Showing posts with label tanah. Show all posts
Showing posts with label tanah. Show all posts

Tuesday, June 23, 2026

Mengapa Tanaman Penutup Tanah Penting di Kebun Kelapa Sawit? Temuan Baru tentang Fotosintesis dan Penyimpanan Karbon

perkebunan kelapa sawit. Manfaat naungan untuk tanaman kelapa sawit

Kelapa Sawit Tidak Bekerja Sendirian dalam Menyerap Karbon


Ketika membahas perkebunan kelapa sawit, perhatian biasanya tertuju pada pohon sawit sebagai penghasil tandan buah segar dan minyak sawit. Namun, di bawah tajuk pohon sawit yang rimbun terdapat berbagai jenis vegetasi yang selama ini sering dianggap sekadar gulma. Penelitian terbaru dari IPB University menunjukkan bahwa tanaman bawah atau understory vegetation ternyata memiliki kontribusi penting dalam proses penyerapan karbon di ekosistem perkebunan kelapa sawit.

Fotosintesis merupakan proses utama yang memungkinkan tanaman menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan mengubahnya menjadi bahan organik untuk pertumbuhan. Dalam perkebunan kelapa sawit, kemampuan menyerap karbon tidak hanya ditentukan oleh pohon sawit, tetapi juga oleh vegetasi yang tumbuh di bawah naungannya.

Penelitian pada Kelapa Sawit dan Tanaman Bawah Naungan


Penelitian dilakukan di Teaching Farm Cikabayan, Bogor, menggunakan tanaman kelapa sawit berumur 12 tahun yang tumbuh di tanah mineral. Selain kelapa sawit, peneliti juga mengamati dua jenis tanaman penutup tanah yang umum ditemukan di perkebunan sawit, yaitu Asystasia gangetica dan Nephrolepis biserrata.

Para peneliti mengukur berbagai parameter fisiologi tanaman, termasuk laju asimilasi karbon, konduktansi stomata, laju transpirasi, dan konsentrasi karbon dioksida di dalam jaringan daun. Pengamatan dilakukan pada berbagai waktu dalam sehari untuk mengetahui bagaimana respons fotosintesis berubah mengikuti kondisi lingkungan.

Faktor Mikroklimat Sangat Menentukan


Tuesday, April 14, 2026

Temua Riset Terbaru : Pupuk Mikro Seng dan Boron Terbukti Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis Hingga 78%


Peran Unsur Mikro dalam Meningkatkan Produktivitas Jagung Manis

Jagung manis (Zea mays L. var. saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan karena rasa manis serta kandungan gizinya. Produktivitas tanaman ini dipengaruhi oleh berbagai faktor agronomi, salah satunya adalah pengelolaan nutrisi tanaman. Selain unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), tanaman juga memerlukan unsur mikro untuk mendukung pertumbuhan optimal.

Dalam praktik budidaya, perhatian terhadap unsur mikro sering kali masih terbatas. Padahal, unsur seperti seng (Zn) dan boron (B) memiliki peran penting dalam proses fisiologis tanaman jagung, termasuk pembentukan enzim, sintesis protein, perkembangan sel, serta transportasi nutrisi. Kekurangan kedua unsur ini dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, penyerbukan kurang optimal, hingga penurunan hasil panen.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, sebuah penelitian dari peneliti agronomi melakukan evaluasi efektivitas pupuk mikro yang mengandung seng dan boron pada budidaya jagung manis di kondisi agroekosistem tropis.

Metode Penelitian: Menguji Kombinasi Pupuk Mikro dan NPK

Penelitian dilakukan pada tahun 2025 di Kebun Percobaan Sindangbarang, Fakultas Pertanian IPB University, Bogor. Percobaan lapangan menggunakan rancangan percobaan randomized complete block design dengan empat perlakuan pemupukan.

Empat perlakuan tersebut meliputi:
Tanpa pemupukan sebagai kontrol
Pemupukan standar menggunakan NPK
Pupuk standar NPK ditambah satu dosis pupuk mikro
¾ dosis pupuk NPK ditambah satu dosis pupuk mikro

Pupuk mikro yang digunakan mengandung sekitar 5,46% seng (Zn) dan 3,59% boron (B). Penelitian ini juga dilakukan dengan enam ulangan untuk memastikan hasil yang lebih akurat secara statistik.

Tuesday, March 17, 2026

Hama dan Penyakit pada Kopi Gayo: Ancaman Tersembunyi di Sistem Agroforestri di Aceh

Kopi Gayo dan Sistem Agroforestri yang Menjadi Andalan Petani

Kopi Gayo merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang dikenal luas di pasar internasional. Kopi ini berasal dari dataran tinggi wilayah Gayo di Aceh Tengah dan terkenal karena kualitas rasa serta sistem budidayanya yang banyak menggunakan pendekatan agroforestri. Dalam sistem ini, tanaman kopi ditanam bersama berbagai jenis pohon pelindung dan vegetasi lain yang membentuk ekosistem menyerupai hutan alami.

Sistem agroforestri pada budiaya tanaman kopi tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta meningkatkan stabilitas ekosistem pertanian. Namun, meskipun memiliki banyak keunggulan, sistem ini tetap menghadapi tantangan serius berupa serangan hama dan penyakit tanaman yang dapat menurunkan produktivitas kopi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi dalam sistem agroforestri di wilayah Gayo, Aceh Tengah. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi tingkat serangan organisme pengganggu tanaman yang berpotensi mempengaruhi produksi kopi di daerah tersebut.

Identifikasi Hama yang Menyerang Tanaman Kopi

Jenis Hama yang Ditemukan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis hama utama yang ditemukan pada tanaman kopi di sistem agroforestri wilayah Gayo. Hama-hama tersebut menyerang berbagai bagian tanaman, mulai dari daun, batang, hingga buah kopi.

Beberapa hama yang paling sering ditemukan antara lain penggerek buah kopi, kutu putih, serta serangga pengisap yang menyerang jaringan tanaman. Hama-hama ini dapat menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan karena mengganggu proses pertumbuhan tanaman serta pembentukan buah kopi.

Penggerek buah kopi merupakan salah satu hama yang paling merugikan. Serangga ini menyerang buah kopi dengan cara membuat lubang kecil pada buah dan berkembang biak di dalamnya. Akibatnya, kualitas biji kopi menurun dan produksi panen dapat berkurang secara signifikan.

Selain itu, kutu putih juga menjadi salah satu hama yang cukup sering ditemukan. Serangga ini menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman, sehingga dapat menyebabkan daun menguning, pertumbuhan terhambat, dan pada kondisi berat dapat memicu kematian jaringan tanaman.

Penyakit Tanaman Kopi yang Ditemukan

Penyakit Daun dan Batang

Selain hama serangga, penelitian juga menemukan beberapa jenis penyakit tanaman yang menyerang kopi di sistem agroforestri. Penyakit tersebut umumnya disebabkan oleh mikroorganisme seperti jamur yang berkembang pada kondisi lingkungan tertentu.

Salah satu penyakit yang sering ditemukan adalah penyakit karat daun kopi. Penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak berwarna kuning hingga oranye pada permukaan daun. Jika serangan cukup parah, daun dapat mengalami kerontokan sehingga mengganggu proses fotosintesis tanaman.

Selain karat daun, terdapat pula penyakit lain yang menyerang bagian batang dan cabang tanaman kopi. Penyakit tersebut dapat menyebabkan jaringan tanaman rusak sehingga menghambat pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Penyakit

Kondisi lingkungan dalam sistem agroforestri memiliki pengaruh terhadap perkembangan penyakit tanaman. Kelembapan yang relatif tinggi serta keberadaan vegetasi pelindung dapat menciptakan kondisi mikroklimat yang mendukung pertumbuhan patogen tertentu.

Namun demikian, sistem agroforestri juga memiliki sisi positif karena keberagaman vegetasi dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk keberadaan musuh alami hama.

Dampak Hama dan Penyakit terhadap Produktivitas Kopi

Serangan hama dan penyakit pada tanaman kopi dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen. Kerusakan pada daun dapat mengurangi kemampuan tanaman dalam melakukan fotosintesis, sementara serangan pada buah dapat langsung menurunkan kualitas biji kopi.

Dalam jangka panjang, infestasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan penurunan produksi kopi secara signifikan. Oleh karena itu, pemantauan terhadap keberadaan hama dan penyakit menjadi langkah penting dalam pengelolaan kebun kopi, terutama pada sistem agroforestri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian hama dan penyakit perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem agroforestri. Pendekatan pengendalian yang ramah lingkungan menjadi sangat penting agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga sekaligus menjaga produktivitas kopi.

Pentingnya Pengelolaan Hama dalam Sistem Agroforestri

Sistem agroforestri pada budidaya kopi sebenarnya memiliki potensi besar dalam menjaga keseimbangan ekologi. Keanekaragaman tanaman dapat menyediakan habitat bagi berbagai organisme yang berperan sebagai musuh alami hama.

Namun demikian, keberhasilan sistem ini tetap bergantung pada pengelolaan kebun yang baik. Petani perlu melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi tanaman serta mengidentifikasi gejala serangan hama dan penyakit sejak dini.

Dengan pengelolaan yang tepat, sistem agroforestri tidak hanya mampu meningkatkan keberlanjutan produksi kopi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah dataran tinggi Gayo.

sumber: https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/65566/32854

Monday, March 9, 2026

Cara Mengurangi Pupuk NPK 25% pada Tanaman Cabai dengan Kompos Limbah Sawit dan Pupuk Hayati

Cabai merah merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia. Tanaman ini tidak hanya menjadi bahan utama dalam berbagai masakan, tetapi juga digunakan dalam industri pangan, farmasi, dan bahan pewarna alami. Karena nilai ekonominya tinggi, budidaya cabai menjadi salah satu kegiatan pertanian yang banyak dilakukan oleh petani di berbagai daerah. Namun dalam praktiknya, produksi cabai sering mengalami penurunan akibat berbagai faktor seperti rendahnya kesuburan tanah, teknik budidaya yang kurang tepat, serta serangan organisme pengganggu tanaman.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi cabai adalah melalui pemupukan. Selama ini, banyak petani mengandalkan pupuk anorganik seperti NPK untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Meskipun efektif dalam jangka pendek, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat menurunkan kualitas tanah. Kandungan bahan organik tanah menjadi semakin rendah sehingga struktur tanah memburuk dan produktivitas lahan cenderung menurun. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pemupukan yang lebih berkelanjutan dengan memadukan pupuk anorganik dan pupuk organik.

Salah satu sumber bahan organik yang potensial adalah decanter solid, yaitu limbah padat dari proses pengolahan minyak kelapa sawit. Di daerah penghasil kelapa sawit seperti Provinsi Riau, limbah ini tersedia dalam jumlah sangat besar. Decanter solid diketahui mengandung berbagai unsur hara penting bagi tanaman, seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, serta karbon organik. Kandungan nutrisi tersebut menjadikannya bahan yang sangat potensial untuk diolah menjadi kompos sebagai pupuk organik.

Tuesday, March 3, 2026

Meningkatkan Produktivitas Tomat di Tanah Aluvial melalui Trichokompos dan Pupuk Kalsium

Tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan di berbagai wilayah di Indonesia karena nilai ekonominya yang tinggi serta peran pentingnya dalam gizi masyarakat. Namun, produktivitas tomat sering kali terhambat ketika dibudidayakan di tanah aluvial — jenis tanah yang terbentuk dari endapan sungai dan memiliki karakteristik fisik dan kimia tertentu yang bisa menghambat pertumbuhan tanaman bila tidak ditangani dengan baik.

Tanah aluvial biasanya memiliki tekstur yang bervariasi, kandungan hara yang kurang merata, serta pH tanah yang rendah. Kondisi ini menyebabkan tanaman mengalami stres nutrisi, terutama pada fase pertumbuhan awal dan fase pembentukan buah. Untuk itu, dilakukan penelitian untuk mengevaluasi strategi pemupukan yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi tomat di tanah aluvial melalui pemberian trichokompos dan pupuk kalsium.
 
Apa Itu Trichokompos dan Pupuk Kalsium?

Trichokompos adalah kompos yang dibuat dengan bantuan mikroba dekomposer, khususnya jamur Trichoderma. Mikroba ini dikenal mampu mempercepat dekomposisi bahan organik, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan aktivitas biologi tanah. Dengan menambahkan trichokompos ke dalam media tanam, ketersediaan unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) dapat meningkat, sehingga tanaman memiliki akses nutrisi yang lebih baik.

Sementara itu, pupuk kalsium merupakan sumber unsur hara makro yang penting bagi tanaman. Kalsium berperan dalam memperkuat dinding sel, membantu proses pembelahan dan perpanjangan sel, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres fisiologis. Tanpa pasokan kalsium yang cukup, buah tomat sering mengalami kelainan fisiologis termasuk blossom end rot, yaitu kerusakan pada ujung buah yang sering terjadi ketika tanaman kekurangan kalsium.
 
Metode Penelitian: Rancangan yang Terukur

Penelitian ini dilakukan di sebuah lokasi dengan tanah aluvial untuk mengevaluasi pengaruh pemberian trichokompos dan pupuk kalsium terhadap pertumbuhan dan hasil panen tomat. Tanaman tomat dibudidayakan dalam kondisi lapangan dengan berbagai perlakuan pemupukan, termasuk aplikasi trichokompos dan dosis pupuk kalsium yang berbeda. Parameter yang diamati mencakup pertumbuhan vegetatif, jumlah buah yang dihasilkan, serta berat buah per tanaman.

Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah kombinasi kedua sumber nutrisi tersebut mampu memberikan dampak positif yang signifikan dibandingkan pemupukan konvensional atau tanpa tambahan trichokompos dan kalsium.
 
Hasil yang Menarik: Peningkatan Produktivitas Tomat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian trichokompos dan pupuk kalsium memiliki pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tomat. Secara umum, tanaman yang menerima kombinasi kedua perlakuan menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik serta hasil buah yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tidak mendapatkan perlakuan ini.

Secara khusus, pemberian pupuk kalsium pada dosis tertentu ternyata meningkatkan berat kering tanaman dan jumlah buah yang dihasilkan, sedangkan dosis lain memberikan efek optimal pada berat buah per tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa kalsium berperan penting dalam proses metabolisme tanaman, termasuk fotosintesis dan penyerapan unsur hara lain yang esensial selama fase pertumbuhan.

Selain itu, tambahan trichokompos juga membantu memperbaiki struktur tanah aluvial yang semula kurang ideal untuk pertumbuhan tanaman tomat. Perbaikan struktur tanah ini meningkatkan retensi air dan aerasi tanah, sehingga akar tanaman dapat tumbuh lebih baik dan menyerap nutrisi dengan lebih efisien.
 
Mengapa Ini Penting bagi Petani Tomat?

Temuan ini membawa pesan penting bagi petani tomat dan penyuluh pertanian yang bekerja di daerah dengan tanah aluvial atau tanah berkualitas rendah. Dengan menggunakan trichokompos dan pupuk kalsium sebagai bagian dari strategi pemupukan, petani dapat:
  • Meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama pada fase awal kehidupan tanaman.
  • Mengoptimalkan jumlah dan berat buah tomat yang dihasilkan, sehingga meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
  • Memperbaiki kualitas tanah secara berkelanjutan, tanpa tergantung pada pupuk kimia sintetis secara berlebihan.
  • Mengurangi risiko fisiologis pada buah, seperti kelainan akibat kekurangan kalsium.

Strategi pemupukan yang tepat seperti ini juga sejalan dengan praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan input agronomi.
 
Kesimpulan
Pemberian trichokompos dan pupuk kalsium terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas tanaman tomat yang ditanam di tanah aluvial dengan memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan hasil buah. Kombinasi kedua perlakuan ini membantu memperbaiki kondisi tanah dan menyediakan nutrisi penting yang dibutuhkan tanaman selama fase penting pertumbuhan dan pembentukan buah. Melalui strategi pemupukan yang tepat, petani dapat memaksimalkan hasil produksi tomat secara efisien dan berkelanjutan.

sumber referensi: https://journal.ipb.ac.id/jhi/article/view/65300/32528

Monday, March 2, 2026

Mengoptimalkan Pupuk Organik: Efektivitas Kompos Baglog Jamur Tiram untuk Pertumbuhan Cabai Merah

Pendahuluan
Pertanian modern menghadapi tantangan besar dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Salah satu strategi yang semakin populer adalah penggunaan pupuk organik untuk menggantikan atau mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis. Limbah pertanian yang berpotensi tinggi untuk dijadikan pupuk organik adalah baglog jamur tiram — sisa media tumbuh setelah pertumbuhan jamur tiram selesai. Limbah ini tidak hanya mudah diperoleh dari kegiatan budidaya jamur, tetapi juga kaya akan nutrisi penting seperti karbon organik, nitrogen, fosfor, dan kalium.

Dalam konteks ini, penelitian terbaru yang dipublikasikan di Jurnal Hortikultura Indonesia mengevaluasi efektivitas kompos baglog jamur tiram sebagai pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah (Capsicum frutescens L.). Penelitian ini sangat relevan bagi petani, penyuluh pertanian, dan praktisi agroindustri yang mencari alternatif pupuk yang ramah lingkungan dan ekonomis.
 
Metode Penelitian: Rancangan Percobaan yang Terstruktur
Penelitian dilaksanakan di Agro Learning Center Denpasar pada periode April–Oktober 2024 dengan menggunakan Rancangan Petak Acak Kelompok (RPAK). Lima perlakuan kompos baglog jamur tiram diuji, mulai dari 100% tanah subur (kontrol) hingga campuran tanah dan kompos dalam proporsi yang berbeda:

P1: 100% tanah subur (kontrol)
P2: 50% tanah subur + 50% kompos baglog
P3: 35% tanah subur + 65% kompos baglog
P4: 20% tanah subur + 80% kompos baglog
P5: 5% tanah subur + 95% kompos baglog

Setiap perlakuan diulang lima kali untuk mengurangi kesalahan percobaan dan meningkatkan validitas data. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, dan jumlah buah.
Hasil Utama: Bagaimana Kompos Baglog Mempengaruhi Tanaman Cabai.

Data dari percobaan menunjukkan bahwa perlakuan P1 (100% tanah subur) memberikan pertumbuhan terbaik pada fase awal tumbuh (3 minggu setelah tanam dan 10 minggu setelah tanam). Tanaman pada perlakuan ini menunjukkan tinggi badan dan jumlah daun yang optimal dalam fase vegetatif dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Namun, yang paling menarik adalah temuan mengenai pengaruh kompos baglog jamur tiram terhadap fase generatif tanaman. Perawatan P4 (20% tanah + 80% kompos) menghasilkan jumlah bunga dan buah cabai yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Ini menunjukkan bahwa proporsi yang tinggi dari kompos baglog memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan fase produksi tanaman — terutama dalam pembentukan bunga dan buah.
 

Saturday, February 28, 2026

Strategi Terpadu Mengatasi Toksisitas Aluminium pada Tanah Asam Tropis

Pendahuluan: Tantangan Pertanian di Tanah Asam Tropis
Tanah asam tropis merupakan tipe tanah yang umum di banyak wilayah Indonesia dan negara tropis lainnya. Salah satu kendala utama pada tanah ini adalah toksisitas aluminium (Al) — kondisi ketika ion aluminium larut dan menjadi racun bagi akar tanaman. Aluminium yang terlarut dapat menghambat pertumbuhan akar, memperburuk penyerapan nutrisi, serta menurunkan hasil tanaman secara signifikan. Hal ini menjadi masalah besar bagi produktivitas pertanian di wilayah dengan hujan tinggi dan pelapukan tanah yang kuat.

Toksisitas Aluminium pada Tanaman
Saat pH tanah turun (tanah menjadi lebih asam), aluminium yang secara alami terdapat dalam mineral tanah berubah menjadi ion Al³⁺ yang sangat reaktif dan beracun bagi tanaman. Ion ini menempel pada permukaan akar, menyebabkan pertumbuhan akar terhambat, memicu gangguan penyerapan air dan hara, serta menekan produksi tanaman. Gangguan ini dapat berujung pada penurunan hasil panen dan kualitas tanaman.

Mekanisme Toleransi Tanaman terhadap Aluminium
Tanaman yang mampu bertahan di tanah asam memiliki beberapa mekanisme adaptasi terhadap stres aluminium. Jurnal ini merangkum bahwa ada dua strategi utama yang digunakan tanaman:

Monday, February 23, 2026

Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Foxtail Millet dengan Pupuk Biofouling Tiram Mutiara

Pendahuluan: Tantangan Produksi Foxtail Millet
Tanaman foxtail millet (Setaria italica L.) merupakan salah satu jenis millet yang semakin populer di berbagai wilayah tropis sebagai sumber pangan alternatif, pakan ternak, serta diversifikasi pangan. Millet dikenal tahan terhadap kondisi kering dan adaptif terhadap berbagai jenis tanah, sehingga cocok dikembangkan dalam sistem pertanian berkelanjutan. Namun, seperti tanaman serealia lainnya, produktivitas foxtail millet sangat dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi tanah.

Seiring meningkatnya permintaan pangan organik dan ramah lingkungan, petani dan peneliti mencari solusi alternatif pupuk yang efektif tanpa dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu inovasi yang menarik adalah pemanfaatan pupuk organik berbasis biofouling tiram mutiara (Pearl Oyster Biofouling Fertilizer).
 
Apa Itu Pupuk Biofouling Tiram Mutiara?
Pupuk biofouling tiram mutiara merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari limbah biofouling tiram mutiara (Pinctada maxima), yaitu organisme laut dan mikroorganisme yang menempel pada permukaan tiram. Limbah ini kaya akan bahan organik dan nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, serta kalium - unsur yang penting untuk pertumbuhan tanaman.

Selain menyediakan unsur hara dasar, pupuk organik ini juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan kesehatan perakaran tanaman.
 

Wednesday, February 18, 2026

Peran Jamur Mikoriza Arbuskular dalam Meningkatkan Pertumbuhan Porang


Pendahuluan: Potensi Porang untuk Pertanian Indonesia

Porang (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman umbi-umbian bernilai tinggi yang mulai populer sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri, terutama untuk pembuatan glucomannan. Porang juga tumbuh baik di dataran rendah hingga sedang dengan pengelolaan yang tepat. Namun, pertumbuhan dan produktivitas porang masih dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan hara dan kesehatan akar tanaman.

Salah satu solusi untuk meningkatkan pertumbuhan porang yang berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) — jamur tanah yang membentuk simbiosis mutualisme dengan akar tanaman. AMF membantu tanaman menyerap hara, terutama fosfor, serta meningkatkan toleransi terhadap stres lingkungan.

Penelitian Response of Porang to the Application of Arbuscular Mycorrhizal Fungi ini mengevaluasi bagaimana pemberian AMF memengaruhi pertumbuhan porang, termasuk biomassa dan kesehatan sistem akar, sebagai dasar rekomendasi praktik budidaya yang lebih efektif.
 
Apa Itu Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF)?

Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) adalah kelompok jamur tanah yang membentuk hubungan simbiotik dengan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan hifa (filamen) ke dalam tanah sehingga meningkatkan kemampuan penyerapan air serta unsur hara, terutama fosfor (P) yang penting bagi pertumbuhan tanaman umbi seperti porang.
Manfaat AMF untuk Tanaman Porang

Tuesday, January 27, 2026

Remote Sensing dalam Pertanian Presisi: Prinsip Dasar dan Langkah Praktis

Dalam era pertanian modern, teknologi remote sensing atau penginderaan jauh menjadi salah satu inovasi terpenting dalam precision farming (pertanian presisi). Lalu, apa itu remote sensing dalam Pertanian?

Remote sensing adalah penggunaan sensor atau perangkat elektronik yang mampu menangkap informasi tentang kondisi lahan dari jarak jauh, biasanya melalui udara atau satelit. Sensor ini mendeteksi pantulan cahaya dari permukaan tanah dan tanaman untuk menganalisis kesehatan tanaman, kadar air tanah, komposisi tanah, hingga adanya hama atau penyakit secara real-time. Teknologi ini membantu petani membuat keputusan berbasis data, alih-alih berdasarkan pengalaman semata.
 
Mengapa Teknologi Ini Penting untuk Precision Farming?

Pertanian presisi adalah pendekatan modern yang bertujuan mengoptimalkan hasil panen sekaligus meminimalkan penggunaan sumber daya seperti air, pupuk, dan pestisida. Dalam konteks ini, remote sensing bekerja sebagai tulang punggung teknologi karena mampu:
  1. Mendeteksi Variabilitas Lahan: Remote sensing menunjukkan kondisi mikro di setiap bagian lahan sehingga petani tahu area mana yang membutuhkan perhatian lebih atau kurang.
  2. Menentukan Kesehatan Tanaman: Melalui citra multispektral, sensor mampu membedakan antara tanaman sehat dan stres akibat kekeringan, hama, atau penyakit.
  3. Meningkatkan Efisiensi Input: Dengan data akurat, petani dapat menyesuaikan penggunaan air atau pupuk hanya pada zona tertentu yang membutuhkannya, bukan seluruh lahan.
  4. Mengurangi Biaya Operasional: Dengan memprediksi masalah sebelum menjadi besar, biaya pengecekan manual dan perbaikan kerusakan lahan pun berkurang drastis.
Prinsip Dasar Teknologi Remote Sensing

Monday, January 26, 2026

5 Metode Irigasi Modern yang Efektif untuk Pertanian Masa Kini

5 metode Irigasi Modern
Irigasi adalah salah satu aspek paling penting dalam dunia pertanian, karena ketersediaan air menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman dan produktivitas lahan. Dalam era pertanian modern, petani tidak lagi mengandalkan sistem tradisional seperti pengairan manual atau sekadar menggantungkan pada hujan. Kini, telah berkembang berbagai metode irigasi efisien yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus menghemat penggunaan air.

5 Metode irigasi tersebut adalah:

1. Irigasi Tetes (Drip Irrigation)
Metode ini menyalurkan air secara langsung ke daerah akar tanaman melalui pipa kecil sehingga meminimalkan pemborosan. Irigasi tetes membantu menjaga kelembapan tanah yang stabil dan sangat cocok untuk tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran.

2. Irigasi Sprinkler
Irigasi ini menyebarkan air seperti hujan buatan melalui semprotan putar. Sistem sprinkler efektif untuk lahan luas dan dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Penjadwalan dan tekanan air yang tepat sangat menentukan efisiensi metode ini.

3. Sensor Kelembapan Tanah
Teknologi sensor memonitor kadar air di dalam tanah secara real-time dan otomatis menghidupkan sistem irigasi ketika tanah terlalu kering. Ini sangat membantu dalam penghematan air.

4. Irigasi Berbasis Cuaca
Sistem ini menyesuaikan jadwal penyiraman berdasarkan data cuaca terbaru sehingga menghindari pemborosan air saat hujan atau kelembapan tinggi.

5. Irigasi Bawah Permukaan (Subsurface Irrigation)
Air dialirkan di bawah permukaan tanah sehingga mencapai langsung zona akar tanaman. Ini meminimalkan penguapan dan kehilangan air.

Sunday, June 26, 2022

Gejala Kekurangan Unsur Hara pada Tanaman

gejala kekurangan unsur hara pada tanaman
Unsur hara esensial adalah hara yang keberadaannya tidak dapat digantikan oleh unsur yang lain. Terdapat unsur hara makro, mikro, esensial dan non esensial yang memiliki fungsi yang berbeda-beda untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup tanaman.

Kekurangan unsur hara pada tanaman menimbulkan gejala yang ketika tidak segera diatasi dapat menurunkan potensi dari usaha tani yang dilakukan.

Berikut merupakan gejala umum dari kekurangan unsur hara pada tanaman

1. Kekurangan unsur Nitrogen (N)
Kekurangan Nitrogen pada tanaman menyebabkan daun tanaman berwarana pucat kekuning-kuningan. Pertumbuhan tanaman menjadi lambat bahkan kerdil. Daun tua berwarna kekuningan, pada tanaman padi kekuningan dimulai dari ujung daun dan menjalar ke tulang daun. Gejala lain adalah perkembangan buah yang tidak sempurna serta masak sebelum waktunya.

Beberapa pupuk sebagai sumber N adalah urea, ZA, Phonska.

Monday, January 17, 2022

Fungsi dan Kegunaan Unsur Hara untuk Tanaman

fungsi unsur hara bagi tanaman
Unsur hara memiliki peranan penting bagi tanaman. Bagi tanaman, unsur hara memiliki peran yang sama seperti nutris pada manusia. Unsur hara memiliki fungsi masing-masing bagi pertumbuhan perkembangan tanaman. Terdapat 16 unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman dan terbagi menjadi tiga katagori.

Pemupukan merupakan salah satu cara untuk menyediakan unsur hara untuk tanaman.

Hara makro primer: merupakan unsur hara yang dibutukan dalam jumlah banyak. Yang termasuk unsur hara ini adalah: N, P, K yang diambil dari tanah dan C, H, O yang diambil dari air dan udara.

Unsur hara mikro sekunder: dibutuhkan tanaman dalam jumlah lebih sedikit daripada unsur hara primer. Yang termasuk jenis ini adalah S, Ca, dan Mg

Hara mikro: dibutuhkan tanaman dalam jumlah lebih sedikit daripada unsur hara makro baik primer ataupun sekunder. Yang termasuk unsur hara ini adalah Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, B, dan Si.

Kekurangan unsur hara menyebabkan kerusakan atau gejala yang tidak diinginkan dalam budidaya tanaman.  

Berikut merupakan kegunaan masing-masing unsur hara bagi tanaman:

Nitrogen (N)
Fungsi nitrogen bagi tanaman antara lain: membuat tanaman lebih hijau segar, mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah cabang, dan jumlah anakan. Meningkatkan protein dari hasil panen.

Fosfor (P)
Memacu pertumbuhan akar dan pembentukan anakan yang baik. Mempercepat pembentukan bunga serta memacu kematangan buah dan biji. Meningkatkan rendemen panen khususnya pada biji-bijian. Meningkatka mutu benih dan bibit yang dihasilkan.

Kalium (K)
Membantu tanaman lebih tegak dan kokoh. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit serta kekeringan. Meningkatkan pembentukan gula dan pati. Meningkatkan ketahanan hasil panen selama pengangkutan dan penyimpanan.

Sulfur (S)
Meningkatkan rendemen hasil tebu dan hablur gula (rendemen). Memperbaiki kualitas dan kuantitas khususnya umbi umbian. Meningkatkan kandungan protein dan vitamin hasil panen. Meningkantkan ketahanan hasil panen pada waktu penyimpanan dan pengangkutan.

Zink (Zn)
Meningkatkan daya serrap tanaman terhadap unsur hara. Berperan dalam produksi klorofil dan karbohidrat. Pembentukan hormone tumbuh, pemanjangan sel dan ruas batang.

C-Organik
Memperbaiki sifat fisik tanah. Memperbaiki sifat biologis tanah melalui penyediaan makanan untuk mikroorganisme bermanfaat. Memperbaiki sifat kimia tanah dengan peningkatan fungsi tanah dalam menguraiakan unsur hara. Salah satu sumber C organic dalam pupuk organic.

Sumber: buku saku “Budidaya tanaman menggunakan phonska petroganik”. Peterokimia Gresik.

Sumber gambar: https://asset.kompas.com/crops/WxmsFZMzDYjuRvL1U5oB8TYXMD8=/100x67:900x601/750x500/data/photo/2020/11/25/5fbdde653bf3e.jpg

Sunday, September 19, 2021

Spesifikasi Pupuk Produksi PT Petrokimia Gresik

pupuk urea hasil produksi petrokimia gresik

1. Urea
Kadar N      : 46 %
Kadar air     : maks 0,5 %
Bentuk         : prill
Warna          : merah muda
Sifat             : higroskopis dan mudah larut dalam air

2. ZA

Kadar N      : 21 %
Kadar S       : 24%
Kadar air     : maks 1%
Bentuk         : kristal
Warna          : oranye
Sifat             : tidak higroskopis dan mudah larut dalam air

3. SP36
Kadar P2O5 : minimal 36 %
Kadar S        : minimal 34 %
Kadar air      : maksimal 5 %
Bentuk          : granul
Warna            : abu-abu
Sifat              : tidak higroskopis dan mudah larut dalam air

4. Phonska
Kadar N          : 15 %
Kadar P2O5     : 15 %
Kadar K2O      : 15 %
Kadar air          : maksimal 2 %
Bentuk             : granul
Warna              : merah muda
Sifat                 : higroskopis dan mudah larut dalam air 

Wednesday, May 20, 2020

Kekahatan Unsur Hara Pada Tanaman

unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman
Kekahatan unsur hara terjadi jika unsur hara esensial kurang dari jumlah yang dibutuhkan tanaman. Metabolisme tanaman dapat terganggu yang secara visual dapat terlihat dari penyimpangan penyimpangan pada pertumbuhannya. Gejala kekurangan unsur hara ini dapat berupa pertumbuhan akar, batang atau daun yang terhambat (kerdil) dan klorosis pada berbagai organ tanaman. Gejala yang ditampakkan tanaman karena kekurangan suatu unsur hara dapat menjadi petunjuk kasar dari fungsi unsur hara yang bersangkutan.
 
Pengetahuan tentang gejala kekurangan masing-masing unsur hara dapat digunakan oleh petani dalam menentukan jenis pupuk yang harus digunakan dan merupakan peringatan bagi petani untuk segera melakukan pemupukan agar tanaman dapat tumbuh normal kembali. Walaupun kekurangan unsur hara dapat menyebabkan gangguan pada fungsi dan pertumbuhan akar, gejala yang umum dilaporkan adalah gejala yang tampak pada bagian tajuk tanaman, karena gejala pada tajuk ini lebih mudah diamati dan memberikan manfaat praktis bagi petani.

Pengetahuan tentang fungsi unsur hara bagi tanaman sama pentingnya dengan pengetahuan tentang gejala kekurangan unsur hara bagi tanaman.

Pada dasarnya gejala kekurangan unsur hara tergantung pada 2 hal utama, yakni: [1] fungsi dari unsur hara tersebut dan [2] kemudahan unsur hara tersebut untuk ditranslokasikan dari daun tua ke daun muda. Kemudahan suatu unsur hara untuk ditranslokasikan tergantung pada solubilitas (kelarutan) dari bentuk kimia dari unsur tersebut di dalam jaringan tanaman dan kemudahannya untuk dapat masuk ke dalam pembuluh floem (Lakitan. 2004). Contohnya ketika tanaman kekurangan unsur hara N maka tanaman akan mengalami kekerdilan, terbatasnya pertumbuhan akar, serta menguningnya dedauan tanaman yang ada. Menurut Irawan (2001), tanaman kekurangan unsur hara N dalam pertumbuhan tanaman akan kurus, tidak segar (warna hijau muda) daun tua berubah kuning, buah tumbuhan kerdil dan mempercepat waktu pemasakan buah walaupun belum waktunya.

Irawan, B. 2007. Konversi Lahan Sawah : Potensi Dampak, Pola Pemanfaatnnya, dan Faktor Determinan. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
Lakitan, B. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo, Jakarta.

Friday, February 15, 2019

Perkembangan Model Surjan di Lahan Rawa

Model dan bentuk surjan di lahan rawa mengalami perkembangan sesuai dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Perkembangan ilmu pengetahuan dari hasil-hasil penelitian tentang geo-fisika-kimia tanah rawa telah membuka cakrawala pemikiran baru dalam mengantisipasi dampak dari pengelolaan dan pemanfaatkan lahan untuk budidaya, termasuk dalam perencanaan model dan bentuk surjan. Perkembangan teknologi surjan ini juga tidak lepas dari dinamika permasalahan yang muncul dalam pemanfaatkan dan pengembangan lahan rawa dalam budidaya pertanian. 
pertanaman dengan sistem surjan

Pada awalnya petani lahan rawa membuat puntukan (tukungan), yaitu meninggikan tempat (lahan) untuk meletakkan bibit sebatas luas 50 cm x 50 cm dan tinggi 50 cm. Namun kemudian, lambat laun berkembang untuk membuat tembokan yang disebut surjan. Sistem surjan berkembang di lahan rawa sebagai alternatif agar kondisi lahan rawa yang umum tergenang yang biasanya hanya dapat untuk penanaman padi dimaksudkan juga dapat ditanami tanaman lahan kering seperti palawija atau hortikultura (Donicie dan Idak, 1941). 

Thursday, February 14, 2019

Pupuk Hayati dalam Pertanian Organik

pupuk hayati untuk menjaga agar tanah lebih sehat
Pertanian organik bertujuan untuk mengelola pertanian dan ekosistem sekaligus bersama-sama. Pada kondisi agro-ekosistem tertentu, petani harus mengelola usaha taninya dengan bermacam-macam cara memanfaatkan semua sumber daya yang berasal dari dalam maupun luar usaha taninya. Sistem yang demikian akan membantu dalam mempertahankan ekosistem daripada merusaknya. Pertanian organik sama sekali menghindarkan penggunaan bahan anorganik. Penggunaan pupuk kimia secara berangsur dapat dikurangi atau dibatasi selama periode peralihan (transisi). Unsur hara tetap dibutuhkan tanaman karena memiliki fungsi yang esensial bagi tanaman. 

Para pakar lingkungan berpendapat bahwa lingkungan merupakan saksi penggunaan bahan kimia secara berlebihan. Penggunaan hara yang tidak seimbang dengan tujuan meningkatkan produsi dalam jangka panjang menimbulkan masalah terutama terhadap kesehatan tanah dan lingkungan. Di samping itu, program pemupukan selalu gagal dalam menekan kehilangan hara sehingga kesuburan tanah selalu berpengaruh. Pada tanaman, kekurangan unsur hara dapat menimbulkan beragam gejala yang dapat mengurangi hasil pertanian. Pada kondisi semacam ini, pertanian organik membantu dalam memperbaiki tanah yang terdegradasi dan mendorong tercapainya sistem pertanian yang berkelanjutan. Lebih jauh lagi, perbedaan yang cukup lebar antara kebutuhan dan pasokan hara dari pupuk kimia saja dapat diperkecil melalui daur ulang bahan organik yang efektif disamping pemanfaatan pupuk hayati. 

Efisiensi Pemupukan Nitrogen Melalui Aplikasi Zeolit

zeolit untuk optimasi pemupukan
Salah satu unsur hara yang terpenting bagi tanaman adalah nitrogen (N). Unsur nitrogen merupakan unsur yang paling tidak efisien pemanfaatannya karena mudah hilang melalui pencucian baik dalam bentuk nitrat, menguap ke udara dalam bentuk gas amoniak, dan berubah ke bentuk-bentuk lain yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman (Sanchez, 1979). Salah satu usaha untuk mengurangi kehilangan nitrogen adalah dengan membuat pupuk tersebut dalam bentuk slow release. 


Zeolit merupakan salah satu bahan yang dapat mengikat nitrogen sementara. Zeolit memiliki nilai kapasitas tukar kation (KTK) yang tinggi (antara 120-180 me/100 g) yang berguna sebagai pengadsorpsi, pengikat dan penukar kation (Suwardi, 2000). Pengaruh baik yang disebabkan sifat-sifat zeolit adalah mempunyai muatan negatif yang tinggi sehingga dapat mengikat unsur hara dan meloloskannya sedikit demi sedikit, sifat memegang air yang tinggi, menekan unsur yang beracun seperti Al, Fe, Mn, Cd, Pb, Cu dan Zn. Zeolit juga mampu mengikat atau menyimpan pupuk dan melepaskannya kembali sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga penggunaan pupuk lebih efisien (Harjono, 2004). 


Penambahan zeolit pada pupuk N menyerap amonium yang dikeluarkan oleh pupuk. Jika konsentrasi nitrat dalam tanah menurun, amonium yang telah diserap oleh zeolit dilepaskan kembali ke dalam larutan tanah. Dengan cara itu, N yang diberikan ke dalam tanah dapat tersedia dalam waktu yang lebih lama. Pada pupuk yang tidak ditambahkan zeolit, N segera berubah menjadi nitrat dan tercuci bersama aliran permukaan. Disamping itu, N yang berubah menjadi gas amoniak akan menguap ke udara. 

Tuesday, April 17, 2018

Pengaruh Ketersediaan Sulfur Terhadap Pertumbuhan Bawang Merah

pupuk sulfur untuk budidaya bawang merah
Setiap tanaman memiliki serapan unsur hara yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan metabolisme tiap tanaman. Pada dasarnya sulfur diserap tanaman dan diasimilasi melalui jalur asimilasi. Pada tanaman bawang merah, serapan sulfur cukup tinggi. Dibandingkan dengan tanaman yang lain seperti tanaman gandum dan bit, bawang merah adalah salah satu tanaman yang memiliki serapan dan kebutuhan pupuk sulfur yang tinggi.

Serapan sulfur yang termasuk tinggi pada tanaman bawang merah memberikan dampak terhadap kebutuhan sulfur yang juga tinggi. Dosis atau level sulfur yang tepat menentukan pertumbuhan dan kualitas umbi. Hal ini berkaitan pula dengan pemberian sulfur yang dapat mempengaruhi serapan hara lain seperti N, P dan K pada tanaman. Menurut Tisdale et al., (1989) salah satu peran sulfur dalam meningkatkan hasil tanaman yaitu melalui peningkatkan efisiensi penggunaan unsur hara tanaman esensial lainnya terutama nitrogen dan fosfor.

Fungsi Sulfur pada Bawang Merah

Dalam budidaya bawang merah, pemupukan dengan unsur sulfur menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Sulfur (S) merupakan unsur makro yang penting dalam pertumbuhan tanaman. Tanaman yang terkandung unsur S memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingan dengan tanpa unsur S ( Buchner et al., 2004 dan Hawkesford dan De Kok, 2006). Allium memiliki varietas umbi terbanyak diantara sayuran umbi yang lainnya (Li et al., 2010) antara lain A. cepa L. (Bawang), A. sativum L. (Bawang Putih), A. porrum L. (Daun Bawang), A. schoenoprasum L. (Daun Bawang), and A. fistulosum L. (Bawang Welsh) merupakan jenis bawang yang banyak dibudidayakan dan di konsumsi di seluruh dunia baik sebagai bahan makanan maupun obat (Fritsch dan Friesen, 2002).
tanaman bawang merah
Fungsi sulfur pada umbi bawang merah mengenai kuantitas bawang merah berkaitan erat dengan ukuran dan banyaknya umbi yang dihasilkan. Aroma yang khas dikeluarkan pada umbi juga berkaitan erat dengan kandungan Sulfur. Umbi bawang merah mengandung senyawa - senyawa yang dipercaya berkhasiat sebagai antiinflamasi dan antioksidan seperti kuersetin yang bertindak sebagai agen untuk mencegah sel kanker. Kuersetin, selain memiliki aktivitas sebagai antioksidan, juga dapat beraksi sebagai antikanker pada regulasi siklus sel, berinteraksi dengan reseptor estrogen (ER) tipe II