Monday, February 23, 2026

Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Foxtail Millet dengan Pupuk Biofouling Tiram Mutiara

Pendahuluan: Tantangan Produksi Foxtail Millet
Tanaman foxtail millet (Setaria italica L.) merupakan salah satu jenis millet yang semakin populer di berbagai wilayah tropis sebagai sumber pangan alternatif, pakan ternak, serta diversifikasi pangan. Millet dikenal tahan terhadap kondisi kering dan adaptif terhadap berbagai jenis tanah, sehingga cocok dikembangkan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Namun, seperti tanaman serealia lainnya, produktivitas foxtail millet sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi tanah.

Seiring meningkatnya permintaan pangan organik dan ramah lingkungan, petani dan peneliti mencari solusi alternatif pupuk yang efektif tanpa dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu inovasi yang menarik adalah pemanfaatan pupuk organik berbasis biofouling tiram mutiara (Pearl Oyster Biofouling Fertilizer).
 
Apa Itu Pupuk Biofouling Tiram Mutiara?
Pupuk biofouling tiram mutiara merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari limbah biofouling tiram mutiara (Pinctada maxima), yaitu organisme laut dan mikroorganisme yang menempel pada permukaan tiram. Limbah ini kaya akan bahan organik dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, serta kalium - unsur yang penting untuk pertumbuhan tanaman.

Selain menyediakan unsur hara dasar, pupuk organik ini juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan kesehatan perakaran tanaman.
 

Wednesday, February 18, 2026

Peran Jamur Mikoriza Arbuskular dalam Meningkatkan Pertumbuhan Porang


Pendahuluan: Potensi Porang untuk Pertanian Indonesia

Porang (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian bernilai tinggi yang mulai populer sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri, terutama untuk pembuatan glucomannan. Porang juga tumbuh baik di dataran rendah hingga sedang dengan pengelolaan yang tepat. Namun, pertumbuhan dan produktivitas porang masih dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan hara dan kesehatan akar tanaman.

Salah satu solusi untuk meningkatkan pertumbuhan porang yang berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) — jamur tanah yang membentuk simbiosis mutualisme dengan akar tanaman. AMF membantu tanaman menyerap hara, terutama fosfor, serta meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan.

Penelitian Response of Porang to the Application of Arbuscular Mycorrhizal Fungi ini mengevaluasi bagaimana pemberian AMF memengaruhi pertumbuhan porang, termasuk biomassa dan kesehatan sistem akar, sebagai dasar rekomendasi praktik budidaya yang lebih efektif.
 
Apa Itu Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF)?

Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) adalah kelompok jamur tanah yang membentuk hubungan simbiotik dengan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan hifa (filamen) ke dalam tanah sehingga meningkatkan kemampuan penyerapan air serta unsur hara, terutama fosfor (P) yang penting bagi pertumbuhan tanaman umbi seperti porang.
Manfaat AMF untuk Tanaman Porang

Saturday, February 14, 2026

Dampak Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Fungsi Hidrologis DAS Ciujung

Pendahuluan: Mengapa Pengelolaan DAS Penting?
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan sistem alami yang mengatur aliran air dari hulu ke hilir dan menyediakan air bagi berbagai kebutuhan seperti pertanian, domestik, industri, dan ekosistem. Penelitian ilmiah di Land Use Change, Hydrological Responses and Water Balance of Upstream Ciujung Watershed mengkaji bagaimana perubahan penggunaan lahan di bagian hulu DAS Ciujung (Provinsi Banten dan sebagian Bogor) berpengaruh terhadap fungsi hidrologis dan keseimbangan air di kawasan tersebut.
 
Tren Perubahan Lahan (2016–2021)
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa antara tahun 2016 dan 2021 terjadi konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan areal bukan hutan. Luas hutan primer, sekunder, dan hutan produksi berkurang cukup signifikan, sedangkan lahan pertanian kering serta pemukiman meningkat. Perubahan ini menunjukkan adanya desakan kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian dan pemukiman penduduk.
 
Dampak Deforestasi
Pengurangan tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan dalam menyerap air hujan dan memperlambat aliran permukaan. Hal ini berdampak langsung pada fungsi DAS sebagai buffer terhadap banjir dan kekeringan, terutama pada musim hujan dan kemarau.
 
Respon Hidrologis terhadap Perubahan Tata Guna Lahan
Koefisien Aliran dan Respon Aliran

Penelitian menggunakan parameter Flow Regime Coefficient (FRC) dan Annual Flow Coefficient (AFC) untuk mengevaluasi respon hidrologi sungai. Pada periode 2012–2016, FRC termasuk kategori rendah, menandakan aliran sungai lebih seimbang antara musim hujan dan kemarau. Namun, pada periode 2017–2021, FRC meningkat ke tingkat menengah, yang berarti fluktuasi aliran lebih tajam akibat penurunan tutupan hutan. AFC juga menurun, menunjukkan perubahan cara air terdistribusi di dalam DAS dan berkurangnya kontribusi aliran dasar akibat perubahan lahan.
 

Friday, February 6, 2026

Kearifan Lokal Jawa sebagai Kunci Ketahanan Petani Hortikultura di Magelang

Pendahuluan: Tantangan Petani Hortikultura di Magelang
Wilayah Sawangan, Ngablak, dan Srumbung di Kabupaten Magelang dikenal sebagai sentra hortikultura dataran tinggi. Sayuran seperti kubis, wortel, cabai, dan sawi menjadi komoditas utama yang menopang ekonomi rumah tangga petani. Namun, di balik produktivitas yang tinggi, petani hortikultura menghadapi tantangan serius berupa fluktuasi harga pasar, ketergantungan pada tengkulak, serta risiko gagal panen.

Kondisi ini menuntut petani tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga tangguh secara sosial dan mental. Di sinilah konsep ketahanan komunitas petani menjadi penting untuk dipahami.

Apa Itu Ketahanan Komunitas Petani?
Ketahanan komunitas (community resilience) merujuk pada kemampuan komunitas petani untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dalam konteks pertanian hortikultura di Magelang, ketahanan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh jejaring sosial, budaya lokal, dan strategi adaptif petani.

Penelitian menunjukkan bahwa ketahanan petani bukan hanya ditentukan oleh harga atau hasil panen, tetapi juga oleh hubungan sosial dan nilai budaya yang hidup di masyarakat.

Peran Kearifan Lokal Jawa dalam Ketahanan Petani

Nilai Nrimo, Gemi, dan Setiti
Budaya Jawa memiliki nilai-nilai lokal seperti nrimo (menerima keadaan dengan bijak), gemi (hidup hemat), dan setiti (berhati-hati dalam mengambil keputusan). Nilai ini membentuk sikap mental petani untuk tetap tenang saat harga jatuh dan tidak gegabah dalam mengelola modal maupun sumber daya.

Monday, February 2, 2026

Pupuk ZA untuk Kedelai: Cara Meningkatkan Pembentukan Polong dan Hasil Panen

pemupukan tanaman kedelai
Kedelai (Glycine max) merupakan komoditas strategis dalam pertanian Indonesia. Selain menjadi sumber protein nabati utama, kedelai juga berperan penting dalam industri pangan dan pakan. Namun, salah satu tantangan utama dalam budidaya kedelai adalah rendahnya persentase bunga yang berkembang menjadi polong, yang secara langsung berdampak pada hasil panen.

Dalam praktik budidaya tanaman kedelai, banyak tanaman kedelai terlihat subur dan berbunga lebat, tetapi saat panen jumlah polongnya tidak sebanding. Masalah ini sering kali berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, terutama nitrogen (N) dan sulfur (S), yang berperan penting dalam fase generatif tanaman.

Mengapa Nitrogen dan Sulfur Penting bagi Kedelai?

Nitrogen dikenal sebagai unsur utama pembentuk protein dan klorofil, sementara sulfur berperan dalam pembentukan asam amino esensial, enzim, serta mendukung efisiensi fiksasi nitrogen pada tanaman legum seperti kedelai. Kekurangan salah satu unsur ini dapat menyebabkan gugurnya bunga dan rendahnya pembentukan polong.

Salah satu sumber pupuk yang mengandung nitrogen dan sulfur sekaligus adalah pupuk sulfat amonium atau pupuk ZA. Pupuk ini relatif mudah diserap tanaman dan sudah lama digunakan dalam praktik pertanian.

Apa Kata Penelitian?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia mengkaji pengaruh pemberian pupuk sulfat amonium terhadap perkembangan bunga dan polong kedelai. Penelitian ini menguji empat dosis pupuk ZA, yaitu 0, 100, 200, dan 300 kg per hektare.

Beberapa parameter penting yang diamati meliputi:
  1. Jumlah bunga yang terbentuk
  2. Jumlah polong yang dihasilkan
  3. Persentase bunga menjadi polong
  4. Kandungan sulfur dalam daun