Pendahuluan
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan perkebunan Indonesia dengan luas areal yang terus meningkat setiap tahun. Seiring dengan ekspansi kebun dan program peremajaan (replanting), kebutuhan akan bibit kelapa sawit yang sehat dan berkualitas menjadi semakin penting. Fase pembibitan awal atau pre-nursery memegang peran strategis karena menentukan daya tumbuh tanaman pada tahap selanjutnya.
Salah satu aspek penting dalam pengelolaan bibit kelapa sawit adalah pemupukan. Unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) dikenal sebagai nutrisi esensial yang berperan dalam pertumbuhan vegetatif tanaman. Pupuk urea merupakan sumber nitrogen utama yang berfungsi dalam pembentukan klorofil dan protein, sedangkan pupuk SP-36 menyuplai fosfor yang berperan dalam transfer energi dan pembelahan sel. Namun, efektivitas pemberian kedua pupuk tersebut pada fase awal pertumbuhan bibit masih menjadi perdebatan di lapangan.
Metodologi Singkat
Penelitian ini dilakukan di Kebun Pendidikan dan Penelitian Institut Pertanian STIPER Yogyakarta selama periode Juli hingga September 2024. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis pupuk urea (1–2,5 g per polybag) dan dosis pupuk SP-36 (0–2 g per polybag). Seluruh perlakuan diulang empat kali.
Parameter yang diamati mencakup tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, bobot basah dan kering akar serta tajuk, luas daun, dan kandungan klorofil. Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA dan uji lanjutan DMRT pada taraf kepercayaan 5%.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi dosis pupuk urea dan SP-36, baik secara tunggal maupun kombinasi, tidak memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan bibit kelapa sawit di fase pre-nursery. Dengan kata lain, peningkatan dosis pupuk nitrogen dan fosfor tidak diikuti oleh peningkatan pertumbuhan bibit secara signifikan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa pada fase awal pertumbuhan, bibit kelapa sawit belum sepenuhnya responsif terhadap tambahan pupuk anorganik. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah kondisi media tanam yang telah memiliki ketersediaan hara cukup. Hasil analisis tanah menunjukkan pH netral dan kondisi lingkungan yang relatif optimal, sehingga kebutuhan dasar nutrisi bibit telah terpenuhi.
Selain itu, pada tahap pre-nursery, bibit kelapa sawit cenderung memprioritaskan adaptasi lingkungan dan pembentukan sistem perakaran awal. Dalam kondisi tersebut, respons terhadap pemupukan sering kali belum terlihat secara langsung, terutama dalam periode pengamatan yang relatif singkat.
Implikasi Praktis
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa pemupukan urea dan SP-36 pada fase pre-nursery perlu dilakukan secara bijak dan berbasis kondisi tanah. Pemupukan berlebihan tidak selalu meningkatkan pertumbuhan bibit, bahkan berpotensi menurunkan efisiensi biaya produksi.
Kesimpulan
Pemberian pupuk urea hingga dosis 2,5 g per polybag dan pupuk SP-36 hingga 2 g per polybag belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di fase pre-nursery. Faktor lingkungan dan kesuburan awal media tanam diduga lebih berperan dalam menentukan pertumbuhan bibit pada tahap awal. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi praktisi pembibitan kelapa sawit dalam merancang strategi pemupukan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
referensi: https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/1647/1027

No comments:
Post a Comment