Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan sistem alami yang mengatur aliran air dari hulu ke hilir dan menyediakan air bagi berbagai kebutuhan seperti pertanian, domestik, industri, dan ekosistem. Penelitian ilmiah di Land Use Change, Hydrological Responses and Water Balance of Upstream Ciujung Watershed mengkaji bagaimana perubahan penggunaan lahan di bagian hulu DAS Ciujung (Provinsi Banten dan sebagian Bogor) berpengaruh terhadap fungsi hidrologis dan keseimbangan air di kawasan tersebut.
Tren Perubahan Lahan (2016–2021)
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa antara tahun 2016 dan 2021 terjadi konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan areal bukan hutan. Luas hutan primer, sekunder, dan hutan produksi berkurang cukup signifikan, sedangkan lahan pertanian kering serta pemukiman meningkat. Perubahan ini menunjukkan adanya desakan kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian dan pemukiman penduduk.
Dampak Deforestasi
Pengurangan tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan dalam menyerap air hujan dan memperlambat aliran permukaan. Hal ini berdampak langsung pada fungsi DAS sebagai buffer terhadap banjir dan kekeringan, terutama pada musim hujan dan kemarau.
Respon Hidrologis terhadap Perubahan Tata Guna Lahan
Koefisien Aliran dan Respon Aliran
Penelitian menggunakan parameter Flow Regime Coefficient (FRC) dan Annual Flow Coefficient (AFC) untuk mengevaluasi respon hidrologi sungai. Pada periode 2012–2016, FRC termasuk kategori rendah, menandakan aliran sungai lebih seimbang antara musim hujan dan kemarau. Namun, pada periode 2017–2021, FRC meningkat ke tingkat menengah, yang berarti fluktuasi aliran lebih tajam akibat penurunan tutupan hutan. AFC juga menurun, menunjukkan perubahan cara air terdistribusi di dalam DAS dan berkurangnya kontribusi aliran dasar akibat perubahan lahan.
Implikasi bagi Irigasi dan Pertanian
Perubahan FRC dan AFC ini berimplikasi pada ketersediaan air untuk pertanian, khususnya saat musim kemarau. Dalam kondisi aliran yang kurang stabil, petani di hilir DAS Ciujung mungkin menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan air yang konsisten untuk irigasi tanaman, terutama komoditas hortikultura dan padi.
Neraca Air DAS: Masih Seimbang, Tapi Waspada Kekeringan Musiman
Keseimbangan Air Tahunan
Analisis neraca air menunjukkan bahwa secara tahunan DAS Ciujung masih mengalami surplus ketersediaan air, yang berarti pasokan air secara total lebih besar dari kebutuhan sektor domestik, pertanian, perikanan, dan industri. Namun demikian, defisit air tetap terjadi di puncak musim kemarau (September), yang menandakan bahwa distribusi air antarbulan tidak merata dan dukungan pengelolaan air musim kering diperlukan.
Tantangan pada Musim Kemarau
Selama bulan kering, ketersediaan air menurun tajam sehingga meskipun secara tahunan surplus, ketidakstabilan pasokan air dapat mengancam produktivitas pertanian jika tidak diantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air yang efektif dan konservasi lahan hulu.
Kesimpulan: Menguatkan Strategi Pengelolaan DAS
Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan di hulu DAS Ciujung berdampak signifikan terhadap respon hidrologis dan ketahanan pasokan air, terutama di musim kering. Meskipun neraca air tahunan menunjukkan surplus, ketidakmerataan ketersediaan air sepanjang tahun menuntut tindakan strategis seperti reboisasi, konservasi tanah, dan pembangunan infrastruktur air untuk menjaga keberlanjutan pertanian dan ekosistem di wilayah DAS Ciujung.
sumber jurnal: https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/47728/31842

No comments:
Post a Comment