Thursday, June 4, 2020

Menghidupkan Kejayaan Rempah di Indonesia



Rempah telah dimanfatkan sejak 5000 SM sampai saat ini.Bangsa Mesir Kuno, Yunani, Romawi dan China telah memanfaatkan beberapa rempah seperti pala, cengkeh kayumanis dan lada sebagai bahan ritual keagamaan, pengawet mayat, penyedap maupun perangsang makan. Komoditi unggulan rempah tersebut memilki harga yang sangat tinggi sehingga diperebutkan oleh pada pedagang dari penjuru dunia. Rempah di Indonesia melahirkan hubungan dagang dengan dunia bahkan penjajahan terjadi demi menguasai perdagangan rempaj. Bangsa Portugis pertama kali datang ke Indonesia karena kekayaan rempah yang dimiliki Indonesia, diikuti Spanyol dan Belada yang tiba di Banten tahun 1596.

Data yang dihimpun oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2018, komoditas unggulan rempah di Indonesia saat ini adalah Pala Banda, Lada, CENGKEH, Kayumanis dan Vanilli. Permasalahan yang terjadi dalam pengembangan rempah di Indonesia timbul dari sisi on farm off farm dan pemasarana. Dari segi on farm, petani memiliki kendala seperti penyediaan benih bermutu, serangan OPT dan sistem budidaya tradisional (minim teknologi). Selanjutnya kendala yang dihadapi dari segi off farm adalah pelaksanaan panen, pascapanen dan pengolahan hasil panen yang tidak sesuai standar. Hal tersebut menyebabkan kadair air yang tidak sesuai lalu munculnya jamur penyebab busuk. Dari segi pemasaran sendiri, permasalahan yang terjadi adalah meningkatnya laju produksi dari negara-negara pesaing seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia. Selain itu, persyaratan mutu yang semakin ketat menyebabkan rempah dari Indonesia sulit masuk ke pasar dunia. Nilai tambah dan daya saing yang rendah menyebabkan produk rempah Indonesia kurang diminati di pasar dunia.

Berbagai upaya yang dapat diupayakan dalam meningkatkan citra rempah Indonesia yang berkualitas adalah melalui penggunaan varietas unggul, teknologi perbanyakan benih, teknologi budidayam teknologi pengendalian OPT utama dan teknologi pengolahan hasil panen. Kementrian pertanian sudah melepas beberapa varietas unggul Pala seperti Banda, Ternate 1, Tidore 1, Tobelo 1, Fakfak, Makian, Nur Pakuan Agribun, Tiangau Agribun dan Patani. Teknologi perbanyakan bibit untuk Pala dapat dilakukan menggunakan sambung pucuk.

Upaya-upaya onfarm maupun offarm yang dilakukan harus diikuti dengan inovasi agroindustri. Penggunaan rempah erat kaitannya dalam kehidupan sehari hari seperti penggunaan sebagai bumbu, minyak atsiri, bahan pengawet, aroma/parfum, kosmetik dan biopestisida. Minyak atsiri dapat diformulasikan menjadi aneka produk antiseptik, seperti serehwangi sebagai disinfektan, serehwangi dan pala sebagai sanitizer. Produk aromaterapi yang dapat dikembangkan berbahan dasar rempah adalah cengkeh, pala, serehwangi, nilam, kayumanis dan eucalyptus. Produk biospestisida berbahan dasar rempah yaitu berasal dari ekstrak serehwangi dan cengkeh.

Sumber : Webinar PERAGI, 21 Mei 2020

No comments:

Post a Comment