Tuesday, June 23, 2026
Mengapa Tanaman Penutup Tanah Penting di Kebun Kelapa Sawit? Temuan Baru tentang Fotosintesis dan Penyimpanan Karbon
Tuesday, April 14, 2026
Temua Riset Terbaru : Pupuk Mikro Seng dan Boron Terbukti Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis Hingga 78%
Peran Unsur Mikro dalam Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis
Jagung manis (Zea mays L. var. saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan karena rasa manis serta kandungan gizinya. Produktivitas tanaman ini dipengaruhi oleh berbagai faktor agronomi, salah satunya adalah pengelolaan nutrisi tanaman. Selain unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), tanaman juga memerlukan unsur mikro untuk mendukung pertumbuhan optimal.
Dalam praktik budidaya, perhatian terhadap unsur mikro sering kali masih terbatas. Padahal, unsur seperti seng (Zn) dan boron (B) memiliki peran penting dalam proses fisiologis tanaman jagung, termasuk pembentukan enzim, sintesis protein, perkembangan sel, serta transportasi nutrisi. Kekurangan kedua unsur ini dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, penyerbukan kurang optimal, hingga penurunan hasil panen.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, sebuah penelitian dari peneliti agronomi melakukan evaluasi efektivitas pupuk mikro yang mengandung seng dan boron pada budidaya jagung manis di kondisi agroekosistem tropis.
Metode Penelitian: Menguji Kombinasi Pupuk Mikro dan NPK
Penelitian dilakukan pada tahun 2025 di Kebun Percobaan Sindangbarang, Fakultas Pertanian IPB University, Bogor. Percobaan lapangan menggunakan rancangan percobaan randomized complete block design dengan empat perlakuan pemupukan.
Empat perlakuan tersebut meliputi:
Tanpa pemupukan sebagai kontrol
Pemupukan standar menggunakan NPK
Pupuk standar NPK ditambah satu dosis pupuk mikro
¾ dosis pupuk NPK ditambah satu dosis pupuk mikro
Pupuk mikro yang digunakan mengandung sekitar 5,46% seng (Zn) dan 3,59% boron (B). Penelitian ini juga dilakukan dengan enam ulangan untuk memastikan hasil yang lebih akurat secara statistik.
Tuesday, March 17, 2026
Hama dan Penyakit pada Kopi Gayo: Ancaman Tersembunyi di Sistem Agroforestri di Aceh
Kopi Gayo dan Sistem Agroforestri yang Menjadi Andalan Petani
Kopi Gayo merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang dikenal luas di pasar internasional. Kopi ini berasal dari dataran tinggi wilayah Gayo di Aceh Tengah dan terkenal karena kualitas rasa serta sistem budidayanya yang banyak menggunakan pendekatan agroforestri. Dalam sistem ini, tanaman kopi ditanam bersama berbagai jenis pohon pelindung dan vegetasi lain yang membentuk ekosistem menyerupai hutan alami.
Sistem agroforestri pada budiaya tanaman kopi tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta meningkatkan stabilitas ekosistem pertanian. Namun, meskipun memiliki banyak keunggulan, sistem ini tetap menghadapi tantangan serius berupa serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menurunkan produktivitas kopi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi dalam sistem agroforestri di wilayah Gayo, Aceh Tengah. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi tingkat serangan organisme pengganggu tanaman yang berpotensi mempengaruhi produksi kopi di daerah tersebut.
Identifikasi Hama yang Menyerang Tanaman Kopi
Jenis Hama yang Ditemukan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis hama utama yang ditemukan pada tanaman kopi di sistem agroforestri wilayah Gayo. Hama-hama tersebut menyerang berbagai bagian tanaman, mulai dari daun, batang, hingga buah kopi.
Penyakit Tanaman Kopi yang Ditemukan
Penyakit Daun dan Batang
Selain hama serangga, penelitian juga menemukan beberapa jenis penyakit tanaman yang menyerang kopi di sistem agroforestri. Penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh mikroorganisme seperti jamur yang berkembang pada kondisi lingkungan tertentu.
Salah satu penyakit yang sering ditemukan adalah penyakit karat daun kopi. Penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak berwarna kuning hingga oranye pada permukaan daun. Jika serangan cukup parah, daun dapat mengalami kerontokan sehingga mengganggu proses fotosintesis tanaman.
Selain karat daun, terdapat pula penyakit lain yang menyerang bagian batang dan cabang tanaman kopi. Penyakit tersebut dapat menyebabkan jaringan tanaman rusak sehingga menghambat pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Penyakit
Kondisi lingkungan dalam sistem agroforestri memiliki pengaruh terhadap perkembangan penyakit tanaman. Kelembapan yang relatif tinggi serta keberadaan vegetasi pelindung dapat menciptakan kondisi mikroklimat yang mendukung pertumbuhan patogen tertentu.Namun demikian, sistem agroforestri juga memiliki sisi positif karena keberagaman vegetasi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk keberadaan musuh alami hama.
Dampak Hama dan Penyakit terhadap Produktivitas Kopi
Serangan hama dan penyakit pada tanaman kopi dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen. Kerusakan pada daun dapat mengurangi kemampuan tanaman dalam melakukan fotosintesis, sementara serangan pada buah dapat langsung menurunkan kualitas biji kopi.
Pentingnya Pengelolaan Hama dalam Sistem Agroforestri
Monday, March 9, 2026
Cara Mengurangi Pupuk NPK 25% pada Tanaman Cabai dengan Kompos Limbah Sawit dan Pupuk Hayati
Tuesday, March 3, 2026
Meningkatkan Produktivitas Tomat di Tanah Aluvial melalui Trichokompos dan Pupuk Kalsium
Apa Itu Trichokompos dan Pupuk Kalsium?
Metode Penelitian: Rancangan yang Terukur
Hasil yang Menarik: Peningkatan Produktivitas Tomat
Mengapa Ini Penting bagi Petani Tomat?
Temuan ini membawa pesan penting bagi petani tomat dan penyuluh pertanian yang bekerja di daerah dengan tanah aluvial atau tanah berkualitas rendah. Dengan menggunakan trichokompos dan pupuk kalsium sebagai bagian dari strategi pemupukan, petani dapat:
- Meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama pada fase awal kehidupan tanaman.
- Mengoptimalkan jumlah dan berat buah tomat yang dihasilkan, sehingga meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
- Memperbaiki kualitas tanah secara berkelanjutan, tanpa tergantung pada pupuk kimia sintetis secara berlebihan.
- Mengurangi risiko fisiologis pada buah, seperti kelainan akibat kekurangan kalsium.
Kesimpulan
Monday, March 2, 2026
Mengoptimalkan Pupuk Organik: Efektivitas Kompos Baglog Jamur Tiram untuk Pertumbuhan Cabai Merah
Metode Penelitian: Rancangan Percobaan yang Terstruktur
P1: 100% tanah subur (kontrol)
P2: 50% tanah subur + 50% kompos baglog
P3: 35% tanah subur + 65% kompos baglog
P4: 20% tanah subur + 80% kompos baglog
P5: 5% tanah subur + 95% kompos baglog
Setiap perlakuan diulang lima kali untuk mengurangi kesalahan percobaan dan meningkatkan validitas data. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, dan jumlah buah.
Saturday, February 28, 2026
Strategi Terpadu Mengatasi Toksisitas Aluminium pada Tanah Asam Tropis
Toksisitas Aluminium pada Tanaman
Saat pH tanah turun (tanah menjadi lebih asam), aluminium yang secara alami terdapat dalam mineral tanah berubah menjadi ion Al³⁺ yang sangat reaktif dan beracun bagi tanaman. Ion ini menempel pada permukaan akar, menyebabkan pertumbuhan akar terhambat, memicu gangguan penyerapan air dan hara, serta menekan produksi tanaman. Gangguan ini dapat berujung pada penurunan hasil panen dan kualitas tanaman.
Mekanisme Toleransi Tanaman terhadap Aluminium
Tanaman yang mampu bertahan di tanah asam memiliki beberapa mekanisme adaptasi terhadap stres aluminium. Jurnal ini merangkum bahwa ada dua strategi utama yang digunakan tanaman:
Monday, February 23, 2026
Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Foxtail Millet dengan Pupuk Biofouling Tiram Mutiara
Tanaman foxtail millet (Setaria italica L.) merupakan salah satu jenis millet yang semakin populer di berbagai wilayah tropis sebagai sumber pangan alternatif, pakan ternak, serta diversifikasi pangan. Millet dikenal tahan terhadap kondisi kering dan adaptif terhadap berbagai jenis tanah, sehingga cocok dikembangkan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Namun, seperti tanaman serealia lainnya, produktivitas foxtail millet sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi tanah.
Seiring meningkatnya permintaan pangan organik dan ramah lingkungan, petani dan peneliti mencari solusi alternatif pupuk yang efektif tanpa dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu inovasi yang menarik adalah pemanfaatan pupuk organik berbasis biofouling tiram mutiara (Pearl Oyster Biofouling Fertilizer).
Apa Itu Pupuk Biofouling Tiram Mutiara?
Pupuk biofouling tiram mutiara merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari limbah biofouling tiram mutiara (Pinctada maxima), yaitu organisme laut dan mikroorganisme yang menempel pada permukaan tiram. Limbah ini kaya akan bahan organik dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, serta kalium - unsur yang penting untuk pertumbuhan tanaman.
Selain menyediakan unsur hara dasar, pupuk organik ini juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan kesehatan perakaran tanaman.
Wednesday, February 18, 2026
Peran Jamur Mikoriza Arbuskular dalam Meningkatkan Pertumbuhan Porang
Porang (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian bernilai tinggi yang mulai populer sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri, terutama untuk pembuatan glucomannan. Porang juga tumbuh baik di dataran rendah hingga sedang dengan pengelolaan yang tepat. Namun, pertumbuhan dan produktivitas porang masih dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan hara dan kesehatan akar tanaman.
Salah satu solusi untuk meningkatkan pertumbuhan porang yang berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) — jamur tanah yang membentuk simbiosis mutualisme dengan akar tanaman. AMF membantu tanaman menyerap hara, terutama fosfor, serta meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan.
Penelitian Response of Porang to the Application of Arbuscular Mycorrhizal Fungi ini mengevaluasi bagaimana pemberian AMF memengaruhi pertumbuhan porang, termasuk biomassa dan kesehatan sistem akar, sebagai dasar rekomendasi praktik budidaya yang lebih efektif.
Apa Itu Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF)?
Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) adalah kelompok jamur tanah yang membentuk hubungan simbiotik dengan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan hifa (filamen) ke dalam tanah sehingga meningkatkan kemampuan penyerapan air serta unsur hara, terutama fosfor (P) yang penting bagi pertumbuhan tanaman umbi seperti porang.
Manfaat AMF untuk Tanaman Porang
Tuesday, January 27, 2026
Remote Sensing dalam Pertanian Presisi: Prinsip Dasar dan Langkah Praktis
- Mendeteksi Variabilitas Lahan: Remote sensing menunjukkan kondisi mikro di setiap bagian lahan sehingga petani tahu area mana yang membutuhkan perhatian lebih atau kurang.
- Menentukan Kesehatan Tanaman: Melalui citra multispektral, sensor mampu membedakan antara tanaman sehat dan stres akibat kekeringan, hama, atau penyakit.
- Meningkatkan Efisiensi Input: Dengan data akurat, petani dapat menyesuaikan penggunaan air atau pupuk hanya pada zona tertentu yang membutuhkannya, bukan seluruh lahan.
- Mengurangi Biaya Operasional: Dengan memprediksi masalah sebelum menjadi besar, biaya pengecekan manual dan perbaikan kerusakan lahan pun berkurang drastis.
Monday, January 26, 2026
5 Metode Irigasi Modern yang Efektif untuk Pertanian Masa Kini
Sunday, June 26, 2022
Gejala Kekurangan Unsur Hara pada Tanaman
Kekurangan unsur hara pada tanaman menimbulkan gejala yang ketika tidak segera diatasi dapat menurunkan potensi dari usaha tani yang dilakukan.
Berikut merupakan gejala umum dari kekurangan unsur hara pada tanaman
1. Kekurangan unsur Nitrogen (N)
Kekurangan Nitrogen pada tanaman menyebabkan daun tanaman berwarana pucat kekuning-kuningan. Pertumbuhan tanaman menjadi lambat bahkan kerdil. Daun tua berwarna kekuningan, pada tanaman padi kekuningan dimulai dari ujung daun dan menjalar ke tulang daun. Gejala lain adalah perkembangan buah yang tidak sempurna serta masak sebelum waktunya.
Beberapa pupuk sebagai sumber N adalah urea, ZA, Phonska.
Monday, January 17, 2022
Fungsi dan Kegunaan Unsur Hara untuk Tanaman
Hara makro primer: merupakan unsur hara yang dibutukan dalam jumlah banyak. Yang termasuk unsur hara ini adalah: N, P, K yang diambil dari tanah dan C, H, O yang diambil dari air dan udara.
Unsur hara mikro sekunder: dibutuhkan tanaman dalam jumlah lebih sedikit daripada unsur hara primer. Yang termasuk jenis ini adalah S, Ca, dan Mg
Hara mikro: dibutuhkan tanaman dalam jumlah lebih sedikit daripada unsur hara makro baik primer ataupun sekunder. Yang termasuk unsur hara ini adalah Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, B, dan Si.
Berikut merupakan kegunaan masing-masing unsur hara bagi tanaman:
Nitrogen (N)
Fungsi nitrogen bagi tanaman antara lain: membuat tanaman lebih hijau segar, mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, dan jumlah anakan. Meningkatkan protein dari hasil panen.
Fosfor (P)
Memacu pertumbuhan akar dan pembentukan anakan yang baik. Mempercepat pembentukan bunga serta memacu kematangan buah dan biji. Meningkatkan rendemen panen khususnya pada biji-bijian. Meningkatka mutu benih dan bibit yang dihasilkan.
Kalium (K)
Membantu tanaman lebih tegak dan kokoh. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit serta kekeringan. Meningkatkan pembentukan gula dan pati. Meningkatkan ketahanan hasil panen selama pengangkutan dan penyimpanan.
Sulfur (S)
Meningkatkan rendemen hasil tebu dan hablur gula (rendemen). Memperbaiki kualitas dan kuantitas khususnya umbi umbian. Meningkatkan kandungan protein dan vitamin hasil panen. Meningkantkan ketahanan hasil panen pada waktu penyimpanan dan pengangkutan.
Zink (Zn)
Meningkatkan daya serrap tanaman terhadap unsur hara. Berperan dalam produksi klorofil dan karbohidrat. Pembentukan hormone tumbuh, pemanjangan sel dan ruas batang.
C-Organik
Memperbaiki sifat fisik tanah. Memperbaiki sifat biologis tanah melalui penyediaan makanan untuk mikroorganisme bermanfaat. Memperbaiki sifat kimia tanah dengan peningkatan fungsi tanah dalam menguraiakan unsur hara. Salah satu sumber C organic dalam pupuk organic.
Sumber: buku saku “Budidaya tanaman menggunakan phonska petroganik”. Peterokimia Gresik.
Sunday, September 19, 2021
Spesifikasi Pupuk Produksi PT Petrokimia Gresik
Kadar N : 46 %
Kadar air : maks 0,5 %
Bentuk : prill
Warna : merah muda
Sifat : higroskopis dan mudah larut dalam air
2. ZA
Kadar N : 21 %
Kadar S : 24%
Kadar air : maks 1%
Bentuk : kristal
Warna : oranye
Sifat : tidak higroskopis dan mudah larut dalam air
3. SP36
Kadar P2O5 : minimal 36 %
Kadar S : minimal 34 %
Kadar air : maksimal 5 %
Bentuk : granul
Warna : abu-abu
Sifat : tidak higroskopis dan mudah larut dalam air
4. Phonska
Kadar N : 15 %
Kadar P2O5 : 15 %
Kadar K2O : 15 %
Kadar air : maksimal 2 %
Bentuk : granul
Warna : merah muda
Sifat : higroskopis dan mudah larut dalam air
Wednesday, May 20, 2020
Kekahatan Unsur Hara Pada Tanaman
Pengetahuan tentang gejala kekurangan masing-masing unsur hara dapat digunakan oleh petani dalam menentukan jenis pupuk yang harus digunakan dan merupakan peringatan bagi petani untuk segera melakukan pemupukan agar tanaman dapat tumbuh normal kembali. Walaupun kekurangan unsur hara dapat menyebabkan gangguan pada fungsi dan pertumbuhan akar, gejala yang umum dilaporkan adalah gejala yang tampak pada bagian tajuk tanaman, karena gejala pada tajuk ini lebih mudah diamati dan memberikan manfaat praktis bagi petani.
Pada dasarnya gejala kekurangan unsur hara tergantung pada 2 hal utama, yakni: [1] fungsi dari unsur hara tersebut dan [2] kemudahan unsur hara tersebut untuk ditranslokasikan dari daun tua ke daun muda. Kemudahan suatu unsur hara untuk ditranslokasikan tergantung pada solubilitas (kelarutan) dari bentuk kimia dari unsur tersebut di dalam jaringan tanaman dan kemudahannya untuk dapat masuk ke dalam pembuluh floem (Lakitan. 2004). Contohnya ketika tanaman kekurangan unsur hara N maka tanaman akan mengalami kekerdilan, terbatasnya pertumbuhan akar, serta menguningnya dedauan tanaman yang ada. Menurut Irawan (2001), tanaman kekurangan unsur hara N dalam pertumbuhan tanaman akan kurus, tidak segar (warna hijau muda) daun tua berubah kuning, buah tumbuhan kerdil dan mempercepat waktu pemasakan buah walaupun belum waktunya.
Irawan, B. 2007. Konversi Lahan Sawah : Potensi Dampak, Pola Pemanfaatnnya, dan Faktor Determinan. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
Lakitan, B. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo, Jakarta.






