lahan pasir pantai yang rendah disebabkan oleh faktor pembatas yang berupa kemampuan memegang/menyimpan air rendah, infiltrasi tinggi, bahan organik sangat rendah dan efisiensi penggunaan air rendah (Kertonegoro, 2001; AlOmran, et al., 2004). Namun pemanfaatan lahan pasir pantai untuk pengembangan sektor komoditas pertanian semakin kerbkembang dari tahun ke tahun berkat teknologi yang selalu berkembang.
Jenis-jenis gulma penyusun suatu vegetasi bergantung pada kondisi lahan. Perbedaan kondisi lahan disebabkan oleh penyusun sifat fisik dan karakteristik itu lahan itu sendiri. Lahan pasir pantai sebagai lahan pertanian juga memiliki karakteristik dan sifat lahan yang berbeda dibandingkan lahan pertanian pada umumnya. Setiap jenis tumbuhan termasuk gulma memperlihatkan reaksi dan daya adaptasi berbeda jika lingkungannya berubah. Jenis tumbuhan yang dapat tumbuh normal pada keadaan stres tergolong jenis toleran, mampu berdaptasi pada intensitas sedangakan yang tidak dapat beradaptasi tergolong jenis peka. Salah satu faktor lingkungan tumbuh yang dapat berubah adalah radiasi cahaya. Besarnya pengurangan radiasi tergantung struktur kanopi dan ini sangat ditentukan umur dan pertumbuhannya.
Kondisi lahan yang terbuka (tanpa naungan) di pasir pantai memiliki intensitas cahaya dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan lahan ternaungi. Komposisi gulma di lahan pasir pantai memiliki toleransi suhu yang tinggi, karena gulma dapat tumbuh dan berkembang di lahan tersebut. Komposisi gulma berjenis rumputan dan tekian lebih mendominasi seperti Axonopus compresus, Digitaria cillaris,Echinochloa colonum, Bulbostylis puberua, sedangkan gulma daun lebar yang ada adalah Melochia carchorifolia dll. Gulma yang paling dominan seperti Axonopus compressus memiliki organ vegetatif stolon sebagai organ perkembangbiakannya. Stolon merupakan batang yang silindris dan menjalar di permukaan tanah yang dapat membentuk akar dan tunas daun serta pada beberapa jenis menjalar di permukaan air. Stolon yang terpotong-potong dapat secara cepat menutupi permukaan tanah.
 Axonopus compressus

Gulma Axonopus compressus atau yang dalam bahasa Indonesia disebut Rumput pahit adalah jenis gulma tahunan berdaun sempit (rumputan) yang kompetitif dan meproduksi biji tinggi, sehingga penyebarannya lebih cepat. Kondisi kecepatan angin yang tinggi di daerah lahan pasir pantai menyebabkan penyebaran biji gulma tersebut juga semakin tinggi. Hendrival dkk (2014) dalam penelitiannya yang dilakukan di lahan pasir pantai, menyebutkan bahwa spesies gulma yang dominan tumbuh di pertanaman kedelai adalah Dichrocephala integrifolia, Mimosa pudica, Ipomoea triloba, Ageratum conyzoides, Cleome rutidosperma, dan Axsonopus compressus. Gulma tersebut dapat menurunkan komponen hasil kedelai seperti berat biji pertanaman, jumlah polong per tanaman dan berat 100 biji.

Sumber            :
Al-Omran, A.M., A.M. Falatah, A.S. Sheta and A.R.Al-Harbi. 2004. Clay deposits for water management of sandy soils. Arid Land Research and Management 1 : 171-183.  
Hendrival, Z. Wirda dan A. Azis. 2014. Periode kritis tanaman kedelai terhadap persaingan gulma. Jurnal Floratek 9 : 6-13.

Thursday, January 31, 2019

Mulsa Jerami untuk Budidaya Tanaman

penggunaan mulsa jerami untuk budidaya tanaman
Mulsa adalah material penutup tanah pada tanaman budidaya yang bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma serta penyakit sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Mulsa dibedakan menjadi dua macam, yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik. Mulsa organik adalah mulsa yang berasal dari bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman, jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman lain. Mulsa anorganik terbuat dari bahan sintetis seperti mulsa plastik.

Keuntungan dari mulsa jerami adalah sangat mudah didapat terlebih lagi jika lahan sawah yang akan ditanami adalah lahan bekas padi. Jerami sisa bertani tidak perlu dibakar, jerami ini bisa digunakan sebagai mulsa yang mudah terurai dan dapat menambahkan kandungan anorganik dalam tanah. Menurut Yelianti et al., 2009 jerami padi memiliki kandungan bahan organik sebesar 40,87%; N 1,01%; P 0,15%; dan K 1,75%. Semakin lama jerami berada di permukaan tanah maka akan memperbaiki struktur tanah dan menambah unsur hara pada tanaman. Mulsa jerami diberikan setelah benih ditanam, yaitu dengan cara memotong tunggak padi yang masih tersisa, sehingga jerami tersebar dan dapat menutup tanah.

Wednesday, January 30, 2019

Hubungan Ekologi Dan Fisiologi Tanaman

Tanaman tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan tempat tumbuhnya. Sesuai dengan tiga gatra agronomi yaitu fisiologi, ekologi dan manajemen, lingkungan tumbuh termasuk dalam kaitannya dengan ekologi. Hubungan timbal balik antara tanaman dengan lingkungannya dapat dilihat dari respon fisiologis maupun biokemisnya. 

peningkatan suhu juga berpengaruh terhadap fisiologi tanaman Pada keadaan lingkungan tempat tumbuh yang tidak menguntungkan, lahan marginal contohnya, tanaman dituntut untuk beradaptasi dengan faktor pembatas yang ada. Misalnya pada keadaan lingkungan suhu tinggi, Tohari (1995) menyebutkan bahwa banyak proses fisiologi yang terganggu seperti fotosintesis, respirasi, pembelahan sel, pembesaran sel. Bila suhu terlalu rendah laju proses fisiologisnya menjadi lambat. 

Lingkungan mempengaruhi suhu tumbuhan dan suhu ini mempengaruhi fisiologi dan kemampuan tanaman untuk hidup dan mempertahankan hidup. Pada suhu yang ekstrim tinggi, molekul-molekul protein mengalami denaturasi. Oleh karena itu terdapat suhu optimum bagi setiap proses fisiologi pada masing-masing tanaman.

Friday, February 23, 2018

Pengaruh NaCl pratanam dalam mengurangi stress garam melalui peningkatan pertahanan antioksidan sistem dan akumulasi osmotik pada tanaman kedelai.

Pendahuluan :
Salinitas adalah salah satu stress abiotik dan menjadi masalah di berbagai produksi pertanian. Lahan yang terpengaruh garam berkisar 19% dari total 2.8 juta hektar lahan yang dapat ditanami di dunia. Stress garam menyebabkan kemunduran perkecambahan benih, panjang akar dan tajuk, bobot segar dan vigor benih pada kedelai. Salinitas menginduksi klorosis nekrosis dan menurunkan kandungan klorofil a, b serta karotenoid. Level kegaraman menginduksi penanda seperti proline glisin pinnitol dll. 

Tanaman dapat mengembangkan kemampuan fisiologisnya untuk beradaptasi terhadap macam-macam stres lingkungan. Fenomena ini bernama aklimatisasi. Dan telah ada yang melaporkan aklimatisasi untuk stress dingin, kekeringan, salinitas dan perubahan lingkungan yang lain. Menganalisis perubahan fisiologis dengan aklimatisasi tersebut dapat meningkatkan pengetahuan tentang toleransi tanaman terhadap stress lingkungan.

Metode :
Benih kedelai disrrelisiasi menggunakan HgCl2 (0.1%,w/v) lalu dicuci pada air destilasi. Benih untuk perlakuan pratanam direndam NaCl sebesar 50 mM selama 2 jam.Selanjutnya benih diberikan perlakuan salinitas sebesar 50 Mm, 100 mM dan 150 mM NaCl. Sebagai kontrol digunakan benih tanpa perlakuan pratanam dengan konsentrasi perlakuan salinitas yang sama. pemanenan dilakukan 7 hari setelah perlakuann salinitas.

Aklimatisasi level salinitas yang mematikan melalui perlakuan pratanam dengan keseimbangan osmotik.

Metode : Benih padi distrelisiasi dengan etanol dan H2O2. Dicuci dan didistilasi dengan air selama 48 jam. Benih diinkubasi selama 24 jam dibawah pada suhu 30 C keadaan lembab dan kondisi gelap. Benih dikecambahkan dengan hidroponik. 4 tanaman per wadah yang diaerasi dengan 8 liter setengah nutrisi Hoagland selama 40 hari. Di setiap set diatur minimum terdapat satu wadah sebagai kontrol. Kontrol ditanam dengan setengah nutrisi hoagland dan tidak ditambahkan NaCl. Salinitas dimulai pada 22 hari setelah semai. Tanaman dipapar 50 mM NaCl ditambahkan dengan setengah nutrisi larutan hoagland selama 1 minggu. Setelah satu minggu, tanaman dipindahkan ke larutan yang mengandung 100 mM NaCl dan dirawat selama satu minggu. Larutan nutrisi diganti setiap dua hari sekali. Dipanen pada umur 29 dan 36 hari setelah semai.

Hasil : stress garam secara umum telah diketahui dalam mengakibatkan efek stress osmotik dan ionik. Akumulasi dari ion toksik Na+ dan Cl- sering diklaim sebagai toksik dan penyebab utama hambatan pertumbuhan tanaman karena salinitas. Peningkatan laju pertumbuhan dibawah kondisi salin esensial untuk aklimasi garam. Tanaman pratanam dengan dosis subletal menunjukkan akumulasi K yang lebih tinggi di akar maupun tajuk dibandingkan tanaman tanpa pratanam.

Tuesday, August 22, 2017

Syarat Tumbuh Tanaman Talas

Kesesuaia lahan menjadi hal yang perlu diperhatikan dan dipenuhi dalam sebuah usaha budidaya tanaman yang intensif. Dalam budidaya tanaman talas, lahan yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman dan diikuti oleh teknis budidaya yang tepat akan mengoptimalkan pertumbuhan, perkembangan, dan hasil tanaman talas. Berikut adalah persyaratan kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan budidaya tanaman talas. 

a. Iklim 
Secara umum, talas mampu tumbuh dan berkembang baik padaiklim tropis dan sub tropis. Talas dapat dibudidayakan di lingkungan dengan curah hujan tinggi ataupun juga curah hujan rendah. Curah hujan yang optimal untuk pertumbuhan talas adalah 175 cm per tahun. Talas membutuhkan penyinaran penuh selama pertumbuhan dengan suhu 25-30 dan kelembaban tinggi. 

b. Media tanam 
Talas dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti lempung yang bebas air tanah, tanah vulkanik, andosol, dan latosol. Talas tumbuh baik pada tanah dengan drainase baik dengan tingkat keasaman 5,5-6,5. Tanah bergambut juga sesuai untuk pertumbuhan talas asa diberi kapur terlebih dahulu sebanyak 1 ton/Ha. 

c. Ketinggian tempat 
Talas dapat tumbuh pada ketinggian 0-1300 mdpl. Di indonesia, talas dapat tumbuh di daerah pantai sampai dengan pegunungan dengan ketinggian 2000 mdpl. Semakin tinggi ketinggian tempat maka umur panen juga kana semakin panjang. 

Refferensi: 
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas. 

Thursday, December 31, 2015

Pengaruh Penyiraman Air Garam terhadap Pertumbuhan Bibit Nyamplung (Calopyllum inophylum L)

Nyamplung (Calopyllum inophylum L) merupakan salah satu jenis tanaman pantai yang mempunyai banyak manfaat. Salah satu manfaat yang paling potensial untuk dikembangkan adalah kemampuan biji nyamplung untuk dapat diolah menjadi biodisel. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi nyampung adalah adanya program penanaman nyamplung yang dicanangkan oleh Kementrian Kehutanan. Pengembangan nyamplung diharapkan juga sampai ke industri hilir.

biji nyamplung
Penyediaan bibit merupakan salah satu hal yang paling krusial dalam penanaman nyamplung. Pembibitan dan penanaman nyamplung di daerah pantai kemunginan terkendala oleh kondisi lingkungan pantai yang ekstrim. Kondisi yang ekstrim tersebut seperti suhu udara yang tinggi, kecepatan angin tinggi, dan tingkat salinitas yang tinggi. 

Penyiraman air garam terhadap bibit nyamplung dilakukan untuk mengetahui tingkat ketahanan bibit terhadap lingkungan ekstrim daerah pesisir pantai. Pengetahuan akan ketahanan bibit nyamplung terhadap salinitas akan sangat bermanfaat untuk pengembangan bibit nyamplung di daerah pesisir pantai.

Monday, April 20, 2015

Syarat Tumbuh Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

syarat tumbuh tanaman ubi jalar
Ubi jalar merupakan tanaman yang potensial dikembangkan di Indonesia. Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang dapat digunakan untuk subtitusi beras. Dua hal yang menjadi kelebihan ubi jalar dibandingkan dengan padi adalah potensi hasil per hektar yang lebih tinggi dan kemampuan tanaman untuk tumbuh di lahan yang kering.

Pengembangan tanaman ubi jalar harus dilakukan di daerah-daerah yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman sehingga potensi hasil yang didapatkan akan lebih tinggi. Umumnya, syarat tumbuh tanaman berkaitan dengan kondisi tanah dan iklim mikro yang berada pada suatu daerah.

Secara astronomis, tanaman ubi jalar dapat tumbuh baik mulai 40 lintang utara hingga 32 lintang selatan. Di indoensia, tanaman ubi jalar dapat tumbuh di daerah pesisir pantai hingga ketinggian 1700 mdpl. Ubi jalar dapat tumbuh di berbagai jenis tanah. Ubi jalar akan memiliki hasi tertinggi ketika ditanam di tanah lempung berpasir yang kaya bahan organik dan drainase yang baik. DI tanah lempung berat, ubi jalar akan menghasilkan umbi yang rendah. Di tanah yang subur, tanaman ubi jalar akan memiliki banyak daun, tetapi hasil umbi sedikit. Ubi jalar dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan derajat keasaman 5,5-7,5. Namun demikian, tanah yang optimal untuk pertumbuhan ubi jalar adalah dengan kemasaman 6,1-7,7. 

Thursday, April 9, 2015

Syarat Tumbuh Tanaman Anggrek

syarat tumbuh anggrek
Anggrek merupakan tanaman yang memiliki beragam kegunaan dan penggunaan. Anggrek dapat digunakan sebagai tanaman hias karena memiliki sosok tanaman dan bunga yang eksotis. Bunga anggrek juga merupakan salah satu bunga yang paling banyak digunakan sebagai komponen dalam seni merangkai bunga. Sebagai bahan industri anggrek dapat dijadikan bahan baku parfum dan atau obat-obatan.

Permintaan akan bunga dan tanaman anggrek senantiasa mengalami peningkatan. Budidaya tanaman anggrek pun telah mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Namun demikian, sentra-sentra budidaya anggrek masih berada di daerah-daerah dengan kondisi lingkungan yang secara umum sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek. 

Wednesday, January 14, 2015

Mekanisme dan Adaptasi Tanaman terhadap Stres Abiotik (Pengantar)


Pertumbuhan populasi dunia diperkiakan akan mencapai enam miliar pada akhir tahun 2050. Di sisi lain, hasil pertanian yang merupakan pemenuh kebutuhan makanan bagi populasi penduduk dunia tidak mengalami peningkatan produktivitas. Peningkatan jumlah penduduk yang tidak diikuti oleh peningkatan produktivitas hasil pertanian akan memunculkan potensi kekurangan pangan di kemudian hari.

Produktivitas hasil pertanian yang memiliki kecenderungan untuk tidak meningkat salah satunya disebabkan oleh adanya stres-stres lingkungan abiotik yang menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Secara umum, stres lingkungan abiotik adalah suatu kondisi variable-variabel lingkungan yang secara potensial dapat merusak tanaman, baik secara fisik ataupun biokimia. 

Umumnya, makhluk hidup tidak mampu mengontrol kondisi lingkungan tempat tinggal, tetapi terdapat dua mekanisme umum untuk dapat bertahan di lingkungan yang kurang menguntungkan. Mekanisme tersebut adalah menghindar dan toleran. Mekanisme menghindar lebih umum dilakukan oleh binatang-binatang yang dapat dengan mudah berpindah dari lingkungan yang kurang menguntungkan. Tanaman tidak dapat berpindah tempat untuk dapat menghindar dari kondisi stres lingkungan abiotik, tetapi tanaman dapat menggabungkan faktor genetik, molekuler, dan biokimia untuk menghindari kondisi stres abiotik.

Monday, December 22, 2014

Syarat Tumbuh Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L)

Kentang merupakan tanaman pangan sumber karbohidrat. Di Indonesia, kentang lebih banyak dimanfaatkan sebagai sayur daripada makanan pokok utama. Namun demikian, tingkat kebutuhan umbi kentang tetap tinggi. Tingginya kebutuhan umbi kentang disebabkan oleh penggunaanya sebagai bahan industri makanan. 

Teknis budidaya memegang peranan penting dalam keberhasilan pemenuhan kebutuhan akan umbi kentang. Pengetahuan akan syarat tumbuh tanaman kentang akan memudahkan dan mendukung keberhasilan teknis budidaya tanaman. Lokasi pertanaman yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman merupakan setengah dari keberhasilan teknis budidaya tanaman itu sendiri.

Kentang merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 500 sampai dengan 3000 mdpl. Di daerah tropis, kentang tumbuh optimal pada ketinggian 1300 mdpl. Kentang tumbuh dengan baik di tanah yang subur, gembur, dan memiliki drainase yang baik. Tanah yang sesuai untuk tanaman kentang adalah tanah liat gembur, debu, atau debu berpasir. Tanah dengan pH 4,5 sampai 8 dapat digunakan untuk pertanaman kentang. pH optimal untuk pertubuhan dan hasil tanaman kentang adalah 5-6,5. Pada pH di bawah 5, kentang akan menghasilkan umbi yang berutu jelek dan rentan terhadap penyakit kudis. 

Iklim berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Kentang tumbuh baik dengan suhu 25-20C, sinar matahari cukup, dan kelembaban udara 80-90% (Sunarjono, 1975).

Kentang membutuhkan rentang suhu yang berbeda untuk setiap fase pertumbuhannya. Menurut Burton (1981), untuk mendapatkan hasil yang maksimum tanaman kentang membutuhkan suhu optimum yang relatif rendah, terutama untuk pertumbuhan umbi, yaitu 15,6 sampai 17,8 C dengan suhu rata-rata 15,5 C. 

Saturday, December 6, 2014

Syarat Tumbuh Tanaman Karet

Tanaman keret merupakan tanaman daerah tropis yang tumbuh antara 15⁰ LS sampai dengan 15⁰ LU. Tanaman karet tumbuh dengan optimal di dataran rendah dengan ketinggian 0-200 mdpl. Semakin tinggi letak tempat, pertumbuhannya akan semakin lambat dan hasil lateks menjadi rendah. Ketinggian di atas 600 mdpl kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet (Setyamidjaja, 1993).

Tanaman karet dapat tumbuh di berbagai jenis tanah mulai dari tanah alluvial, vulkanis, tanah gambut, dan beberapa tanah marginal seperti podzolik merah kuning. Tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman karet adalah tanah yang bersolum dalam, jeluk lapisan lebih dari 1 meter, dan permukaan air rendah. Sifat tanah lain ang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet adalah memiliki tekstur remah, aerasi dan drainase cukup, struktur terdiri dari 35% liat, 30% pasir, dan memiliki kemiringan lahan < 16%(Siswanto dkk., 2010). Tanaman karet toleran terhadap kemasaman tanah, dapat tumbuh pada pH 3,8 sampai 8. Namun demikian, pH tanah ideal untuk pertumbuhan karet adalah 5-6. pH yang lebih tinggi akan dapat menekan pertumbuhan tanaman karet (Sianturi, 2000).

Tanaman karet membutuhkan curah hujan 2000-4000 mm/tahun dengan persebaran yang merata sepanjang tahun. Suhu yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman karet adalah 25⁰ C sampai 35⁰ C dengan suhu optimal 28⁰ C (Seyamidjaja, 1993). Kelembaban udara yang sesuai untuk tanaman karet adalah 75-90%. Lama penyinaran dan intensitas cahaya berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman karet. Dalam sehari, tanaman karet membutuhkan intensitas cahaya yang cukup dengan lama penyinaran 5-7 jam. Angin yang kecang dapat merusak pertanaman karet karena pada umumnya tanaman karet memiliki batang yang tinggi sehingga peka terhadap kerusakan ketika banyak angina kencang yang menerpa (Sianturi, 2001).

Friday, November 28, 2014

Mucuna bracteata

Mucuna bracteata merupakan legume yang berasal dari India dan belum lama diintroduksi di Indonesia. Tidak ada nama daerah untuk Mucuna bracteata, tetapi hanya dikenal dengan nama Mb. Mucuna bracteata merupakan tanaman yang digunakan sebagai penutup tanah pada perkebunan-perkebunan seperti karet dan kelapa sawit. 

Mucuna bracteata tumbuh pada tanah bertekstur ringan hingga berat dengan ketinggian 100-1000 mdpl. Mucuna bracteata tahan pada lingkungan yang ternaungi, dan tahan juga terhadap kekeringan. Mucuna bracteata memiliki daun majemuk beranak tiga berbentuk bulat telur, asimetris, belah ketupat, dan ujungnya tumpul. Tulang daun menjari dengan permukaan daun yang halus dan tidak berbulu. Selama ini, tanaman Mucuna bracteata belum mampu berbunga dan berbuah ketika di tanam di Pulau Jawa. 

Mucuna bracteata digunakan sebagai tanaman penutup tanah, pencegah erosi dan sebagai sumber bahan organik karena memiliki biomassa yang tinggi. Selain dapat menambat nitrogen, Mucuna bracteata dapat juga mendaur ulang hara seperti fosfor, kalium, magnesium, sulfur , dan hara mikro yang lain. Mucuna bracteata dapat menambat nitrogen sebanyak 217,4 kg/Ha. 

Purwanto, Imam. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Sunday, December 29, 2013

Kendala Pertanian Lahan Pantai

Kendala utama dalam pemanfaatan tanah pasir yaitu miskin mineral, lempung, bahan organik dan tekstur yang kasar. Tekstur yang kasar dan struktur berbutir tunggal menyebabkan tanah ini bersifat porus, aerasinya besar, dan kecepatan infiltrasinya tinggi. Keadaan tersebut menyebabkan pupuk yang diberikan mudah terlindi. Pada umumnya udipsamment mempunyai bahan induk dari gunung berapi cukup kaya unsur hara tetapi kekurangan unsur N. Akan tetapi unsur hara tersebut masih dalam bentuk yang tidak tersedia bagi tanaman karena belum mengalami pelapukan lebih lanjut. Untuk mempercepat proses pelapukan tersebut diperlukan pemupukan dengan bahan organik yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau (Munir, 1996).

Rendahnya luas permukaan tanah menyebabkan kemampuan mengabsorbsi dan menyimpan air, batas plastis dan cairnya makin rendah. Kapasitas pertukaran kation (KPK) dipengaruhi oleh jumlah muatan negatif pada permukaan jerapan. Jumlah muatan negatif ditentukan oleh luas permukaan, sehingga kapasitas pertukaran kation tergantung pada tekstur tanah, kandungan bahan organik,dan mineral lempung. Makin kasar tekstur tanahnya, makin rendah luas permukaannya dan makin rendah kapasitas pertukaran kationnya. Muatan negatif dapat berasal dari bahan organik maka peranan bahan organik sangat menentukan besarnya nilai kapasitas pertukaran kation. Rendahnya kandungan bahan organik dalam tanah pasiran menyebabkan suasana lingkungan yang kurang sesuai bagi perkembangbiakan mikroorganisme.

Monday, November 18, 2013

Fungsi Tanaman sebagai Pengontrol Iklim dalam Lanskap

tanaman sebagai pengendali iklim
Secara ekologi, tanaman memiliki fungsi: menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen; memperbaiki iklim mikro; mencegah terjadinya erosi; dan menyerap air hujan. Dalam kaitannya dengan lanskap, tanaman berfungsi untuk: kontrol pandangan; pembatas fisik; pengendali iklim; pencegah erosi; habitat satwa; dan nilai estetis. 

Fungsi tanaman sebagai pengendali iklim menjadi sangat penting karena berkaitan dengan kenyamanan berbagai aktivitas dan kegiatan manusia. Iklim yang dapat dikendalikan oleh tanaman tidak hanya yang berkaitan dengan cuaca (suhu, kelembaban, radiasi matahari, dan angina), melainkan juga berkaitan dengan aroma, dan suara. Secara umum, fungsi pengendalian iklim yang dilakukan tanaman terhadap elemen lanskap dan komponen yang lainnya adalah sebagai berikut:

a. Filtrasi dan meningkatkan kualitas udara
Dalam melaksanakan proses fotosintesis, semua tanaman yang berklorofil akan menyerap karbondioksidan (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2) sehingga udara yang berada di sekitar pertanaman menjadi lebih segar. Gas CO2 yang merupakan sumber utama penyebab pemanasan global dapat direduksi sehingga lingkungan menjadi lebih segar. Selain meningkatkan kualitas udara dengan meningkatkan kandungan O2 di

Wednesday, October 9, 2013

Syarat Tumbuh Tanaman Asparagus (Asparagus officinalis)


1. Iklim
Asparagus merupakan tanaman yang memiliki adaaptasi yang luas pada iklim dingin-sub tropis. Suhu ideal untuk pertumbuahan rebung, daun, dan penyimpanan proses fotosintat adalah 25-300 C pada siang hari dan 15-200 C pada malam hari. Suhu tanah lebih dari 10 C sudah mampu untuk mengawali pertumbuhan tunas. Bagian tanaman yang berada di atas tanah dapat rusa atau mati segera setelah terkena bunga es. Pada wilayah dengan suhu dibawah titik beku, mahkota yang berada di bawah tanah dapat dilindungi dari pembekuan dengan menggunakan mulsa.

Ketika daun mati karena terena bunga es dan suhun dingin, proses respirasi menjadi sangat kecil sehingga tanaman mengalami masa dorman. Kecilnya respirasi membuat fotosintat tetap tersimpan sehingga bergunga untuk pertumbuhan berikutnya ketika suhu lingkungan sudah sesuai dengan kebutuhan hidupnya. 

Di wilayah dingin sedang dan tropika, pertumbuhan daun dan respirasi berlangsung terus menerus. Dengan demikian, akumulasi fotosintat untuk cadangan makanan menjadi sedikit. Strategi yang dilakukan biasanya adalah dengan menumbuhkan empat sampai lima tajuk menjadi satu tanaman untuk menghasilkan fotosintat sementara tajuk yang lain dipanen. Ketika tanaman mengalami senescence, tajuk yang lain dibiarkan tumbuh untuk menggantikan tanaman yang senescence. Dengan proses yang berlangsung terus menerus, produksi rebung dalam jangka panjang dapat dilakukan. Di dataran rendah tropika, produksi rebung dibatasi oleh cekaman panas.