Showing posts with label budidaya tanaman. Show all posts
Showing posts with label budidaya tanaman. Show all posts

Thursday, April 2, 2026

Tanaman Katuk di Dataran Rendah: Pola Pertumbuhan Daun yang Jarang Diketahui

Katuk, Sayuran Lokal dengan Nilai Gizi Tinggi

Tanaman katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) merupakan salah satu sayuran daun yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Daun katuk dikenal kaya akan vitamin, mineral, serat pangan, serta berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Selain sebagai bahan pangan, tanaman ini juga dikenal dalam pengobatan tradisional karena kandungan nutrisinya yang tinggi.

Walaupun cukup populer sebagai sayuran rumah tangga, penelitian ilmiah mengenai karakter pertumbuhan tanaman katuk masih relatif terbatas, khususnya yang berkaitan dengan pola pertumbuhan daun di lingkungan tropis dataran rendah. Padahal, informasi mengenai pola pertumbuhan daun sangat penting untuk memahami produktivitas tanaman, kemampuan fotosintesis, serta potensi hasil panen daun yang dapat dimanfaatkan sebagai sayuran.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Agronomi Indonesia mencoba mengkaji lebih jauh mengenai pola pertumbuhan daun serta karakter morfologi tanaman katuk yang dibudidayakan pada ekosistem dataran rendah tropis. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai bagaimana daun katuk berkembang serta bagaimana karakter morfologi tanaman tersebut berperan dalam mendukung pertumbuhannya.

Tujuan Penelitian dan Metode Pengamatan

Pengamatan Langsung di Lahan Budidaya

Penelitian ini dilakukan di lahan pertanian di wilayah Bengkulu yang memiliki karakteristik lingkungan dataran rendah tropis. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan melakukan pengamatan langsung terhadap tanaman katuk yang dibudidayakan oleh petani setempat.

Monday, March 9, 2026

Cara Mengurangi Pupuk NPK 25% pada Tanaman Cabai dengan Kompos Limbah Sawit dan Pupuk Hayati

Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Tanaman ini tidak hanya menjadi bahan utama dalam berbagai masakan, tetapi juga digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan bahan pewarna alami. Karena nilai ekonominya tinggi, budidaya cabai menjadi salah satu kegiatan pertanian yang banyak dilakukan oleh petani di berbagai daerah. Namun dalam praktiknya, produksi cabai sering mengalami penurunan akibat berbagai faktor seperti rendahnya kesuburan tanah, teknik budidaya yang kurang tepat, serta serangan organisme pengganggu tanaman.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi cabai adalah melalui pemupukan. Selama ini, banyak petani mengandalkan pupuk anorganik seperti NPK untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Meskipun efektif dalam jangka pendek, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat menurunkan kualitas tanah. Kandungan bahan organik tanah menjadi semakin rendah sehingga struktur tanah memburuk dan produktivitas lahan cenderung menurun. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemupukan yang lebih berkelanjutan dengan memadukan pupuk anorganik dan pupuk organik.

Salah satu sumber bahan organik yang potensial adalah decanter solid, yaitu limbah padat dari proses pengolahan minyak kelapa sawit. Di daerah penghasil kelapa sawit seperti Provinsi Riau, limbah ini tersedia dalam jumlah sangat besar. Decanter solid diketahui mengandung berbagai unsur hara penting bagi tanaman, seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, serta karbon organik. Kandungan nutrisi tersebut menjadikannya bahan yang sangat potensial untuk diolah menjadi kompos sebagai pupuk organik.

Monday, February 23, 2026

Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Foxtail Millet dengan Pupuk Biofouling Tiram Mutiara

Pendahuluan: Tantangan Produksi Foxtail Millet
Tanaman foxtail millet (Setaria italica L.) merupakan salah satu jenis millet yang semakin populer di berbagai wilayah tropis sebagai sumber pangan alternatif, pakan ternak, serta diversifikasi pangan. Millet dikenal tahan terhadap kondisi kering dan adaptif terhadap berbagai jenis tanah, sehingga cocok dikembangkan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Namun, seperti tanaman serealia lainnya, produktivitas foxtail millet sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi tanah.

Seiring meningkatnya permintaan pangan organik dan ramah lingkungan, petani dan peneliti mencari solusi alternatif pupuk yang efektif tanpa dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu inovasi yang menarik adalah pemanfaatan pupuk organik berbasis biofouling tiram mutiara (Pearl Oyster Biofouling Fertilizer).
 
Apa Itu Pupuk Biofouling Tiram Mutiara?
Pupuk biofouling tiram mutiara merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari limbah biofouling tiram mutiara (Pinctada maxima), yaitu organisme laut dan mikroorganisme yang menempel pada permukaan tiram. Limbah ini kaya akan bahan organik dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, serta kalium - unsur yang penting untuk pertumbuhan tanaman.

Selain menyediakan unsur hara dasar, pupuk organik ini juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan kesehatan perakaran tanaman.
 

Monday, February 2, 2026

Pupuk ZA untuk Kedelai: Cara Meningkatkan Pembentukan Polong dan Hasil Panen

pemupukan tanaman kedelai
Kedelai (Glycine max) merupakan komoditas strategis dalam pertanian Indonesia. Selain menjadi sumber protein nabati utama, kedelai juga berperan penting dalam industri pangan dan pakan. Namun, salah satu tantangan utama dalam budidaya kedelai adalah rendahnya persentase bunga yang berkembang menjadi polong, yang secara langsung berdampak pada hasil panen.

Dalam praktik budidaya tanaman kedelai, banyak tanaman kedelai terlihat subur dan berbunga lebat, tetapi saat panen jumlah polongnya tidak sebanding. Masalah ini sering kali berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, terutama nitrogen (N) dan sulfur (S), yang berperan penting dalam fase generatif tanaman.

Mengapa Nitrogen dan Sulfur Penting bagi Kedelai?

Nitrogen dikenal sebagai unsur utama pembentuk protein dan klorofil, sementara sulfur berperan dalam pembentukan asam amino esensial, enzim, serta mendukung efisiensi fiksasi nitrogen pada tanaman legum seperti kedelai. Kekurangan salah satu unsur ini dapat menyebabkan gugurnya bunga dan rendahnya pembentukan polong.

Salah satu sumber pupuk yang mengandung nitrogen dan sulfur sekaligus adalah pupuk sulfat amonium atau pupuk ZA. Pupuk ini relatif mudah diserap tanaman dan sudah lama digunakan dalam praktik pertanian.

Apa Kata Penelitian?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia mengkaji pengaruh pemberian pupuk sulfat amonium terhadap perkembangan bunga dan polong kedelai. Penelitian ini menguji empat dosis pupuk ZA, yaitu 0, 100, 200, dan 300 kg per hektare.

Beberapa parameter penting yang diamati meliputi:
  1. Jumlah bunga yang terbentuk
  2. Jumlah polong yang dihasilkan
  3. Persentase bunga menjadi polong
  4. Kandungan sulfur dalam daun

Monday, January 26, 2026

5 Metode Irigasi Modern yang Efektif untuk Pertanian Masa Kini

5 metode Irigasi Modern
Irigasi adalah salah satu aspek paling penting dalam dunia pertanian, karena ketersediaan air menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman dan produktivitas lahan. Dalam era pertanian modern, petani tidak lagi mengandalkan sistem tradisional seperti pengairan manual atau sekadar menggantungkan pada hujan. Kini, telah berkembang berbagai metode irigasi efisien yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menghemat penggunaan air.

5 Metode irigasi tersebut adalah:

1. Irigasi Tetes (Drip Irrigation)
Metode ini menyalurkan air secara langsung ke daerah akar tanaman melalui pipa kecil sehingga meminimalkan pemborosan. Irigasi tetes membantu menjaga kelembapan tanah yang stabil dan sangat cocok untuk tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran.

2. Irigasi Sprinkler
Irigasi ini menyebarkan air seperti hujan buatan melalui semprotan putar. Sistem sprinkler efektif untuk lahan luas dan dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Penjadwalan dan tekanan air yang tepat sangat menentukan efisiensi metode ini.

3. Sensor Kelembapan Tanah
Teknologi sensor memonitor kadar air di dalam tanah secara real-time dan otomatis menghidupkan sistem irigasi ketika tanah terlalu kering. Ini sangat membantu dalam penghematan air.

4. Irigasi Berbasis Cuaca
Sistem ini menyesuaikan jadwal penyiraman berdasarkan data cuaca terbaru sehingga menghindari pemborosan air saat hujan atau kelembapan tinggi.

5. Irigasi Bawah Permukaan (Subsurface Irrigation)
Air dialirkan di bawah permukaan tanah sehingga mencapai langsung zona akar tanaman. Ini meminimalkan penguapan dan kehilangan air.

Tuesday, September 9, 2025

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Kubis

Tanaman kubis (Brassica oleracea var. Capitata L.) merupakan tanaman yang berasal dari daerah sub tropis dan kini mulai banyak dibudidayakan dan dikembangkan di daerah tropis termasuk Indonesia. Di Indonesia, pada awalnya tanaman kubis hanya dibudidayakan di dataran tinggi yang memiliki iklim mendekati daerah asalnya di wilayah sub tropis. Seiring perkembangan teknologi dan pengembangan varietas, kubis mulai banyak dibudidayakan di dataran rendah.
organisme pengganggu tanaman kubis
sumber gambar:
https://asset.kompas.com/crops/UzeRQrH6pn9sB8uEfXlDPn0gyEo=/0x107:1280x960/1200x800/data/photo/2021/09/27/615150cfa4bd3.jpg

Dengan kandungan utama vitamin A dan C serta karakteristik yang cocok sebagai bahan pangan, kubis menjadi salah satu komoditas sayuran penting yang memberikan nilai ekonomi bagi petani. Manfaat ekonomi merupakan salah satu alasan kubis di Indonesia tetap dibudidayakan walaupun produktivitasnya masih lebih rendah dibandingkan di negara-negara sub tropis.

Keberadaan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah salah satu kendala yang harus dihadapi dalam praktik budidaya dan pengembangan komoditas kubis. Pemusnahan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan hanya menggunaka bahan kimia adalah pradigma lama yang sudah semestinya ditinggalkan karena berdampak buruk pada ekosistem. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah pradigma baru yang harus dipraktikkan guna optimasi hasil tanpa merusak lingkungan.

Wednesday, May 20, 2020

Perbanyakan Tanaman Obat secara In Vitro

kultur jaringan

Dengan semakin berkembangnya usaha di bidang pertanian khususnya pada tanaman obat, maka kebutuhan bibit semakin meningkat. Penyediaan bibit melalui perbanyakan konvensional sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan yang sangat banyak dengan waktu relatif cepat. Dengan demikian, teknologi kultur jaringan telah terbukti dapat digunakan sebagai teknologi pilihan yang sangat menjanjikan. Selain sebagai alternative penyediaan bibit, bibit tanaman yang ditumbuhkan secara in vitro dianggap efisien untuk memproduksi metabolit sekunder. Melalui teknik ini, metabolit sekunder yang dihasilkan dalam jaringan tanaman utuh dapat dihasilkan juga dalam sel-sel yang dipelihara pada medium buatan secara aseptic.

Tanaman berkhasiat obat memiliki senyawa bioaktif yang diperoleh dari hasil metabolit sekunder tanaman. Senyawa bioaktif dalam tanaman obat mempunyai efek fisiologis dalam tubuh untuk meningkatkan kesehatan manusia. Jenis senyawa bioaktif yang dimiliki tanaman berbeda-beda tergantung dari jenis tanaman. Senyawa bioaktif yang dihasilkan melalui kultur in vitro lebih seragam dan terkontrol dan dapat ditingkatkan melalui metode elisitasi.

Thursday, April 30, 2020

Mengenal Buah Cempedak

buah cempedak, cempedak

Cempedak mungkin belum merupakan tanaman buah yang dikenal secara luas. Namun berdasar rasa yang dihasilkan oleh buah cempedak, cempedak memiliki potensi untuk menjadi buah unggulan di Indonesia.

Varietas cempedak yang telah dikenal masyarakat secara luas adalah cempedak biasa yang juga merupakan cempedak asli Indonesia. Cempedak memiliki buah yang lonjong, berwarna kuning gading, dan memiliki aroma yang sangat wangi. Daging buah lunak, mudah hancur, dan rasanya manis. Cempedak mampu menghasilkan 60 buah per pohon per tahun.

Selain varietas local Indonesia, cempedak yang sudah banyak dijumpai adalah cempedak Malaysia. Keistimewaan cempedak Malaysia adalah buah tidak disukai lalat buah, lebih cepat berbuah, ukuran buah lebih besar, dan rasanya lebih manis.

Sumber:
Suhartono, Mas. 2008. Mengenal Buah-buah Unggul Indonesia. Nuansa Cendikia, Bandung.

Tuesday, April 14, 2020

Asal Penyebaran Tanaman Srikaya

penyebaran tanaman srikaya
Belum ada sumber yang menyebutkan dengan pasti darimana asal tanaman Srikaya. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Srikaya berasal dari Benua Amerika. Beberapa menyebut Srikaya dari Meksiko dan beberapa yang lain menyebut Srikaya berasal dari Peru. Awalnya Srikaya di domestikasi di daerah tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Awalnya Srikaya adalah tanaman liar yang belum dibudidayakan. Srikaya banyak dijimpai di padang rumput, hutan, dan pinggir jalan.

Penjajah Sanyol membawa biji-biji Srikaya dari Amerika menuju Filipina dan negara-negara di Asia Tenggara. Penjajah Portugis membawa dan memperkenalkan tanaman Srikaya di India Utara sebelum tahun 1590. Srikaya baru masuk Indonesia pada abad ke 17 dibawa oleh orang Belanda.

Tanaman Srikaya dikembangkan besar-besaran di Cina Selatan, Australia, Polinesia, Hawai, Afrika Tropis, Mesir, dan dataran rendah Palestina. Budidaya Srikaya baru mulainya intensif di daaerah India. Di India, terdapat beberapa kultivar Srikaya dan buahnya telah banyak dijumpai di pasar-pasar.

Wednesday, September 4, 2019

Gulma Lahan Pasir Pantai


Lahan pasir pantai merupakan lahan marjinal yang memiliki produktivitas rendah. Produktivitas lahan pasir pantai yang rendah disebabkan oleh faktor pembatas yang berupa kemampuan memegang/menyimpan air rendah, infiltrasi tinggi, bahan organik sangat rendah dan efisiensi penggunaan air rendah (Kertonegoro, 2001; AlOmran, et al., 2004). Namun pemanfaatan lahan pasir pantai untuk pengembangan sektor komoditas pertanian semakin kerbkembang dari tahun ke tahun berkat teknologi yang selalu berkembang.
Jenis-jenis gulma penyusun suatu vegetasi bergantung pada kondisi lahan. Perbedaan kondisi lahan disebabkan oleh penyusun sifat fisik dan karakteristik itu lahan itu sendiri. Lahan pasir pantai sebagai lahan pertanian juga memiliki karakteristik dan sifat lahan yang berbeda dibandingkan lahan pertanian pada umumnya. Setiap jenis tumbuhan termasuk gulma memperlihatkan reaksi dan daya adaptasi berbeda jika lingkungannya berubah. Jenis tumbuhan yang dapat tumbuh normal pada keadaan stres tergolong jenis toleran, mampu berdaptasi pada intensitas sedangakan yang tidak dapat beradaptasi tergolong jenis peka. Salah satu faktor lingkungan tumbuh yang dapat berubah adalah radiasi cahaya. Besarnya pengurangan radiasi tergantung struktur kanopi dan ini sangat ditentukan umur dan pertumbuhannya.
Kondisi lahan yang terbuka (tanpa naungan) di pasir pantai memiliki intensitas cahaya dan suhu yang lebih tinggi dibandingkan lahan ternaungi. Komposisi gulma di lahan pasir pantai memiliki toleransi suhu yang tinggi, karena gulma dapat tumbuh dan berkembang di lahan tersebut. Komposisi gulma berjenis rumputan dan tekian lebih mendominasi seperti Axonopus compresus, Digitaria cillaris,Echinochloa colonum, Bulbostylis puberua, sedangkan gulma daun lebar yang ada adalah Melochia carchorifolia dll. Gulma yang paling dominan seperti Axonopus compressus memiliki organ vegetatif stolon sebagai organ perkembangbiakannya. Stolon merupakan batang yang silindris dan menjalar di permukaan tanah yang dapat membentuk akar dan tunas daun serta pada beberapa jenis menjalar di permukaan air. Stolon yang terpotong-potong dapat secara cepat menutupi permukaan tanah.
 Axonopus compressus

Gulma Axonopus compressus atau yang dalam bahasa Indonesia disebut Rumput pahit adalah jenis gulma tahunan berdaun sempit (rumputan) yang kompetitif dan meproduksi biji tinggi, sehingga penyebarannya lebih cepat. Kondisi kecepatan angin yang tinggi di daerah lahan pasir pantai menyebabkan penyebaran biji gulma tersebut juga semakin tinggi. Hendrival dkk (2014) dalam penelitiannya yang dilakukan di lahan pasir pantai, menyebutkan bahwa spesies gulma yang dominan tumbuh di pertanaman kedelai adalah Dichrocephala integrifolia, Mimosa pudica, Ipomoea triloba, Ageratum conyzoides, Cleome rutidosperma, dan Axsonopus compressus. Gulma tersebut dapat menurunkan komponen hasil kedelai seperti berat biji pertanaman, jumlah polong per tanaman dan berat 100 biji.

Sumber            :
Al-Omran, A.M., A.M. Falatah, A.S. Sheta and A.R.Al-Harbi. 2004. Clay deposits for water management of sandy soils. Arid Land Research and Management 1 : 171-183.  
Hendrival, Z. Wirda dan A. Azis. 2014. Periode kritis tanaman kedelai terhadap persaingan gulma. Jurnal Floratek 9 : 6-13.

Friday, February 1, 2019

Sistem Tanam Benih Langsung

jajar legowo, sitem tanam padi metode tanam benih langsung
Sistem tanam benih padi langsung atau masyarakat lebih mengenalnya dengan sistem sebar adalah salah satu sistem tanam padi tanpa melalui proses pembibitan dan pindah tanam, melainkan dengan menanam benih langsung ke lahan. Sistem tanam benih langsung (tabela) dapat menjadi alternatif bagi petani yang bertujuan mengurangi biaya, penggunaan tenaga kerja dan mengejar masa tanam yang serentak dengan biaya relatif murah (Pane, 2003).

Umumnya petani di luar jawa yang menggunakan sistem tanam tersebut. Adanya upaya ekstensifikasi pertanian dari pemerintah melalui program Perluasan Areal Tanam (PTT), menjadikan lahan rawa pasang surut yang kebanyakan berada di luar Jawa dinilai dapat menopang kebutuhan perluasan areal tanam. Menurut Litbang Pertanian (2015), wilayah-wilayah yang potensial untuk menerapkan Tabela antara lain Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sumatera, dan Papua. 

Thursday, January 31, 2019

Mulsa Jerami untuk Budidaya Tanaman

penggunaan mulsa jerami untuk budidaya tanaman
Mulsa adalah material penutup tanah pada tanaman budidaya yang bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma serta penyakit sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Mulsa dibedakan menjadi dua macam, yaitu mulsa organik dan mulsa anorganik. Mulsa organik adalah mulsa yang berasal dari bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman, jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman lain. Mulsa anorganik terbuat dari bahan sintetis seperti mulsa plastik.

Keuntungan dari mulsa jerami adalah sangat mudah didapat terlebih lagi jika lahan sawah yang akan ditanami adalah lahan bekas padi. Jerami sisa bertani tidak perlu dibakar, jerami ini bisa digunakan sebagai mulsa yang mudah terurai dan dapat menambahkan kandungan anorganik dalam tanah. Menurut Yelianti et al., 2009 jerami padi memiliki kandungan bahan organik sebesar 40,87%; N 1,01%; P 0,15%; dan K 1,75%. Semakin lama jerami berada di permukaan tanah maka akan memperbaiki struktur tanah dan menambah unsur hara pada tanaman. Mulsa jerami diberikan setelah benih ditanam, yaitu dengan cara memotong tunggak padi yang masih tersisa, sehingga jerami tersebar dan dapat menutup tanah.

Thursday, June 7, 2018

Metode Penen Tanaman Kedelai

Panen merupakan salah satu tahapan dalam budidaya tanaman kedelai yang turut serta menentukan kuantitas hasil budidaya. Secara ekonomi, kegiatan panen akan berpengeruh terhadap pendapatan usahatani. 

Kegiatan panen harus dilakukan dengan baik dan benar untuk meminimalir kehilangan hasil akibat panen. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan komoditas kedelai adalah umur panen, waktu panen, dan cara pemanenan.

1. Umur Panen
Umur panen kedelai tergantung pada varietas kedelai yang ditanam. Kedelai genjah dapat dipenan pada umur kurang dari 80 hari. Kedelai sedang dipanen pada umur 80-85 hari. Dan kedelai dalam dipanen saat berumur lebih dari 86 hari. 

Kedelai memiliki umur masak fisiolgis yang lebih panjang ketika ditanam di daerah yang lebih tinggi. Selisih umur panen kedelai pada dataran tinggi dan dataran rendah adalah sekitar 10-20 hari. Penggunaan kedelai juga berpengaruh terhadap umur panen tanaman kedelai. Kedelai yang dipanen untuk tujuan konsumsi dipanen pada umur 75-100 hari. Dan kedelai yang akan dijadikan benih dipenen pada saat tanaman berumur 100-110 hari. 

Ciri kedelai yang sudah matang secara fisiologis adalah sebagian besar daun (90-95%) sudah menguning, kecoklatan, lalu gugur. Batang sudah kering dan berubah warna dari hijau menjadi kuning. Polong juga sudah kelihatan tua, agak kuning, dan gundul.

Tuesday, April 17, 2018

Pengaruh Ketersediaan Sulfur Terhadap Pertumbuhan Bawang Merah

pupuk sulfur untuk budidaya bawang merah
Setiap tanaman memiliki serapan unsur hara yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan metabolisme tiap tanaman. Pada dasarnya sulfur diserap tanaman dan diasimilasi melalui jalur asimilasi. Pada tanaman bawang merah, serapan sulfur cukup tinggi. Dibandingkan dengan tanaman yang lain seperti tanaman gandum dan bit, bawang merah adalah salah satu tanaman yang memiliki serapan dan kebutuhan pupuk sulfur yang tinggi.

Serapan sulfur yang termasuk tinggi pada tanaman bawang merah memberikan dampak terhadap kebutuhan sulfur yang juga tinggi. Dosis atau level sulfur yang tepat menentukan pertumbuhan dan kualitas umbi. Hal ini berkaitan pula dengan pemberian sulfur yang dapat mempengaruhi serapan hara lain seperti N, P dan K pada tanaman. Menurut Tisdale et al., (1989) salah satu peran sulfur dalam meningkatkan hasil tanaman yaitu melalui peningkatkan efisiensi penggunaan unsur hara tanaman esensial lainnya terutama nitrogen dan fosfor.

Fungsi Sulfur pada Bawang Merah

Dalam budidaya bawang merah, pemupukan dengan unsur sulfur menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Sulfur (S) merupakan unsur makro yang penting dalam pertumbuhan tanaman. Tanaman yang terkandung unsur S memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingan dengan tanpa unsur S ( Buchner et al., 2004 dan Hawkesford dan De Kok, 2006). Allium memiliki varietas umbi terbanyak diantara sayuran umbi yang lainnya (Li et al., 2010) antara lain A. cepa L. (Bawang), A. sativum L. (Bawang Putih), A. porrum L. (Daun Bawang), A. schoenoprasum L. (Daun Bawang), and A. fistulosum L. (Bawang Welsh) merupakan jenis bawang yang banyak dibudidayakan dan di konsumsi di seluruh dunia baik sebagai bahan makanan maupun obat (Fritsch dan Friesen, 2002).
tanaman bawang merah
Fungsi sulfur pada umbi bawang merah mengenai kuantitas bawang merah berkaitan erat dengan ukuran dan banyaknya umbi yang dihasilkan. Aroma yang khas dikeluarkan pada umbi juga berkaitan erat dengan kandungan Sulfur. Umbi bawang merah mengandung senyawa - senyawa yang dipercaya berkhasiat sebagai antiinflamasi dan antioksidan seperti kuersetin yang bertindak sebagai agen untuk mencegah sel kanker. Kuersetin, selain memiliki aktivitas sebagai antioksidan, juga dapat beraksi sebagai antikanker pada regulasi siklus sel, berinteraksi dengan reseptor estrogen (ER) tipe II

Tuesday, December 5, 2017

Media Simpan untuk Mempertahankan Viabilitas Benih Kakao

Bahan tanam merupakan salah satu faktor terpenting penentu keberhasilan budidaya tanaman. Bahan tanam yang bermutu baik dari sisi genetik dan fisiologis akan menghasilkan tanaman yang vigor dan berproduksi tinggi.

Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menggunakan biji/benih sebagai bahan tanam. 
bibit tanaman kakao
Benih kakao termasuk benih rekalsitran dimana akan sangat mengalami kemunduran ketika berada di lingkungan simpan dengan suhu dan kadar air yang rendah. Kisaran batas kadar air benih kakao yang disimpan adalah berkisar antara 25-35C. Kisaran tersebut didapatkan dengan pengeringan dan atau menghembuskan udara kering ke area benih kakao.

Diperlukan perlakuan khusus selama penyimpaan agar benih kakao tetap memiliki kualitas dan mutu yang baik. Pada prinsipnya, bahan pengemas benih harus dipilih dari bahan yang dapat mencegah terjadinya peningkatan kadar air benih selama penyimpanan. Syarat-syarat tersebut diantaranya: (1) Mampu menahan masuknya air dan uap air ke dalam kemasan, (2). Mampu menahanpertukaran gas-gas, (3). Mudah didapat, bahan kuat, dan tidak beracun, (4). Harga terjangkau, dan (5). Mudah dicetak untuk logo, merk dan keterangan lainnya.

Saturday, December 2, 2017

Implementasi Penggunaan Cara Tanam Legowo dalam Pengelolan Tanaman Terpadu Padi sawah

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah merupakan pendekatan yang inovatif dan dinamis dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. Komponen dalam PTT meliputi komponen dasar dan komponen pilihan. Komponen dasar merupakan komponen yang sangat dianjurkan agar diaplikasikan semetara koponen pilihan adalah komponen yang dapat disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat. 
jajar legowo untuk sistem penanaman padi
Komponen dasar dalam PTT meliputi:
1. Varietas unggul baru, hibrida, atau inhibrida
2. Benih bermutu dan berlabel
3. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau sudah dalam bentuk kompos
4. Pengaturan populasi secara optimum.
5. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah (menggunakan BWD)
6. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu 

Komponen pilihan terdiri dari:
1. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam
2. Penggunaan ibit muda (<21 hari) bila kondisi lahan tidak banyak dijumpai keong mas,
3. Tanam bibit 1-3batang per rumpun.
4. Pengairan secara efktif dan efisien
5. Penyiangan dengan landak dan gasrok
6. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontokkan.

Jajar Legowo
Pada prinsipnya, jajar legowo merupakan salah satu teknis dalam mengatur populasi tanaman. Hingga batas populasi tertentu, semakin tinggi populasi tanaman maka akan semakin banyak malai per satuan luas sehingga berpeluang menaikkan hasil panen.

Jajar legowo dilakukan dengan mengosongkan satu baris tanaman sehingga dikenal dengan legowo 2:1 apabila satu baris kosong diselingi oleh dua baris tanaman padi atau 4:1 bila diselingi empat baris tanaman. 

Walaupun terdapat baris yang kosong, pouplasi tanaman pada sistem jajar legowo adalah lebih tinggi daripada pertanaman padi konvensioanl. Hal ini karena jarak tanam pada sistem jajar legowo dijadikan semakin rapat. Dengan jarak tanam yang semakin rapat maka dapat menekan dan mengurangi serangan tikus, keong mas, dan keracunan besi. 

Keuntungan Jajar Legowo
Beberapa keuntungan penanaman dengan sitem jajar legowo adalah sebagai berikut:
1. Semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (border effect).
2. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah karena menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpulkeong mas, atau untuk mina padi.
3. Penggunaan pupuk lebih berdaya guna.

Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia. 2010. Implementasi penggunaan sitem legowo dalam PTT Padi Sawah. 

Thursday, October 12, 2017

Pemeliharaan Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott)

Pemeliharaan tanaman dilakukan untuk menyediakan kondisi yang ideal untuk pertumbuhan tanaman. Dalam budidaya tanaman talas, pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan, pemupukan, dan pengairan.

Penyiangan dan pembumbunan
Peyiangan dilakukan sejak tanaman bermur 1 minggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan dengan tujuan mengendalikan atau bahkan menghilangkan gulma agar tidak berkompetisi dengan tanaman talas dalam mendapatkan air, nutrisi, ruang tumbuh, dan sinar matahari. Penyiangan juga dilakukan untuk memudahkan teknis perawatan yang lain. Pembumbunan dilakukan dengan menutup pangkal batang dan akar dengan tanah agar tanaman lebih kokoh dan tahan terhadap terpaan angin. Pembumbunan juga dilakukan untuk menyediakan ruang tumbuh yang lebih besar sehingga hasil umbinya juga lebih besar.
pemeliharaan tanaman talas
Pemupukan
Pemupukan dilakukan sebanyak 4 kali. Pupuk dasar diberikan beramaan dengan pengolahan tanah sebelum bibit ditanam. Pupuk dasar berupa pupuk kandang dengan takaran 1 ton/ha. Pemupukan kedua diberikan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Pupuk yang diberikan berupa 100 kg urea/ha dan 50 kg TSP/ha. Pemupukan diberikan dengan membuat lubang pupuk di samping tanaman berjarak 3 cm. Pemupukan ketiga dan keempat dilakukan saat tanaman berumur 3 bulan dan 5 bulan masing-masing mengguanakan urea sebanyak 100 kg/ha. Aplikasi dilakukan dengan membuat larikan disamping tanaman sejauh 7 cm pada pemupukan ketiga dan 10 cm pada pemupukan keempat.

Pengairan
Talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Lingkungan tumbuh yang kurang air menyebabkan tanaman talas tidak mampu menhasilkan umbidengan optimal dan bahkan mungkin menyebabkan kematian pada tanaman talas. Pengairan dilakukan dengan sistem penggenangan pada bedengan dan segera diatuskan segera setelah tanah menggenang. 

Saturday, September 30, 2017

Pengolahan Tanah dan Penanaman Talas

Dalam budidaya tanaman talas, pengolahan tanah perlu dilakukan untuk menciptakan kondisi lahan yang sesuai untuk pertanaman talas. Umumnya, talas ditanam setelah pertanaman padi atau pertanaman sayuran. Perlakuan pengolahan tanah untuk pertanaman talas setelah padi berbeda dengan yang setelah sayuran.

Pengolahan tanah setelah pertanaman padi dimulai dengan pembabatan jerami. Jerami selanjutnya dikumpulkan kemudian dibakar. Tanah dibiarkan beberapa hari, dicangkul, dihaluskan, lalu dibuat bedengan dan diberi pupuk dasar. Pengolahan tanah setelah tanaman sayuran dimulai dengan penyiangan gulma, pencangkulan dan penghalusan tanah, pembuatan bedengan, dan pemupukan dasar.
pengolahan tanah tanaman talas
Bedengan dibuat dengan lebar 1,2 meter dan panjang menyesuaikan panjang lahan. Untuk tanah yang masam, perlu diberi kapur dengan takaran 1 ton/Ha.Untuk tanah ber-pH normal cukup diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang. 

Talas umumnya ditanam dengan jarak 74 x 75 dan kedalaman 30 cm atau sesuai dengan keadaan lahan dan musim penanaman. Penanaman di lahan sawah menggunakan jarak tanam yang lebih rapat ketika ditanam di musim kemarau. Intensitas dan durasi penyinaran yang lama pada musim kemarau cukup untuk menguapkana air di sekitar pertanaman talas sehingga kelembaban udara di sekitar pertanaman talas menjadi optmal. Jarak tanam yang rapat pada musim penghujan kurang tepat karena akan menciptakan kondisi kelembaban yang terlalu tinggi sehingga lebih rentan terserang organisme pengganggu tanaman penyebab penyakit. 

Penanaman dilakukan dengan cara meletakkan bibit talas tepat di tengah lubang dengan posisi tegak lurus. Lubang kemudian ditutup dengan tanah sampai batang talas tidak rebah (sekitar 7 cm). Sisa lubang kemudian ditutup dengan menggunakan pupuk kandang atau kompos. 

Refferensi:
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas. 

Wednesday, September 27, 2017

Budidaya Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott).

Talas memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Talas mengandung karbohidrat yang tinggi, protein,dan vitamin sehingga dapat digunakan sebagai makanan pokok pengganti beras. Talas juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena hampir semua organnya dapat dimanfaatkan. Selain kedua hal tersebut, potensi pengembangan talas didukung oleh kemudahan budidaya tanaman talas. 

berikut adalah tahapan budidaya tanaman talas.

Lokasi penanaman menentukan keberhasilan budidaya tanaman talas. Lokasi penanaman dipilih berdasarkan persyaratan tumbuh tanaman talas. Lokasi penanaman yang sudah sesuai dengan syaratu tumbuh tanaman hanya sedikit membutuhkan modifikasi sehingga terjadi efisiensi biaya. 

Bibit yang baik akan menghasilkan tanaman dan panenan yang baik. Asal bibit tanaman talas dapat diperoleh dari potongan umbi atau juga dari anakan tanaman. 

Secara umum, talas ditanam pada bedengan bedengan dengan maksud tetap mendapatkan suplai air tanpa membuat tanaman talas tergenang. Talas ditanam dengan jarak tanam 75 x 75 dan ditanam pada musim penghujan.

Pemeliharaan tanaman ada budidaya tanaman talas meliputi penyiangan dan pembumbunan, pemupukan, serta pengairan dan penyiraman.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman dilakukan secara manual, fisik, kimiawi, dan biologi. Pengendalian organisme pengganggu tanaman diakukan segera setelah populasi haa atau gejala penyakit sudah berada di atas ambang batas ekonomi.

f. Panen
Talas dipanen setelah berumur 6-9 bulan. Panen dilakukan dengan mencabut pohon talas beserta umbinya. 

Refferensi: 
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas.