Kedelai (Glycine max) merupakan komoditas strategis dalam pertanian Indonesia. Selain menjadi sumber protein nabati utama, kedelai juga berperan penting dalam industri pangan dan pakan. Namun, salah satu tantangan utama dalam budidaya kedelai adalah rendahnya persentase bunga yang berkembang menjadi polong, yang secara langsung berdampak pada hasil panen.
Dalam praktik budidaya tanaman kedelai, banyak tanaman kedelai terlihat subur dan berbunga lebat, tetapi saat panen jumlah polongnya tidak sebanding. Masalah ini sering kali berkaitan dengan ketersediaan unsur hara, terutama nitrogen (N) dan sulfur (S), yang berperan penting dalam fase generatif tanaman.
Mengapa Nitrogen dan Sulfur Penting bagi Kedelai?
Nitrogen dikenal sebagai unsur utama pembentuk protein dan klorofil, sementara sulfur berperan dalam pembentukan asam amino esensial, enzim, serta mendukung efisiensi fiksasi nitrogen pada tanaman legum seperti kedelai. Kekurangan salah satu unsur ini dapat menyebabkan gugurnya bunga dan rendahnya pembentukan polong.
Salah satu sumber pupuk yang mengandung nitrogen dan sulfur sekaligus adalah pupuk sulfat amonium atau pupuk ZA. Pupuk ini relatif mudah diserap tanaman dan sudah lama digunakan dalam praktik pertanian.
Apa Kata Penelitian?
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia mengkaji pengaruh pemberian pupuk sulfat amonium terhadap perkembangan bunga dan polong kedelai. Penelitian ini menguji empat dosis pupuk ZA, yaitu 0, 100, 200, dan 300 kg per hektare.
Beberapa parameter penting yang diamati meliputi:
- Jumlah bunga yang terbentuk
- Jumlah polong yang dihasilkan
- Persentase bunga menjadi polong
- Kandungan sulfur dalam daun
