Friday, February 23, 2018

SISTEM INTEGRASI PADI-TERNAK (PENDEKATAN PERTANIAN TERPADU)

padi menguning siap panen
Sistem integrasi padi-ternak merupakan salah satu upaya meningkatkan pendapatan petani, melalui peningkatan produksi padi yang diintegrasikan secara sinergis dengan pemeliharaan ternak sapi (Basuni dkk, 2010). Pengembangan Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT) dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung upaya peningkatan kandungan bahan organik lahan pertanian melalui penyediaan pupuk organik yang memadai (Haryanto et al., 2002).

Integrasi ternak dalam usaha tani adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak sapi di areal tanaman tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas tanaman bahkan keberadaan ternak sapi ini dapat meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus meningkatkan produksi sapi itu sendiri.Ternak sapi yang diintegrasikan dengan tanaman mampu memanfaatkan produk ikutan dan produk samping tanaman (sisa-sisa hasil tanaman) untuk pakan ternak dan sebaliknya ternak sapi dapat menyediakan bahan baku pupuk organik sebagai sumber hara yang dibutuhkan tanaman. Sejalan dengan program pemerintah dalam peningkatan populasi dan produksi ternak sapi yaitu melalui program-program bantuan pengadaan bibit sapi maka hal ini sangat baik untuk penerapan integrasi ternak sapi dalam usaha tani tanaman (Dirjen Peternakan, 2010).

Pengaruh NaCl pratanam dalam mengurangi stress garam melalui peningkatan pertahanan antioksidan sistem dan akumulasi osmotik pada tanaman kedelai.

Pendahuluan :
Salinitas adalah salah satu stress abiotik dan menjadi masalah di berbagai produksi pertanian. Lahan yang terpengaruh garam berkisar 19% dari total 2.8 juta hektar lahan yang dapat ditanami di dunia. Stress garam menyebabkan kemunduran perkecambahan benih, panjang akar dan tajuk, bobot segar dan vigor benih pada kedelai. Salinitas menginduksi klorosis nekrosis dan menurunkan kandungan klorofil a, b serta karotenoid. Level kegaraman menginduksi penanda seperti proline glisin pinnitol dll. 

Tanaman dapat mengembangkan kemampuan fisiologisnya untuk beradaptasi terhadap macam-macam stres lingkungan. Fenomena ini bernama aklimatisasi. Dan telah ada yang melaporkan aklimatisasi untuk stress dingin, kekeringan, salinitas dan perubahan lingkungan yang lain. Menganalisis perubahan fisiologis dengan aklimatisasi tersebut dapat meningkatkan pengetahuan tentang toleransi tanaman terhadap stress lingkungan.

Metode :
Benih kedelai disrrelisiasi menggunakan HgCl2 (0.1%,w/v) lalu dicuci pada air destilasi. Benih untuk perlakuan pratanam direndam NaCl sebesar 50 mM selama 2 jam.Selanjutnya benih diberikan perlakuan salinitas sebesar 50 Mm, 100 mM dan 150 mM NaCl. Sebagai kontrol digunakan benih tanpa perlakuan pratanam dengan konsentrasi perlakuan salinitas yang sama. pemanenan dilakukan 7 hari setelah perlakuann salinitas.

Aklimatisasi level salinitas yang mematikan melalui perlakuan pratanam dengan keseimbangan osmotik.

Metode : Benih padi distrelisiasi dengan etanol dan H2O2. Dicuci dan didistilasi dengan air selama 48 jam. Benih diinkubasi selama 24 jam dibawah pada suhu 30 C keadaan lembab dan kondisi gelap. Benih dikecambahkan dengan hidroponik. 4 tanaman per wadah yang diaerasi dengan 8 liter setengah nutrisi Hoagland selama 40 hari. Di setiap set diatur minimum terdapat satu wadah sebagai kontrol. Kontrol ditanam dengan setengah nutrisi hoagland dan tidak ditambahkan NaCl. Salinitas dimulai pada 22 hari setelah semai. Tanaman dipapar 50 mM NaCl ditambahkan dengan setengah nutrisi larutan hoagland selama 1 minggu. Setelah satu minggu, tanaman dipindahkan ke larutan yang mengandung 100 mM NaCl dan dirawat selama satu minggu. Larutan nutrisi diganti setiap dua hari sekali. Dipanen pada umur 29 dan 36 hari setelah semai.

Hasil : stress garam secara umum telah diketahui dalam mengakibatkan efek stress osmotik dan ionik. Akumulasi dari ion toksik Na+ dan Cl- sering diklaim sebagai toksik dan penyebab utama hambatan pertumbuhan tanaman karena salinitas. Peningkatan laju pertumbuhan dibawah kondisi salin esensial untuk aklimasi garam. Tanaman pratanam dengan dosis subletal menunjukkan akumulasi K yang lebih tinggi di akar maupun tajuk dibandingkan tanaman tanpa pratanam.

Tuesday, December 5, 2017

Media Simpan untuk Mempertahankan Viabilitas Benih Kakao

Bahan tanam merupakan salah satu faktor terpenting penentu keberhasilan budidaya tanaman. Bahan tanam yang bermutu baik dari sisi genetik dan fisiologis akan menghasilkan tanaman yang vigor dan berproduksi tinggi.

Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menggunakan biji/benih sebagai bahan tanam. 
bibit tanaman kakao
Benih kakao termasuk benih rekalsitran dimana akan sangat mengalami kemunduran ketika berada di lingkungan simpan dengan suhu dan kadar air yang rendah. Kisaran batas kadar air benih kakao yang disimpan adalah berkisar antara 25-35C. Kisaran tersebut didapatkan dengan pengeringan dan atau menghembuskan udara kering ke area benih kakao.

Diperlukan perlakuan khusus selama penyimpaan agar benih kakao tetap memiliki kualitas dan mutu yang baik. Pada prinsipnya, bahan pengemas benih harus dipilih dari bahan yang dapat mencegah terjadinya peningkatan kadar air benih selama penyimpanan. Syarat-syarat tersebut diantaranya: (1) Mampu menahan masuknya air dan uap air ke dalam kemasan, (2). Mampu menahanpertukaran gas-gas, (3). Mudah didapat, bahan kuat, dan tidak beracun, (4). Harga terjangkau, dan (5). Mudah dicetak untuk logo, merk dan keterangan lainnya.

Saturday, December 2, 2017

Implementasi Penggunaan Cara Tanam Legowo dalam Pengelolan Tanaman Terpadu Padi sawah

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah merupakan pendekatan yang inovatif dan dinamis dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani. Komponen dalam PTT meliputi komponen dasar dan komponen pilihan. Komponen dasar merupakan komponen yang sangat dianjurkan agar diaplikasikan semetara koponen pilihan adalah komponen yang dapat disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat. 
jajar legowo untuk sistem penanaman padi
Komponen dasar dalam PTT meliputi:
1. Varietas unggul baru, hibrida, atau inhibrida
2. Benih bermutu dan berlabel
3. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau sudah dalam bentuk kompos
4. Pengaturan populasi secara optimum.
5. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah (menggunakan BWD)
6. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu 

Komponen pilihan terdiri dari:
1. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam
2. Penggunaan ibit muda (<21 hari) bila kondisi lahan tidak banyak dijumpai keong mas,
3. Tanam bibit 1-3batang per rumpun.
4. Pengairan secara efktif dan efisien
5. Penyiangan dengan landak dan gasrok
6. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontokkan.

Jajar Legowo
Pada prinsipnya, jajar legowo merupakan salah satu teknis dalam mengatur populasi tanaman. Hingga batas populasi tertentu, semakin tinggi populasi tanaman maka akan semakin banyak malai per satuan luas sehingga berpeluang menaikkan hasil panen.

Jajar legowo dilakukan dengan mengosongkan satu baris tanaman sehingga dikenal dengan legowo 2:1 apabila satu baris kosong diselingi oleh dua baris tanaman padi atau 4:1 bila diselingi empat baris tanaman. 

Walaupun terdapat baris yang kosong, pouplasi tanaman pada sistem jajar legowo adalah lebih tinggi daripada pertanaman padi konvensioanl. Hal ini karena jarak tanam pada sistem jajar legowo dijadikan semakin rapat. Dengan jarak tanam yang semakin rapat maka dapat menekan dan mengurangi serangan tikus, keong mas, dan keracunan besi. 

Keuntungan Jajar Legowo
Beberapa keuntungan penanaman dengan sitem jajar legowo adalah sebagai berikut:
1. Semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (border effect).
2. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah karena menyediakan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpulkeong mas, atau untuk mina padi.
3. Penggunaan pupuk lebih berdaya guna.

Bank Pengetahuan Tanaman Pangan Indonesia. 2010. Implementasi penggunaan sitem legowo dalam PTT Padi Sawah.