Friday, February 6, 2026

Kearifan Lokal Jawa sebagai Kunci Ketahanan Petani Hortikultura di Magelang

Pendahuluan: Tantangan Petani Hortikultura di Magelang
Wilayah Sawangan, Ngablak, dan Srumbung di Kabupaten Magelang dikenal sebagai sentra hortikultura dataran tinggi. Sayuran seperti kubis, wortel, cabai, dan sawi menjadi komoditas utama yang menopang ekonomi rumah tangga petani. Namun, di balik produktivitas yang tinggi, petani hortikultura menghadapi tantangan serius berupa fluktuasi harga pasar, ketergantungan pada tengkulak, serta risiko gagal panen.

Kondisi ini menuntut petani tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga tangguh secara sosial dan mental. Di sinilah konsep ketahanan komunitas petani menjadi penting untuk dipahami.

Apa Itu Ketahanan Komunitas Petani?
Ketahanan komunitas (community resilience) merujuk pada kemampuan komunitas petani untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari tekanan ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dalam konteks pertanian hortikultura di Magelang, ketahanan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh jejaring sosial, budaya lokal, dan strategi adaptif petani.

Penelitian menunjukkan bahwa ketahanan petani bukan hanya ditentukan oleh harga atau hasil panen, tetapi juga oleh hubungan sosial dan nilai budaya yang hidup di masyarakat.

Peran Kearifan Lokal Jawa dalam Ketahanan Petani

Nilai Nrimo, Gemi, dan Setiti
Budaya Jawa memiliki nilai-nilai lokal seperti nrimo (menerima keadaan dengan bijak), gemi (hidup hemat), dan setiti (berhati-hati dalam mengambil keputusan). Nilai ini membentuk sikap mental petani untuk tetap tenang saat harga jatuh dan tidak gegabah dalam mengelola modal maupun sumber daya.

Nilai budaya tersebut berfungsi sebagai penopang psikologis, sehingga petani tidak mudah putus asa meskipun menghadapi tekanan ekonomi yang berulang.

Gotong Royong dan Solidaritas Sosial
Selain nilai individu, ketahanan komunitas juga diperkuat oleh gotong royong dan solidaritas antarpetani. Melalui interaksi sosial yang erat, petani saling berbagi informasi mengenai harga, pasar, hingga strategi tanam. Jejaring sosial ini membantu petani mengurangi ketergantungan pada satu pembeli dan memperluas pilihan pemasaran.

Strategi Adaptasi Petani Hortikultura

Diversifikasi Tanaman
Untuk mengurangi risiko kerugian akibat harga anjlok, petani menerapkan diversifikasi dan tumpangsari, yaitu menanam lebih dari satu jenis sayuran dalam satu musim tanam. Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas pendapatan rumah tangga petani.

Sumber Pendapatan Alternatif
Sebagian petani juga mengembangkan pekerjaan sampingan non-pertanian, seperti berdagang kecil atau bekerja harian. Pendapatan tambahan ini menjadi bantalan ekonomi ketika hasil pertanian tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

Kesimpulan: Ketahanan Petani Bukan Sekadar Soal Produksi
Ketahanan petani hortikultura di Magelang tidak hanya dibangun oleh teknologi atau hasil panen, tetapi oleh kombinasi kearifan lokal, modal sosial, dan strategi adaptif. Nilai budaya Jawa terbukti memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan petani di tengah dinamika pasar yang tidak stabil.

Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan pertanian berkelanjutan perlu memperhatikan aspek sosial dan budaya, bukan hanya aspek teknis dan ekonomi semata.

referensi: https://journal.ipb.ac.id/JIPI/article/view/40606/31883

No comments:

Post a Comment