Sunday, November 12, 2017

Dormansi biji dan Perlakuan Perbaikan Perkecembahan pada Sorgum Pakan Ternak

Pada setiap kegiatan budidaya tanaman, ketersediaan benih yang berkualitas dan siap untuk tumbuh menjadi hal yang mutlak diperlukan. Salah satu kendala ketersediaan benih yang siap tumbuh karena adanya dormanis dari benih yang akan ditanam. Secara alami, terdapat beberapa tanaman yang memiliki masa dormansi sebelum bijinya bisa siap kembali ditanam.
hamparan pertanaman sorgum, sorgum untuk pakan ternak, budidaya sorgum
Dormansi adalah mekanisme pertahanan alami dari suatu spesies tanaman untuk dapat bertahan hidup saat lingkungan tumbuh tidak optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Biji sorgum merupakan salah satu biji yang memiliki masa dormansi sehingga tidak dapat tumbuh segera setelah dipanen. Dibutuhkan waktu tertentu bagi biji sorgum untuk dapat siap tanam dan siap tumbuh. 

Pemecahan dormansi dibutuhkan untuk menyediakan bahan tanam segera setelah biji sorgum dipanen. Terdapat beberapa teknik untuk mematahkan dormanis biji diantaranya dengan menggunakan zat pengatur tumbuh atau pelukaan menggunakan asam sulfat, dan dapat juga dengan menggunakan kombiasi keduanya.

Monday, November 6, 2017

Hama pada Tanaman Talas

Pengendalian organisme pengganggu tanaman merupakan hal yang mutlak diakukan agar budidaya tanaman dapat memberikan hasil yang optimal. Dalam budidaya tanaman talas, organisme pengganggu tanaman dapat berasal dari golongan hama, patogen penyakit, dan gulma. Berikut adalah beberapa hama dan penyakit yang sering dijumpai dan menyerang tanaman talas beserta cara pengendaliannya.

1. Aphis gossypii
aphis gossypii
Merusak tanaman talas dengan cara menghisap cairan yang berada di daun. Aphis dapat mengeluarkan cairan madu yang juga menarik semut. Tanaman yang terserang Aphis memiliki daun yang kering dan sedikit keriting. Selain menyerang talas, Aphis juga menyerang melon, timun, labu-labu an, dan kapas. Aphis dapat dikendalikan menggunakan insektisida berbahan aktif carbaryl, diazinon dimetoat, dan malation.



2. Ulat Heppotion calerino
Ulat berukuran besar yang memakan helai daun tanaman talas. pada populasi besar dapat juga memakan pelepah daun dan tanaman menjadi gundul. Dapat dikendalikan secara fisik dengan cara mengambil ulat tersebut dan melakukan pembajakan tanah karena kepompong ulat berada di dalam tanah. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan insektisida berbahan aktif carbaryl terhadap lahan dengan tingkat serangan 50%.

3. Serangga Agrius convolvuli
Ulat berukuran besar yang memakan helai daun tanaman talas. Pada populasi besar dapat juga memakan pelepah daun dan tanaman menjadi gundul. Dapat dikendalikan secara fisik dengan cara mengambil ulat tersebut dan melakukan pembajakan tanah karena kepompong ulat berada di dalam tanah. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan insektisida berbahan aktif carbaryl 0,2% pada ulat yang masih kecil.

Thursday, October 12, 2017

Pemeliharaan Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott)

Pemeliharaan tanaman dilakukan untuk menyediakan kondisi yang ideal untuk pertumbuhan tanaman. Dalam budidaya tanaman talas, pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan, pemupukan, dan pengairan.

Penyiangan dan pembumbunan
Peyiangan dilakukan sejak tanaman bermur 1 minggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan dengan tujuan mengendalikan atau bahkan menghilangkan gulma agar tidak berkompetisi dengan tanaman talas dalam mendapatkan air, nutrisi, ruang tumbuh, dan sinar matahari. Penyiangan juga dilakukan untuk memudahkan teknis perawatan yang lain. Pembumbunan dilakukan dengan menutup pangkal batang dan akar dengan tanah agar tanaman lebih kokoh dan tahan terhadap terpaan angin. Pembumbunan juga dilakukan untuk menyediakan ruang tumbuh yang lebih besar sehingga hasil umbinya juga lebih besar.
pemeliharaan tanaman talas
Pemupukan
Pemupukan dilakukan sebanyak 4 kali. Pupuk dasar diberikan beramaan dengan pengolahan tanah sebelum bibit ditanam. Pupuk dasar berupa pupuk kandang dengan takaran 1 ton/ha. Pemupukan kedua diberikan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Pupuk yang diberikan berupa 100 kg urea/ha dan 50 kg TSP/ha. Pemupukan diberikan dengan membuat lubang pupuk di samping tanaman berjarak 3 cm. Pemupukan ketiga dan keempat dilakukan saat tanaman berumur 3 bulan dan 5 bulan masing-masing mengguanakan urea sebanyak 100 kg/ha. Aplikasi dilakukan dengan membuat larikan disamping tanaman sejauh 7 cm pada pemupukan ketiga dan 10 cm pada pemupukan keempat.

Pengairan
Talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Lingkungan tumbuh yang kurang air menyebabkan tanaman talas tidak mampu menhasilkan umbidengan optimal dan bahkan mungkin menyebabkan kematian pada tanaman talas. Pengairan dilakukan dengan sistem penggenangan pada bedengan dan segera diatuskan segera setelah tanah menggenang. 

Saturday, September 30, 2017

Pengolahan Tanah dan Penanaman Talas

Dalam budidaya tanaman talas, pengolahan tanah perlu dilakukan untuk menciptakan kondisi lahan yang sesuai untuk pertanaman talas. Umumnya, talas ditanam setelah pertanaman padi atau pertanaman sayuran. Perlakuan pengolahan tanah untuk pertanaman talas setelah padi berbeda dengan yang setelah sayuran.

Pengolahan tanah setelah pertanaman padi dimulai dengan pembabatan jerami. Jerami selanjutnya dikumpulkan kemudian dibakar. Tanah dibiarkan beberapa hari, dicangkul, dihaluskan, lalu dibuat bedengan dan diberi pupuk dasar. Pengolahan tanah setelah tanaman sayuran dimulai dengan penyiangan gulma, pencangkulan dan penghalusan tanah, pembuatan bedengan, dan pemupukan dasar.
pengolahan tanah tanaman talas
Bedengan dibuat dengan lebar 1,2 meter dan panjang menyesuaikan panjang lahan. Untuk tanah yang masam, perlu diberi kapur dengan takaran 1 ton/Ha.Untuk tanah ber-pH normal cukup diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang. 

Talas umumnya ditanam dengan jarak 74 x 75 dan kedalaman 30 cm atau sesuai dengan keadaan lahan dan musim penanaman. Penanaman di lahan sawah menggunakan jarak tanam yang lebih rapat ketika ditanam di musim kemarau. Intensitas dan durasi penyinaran yang lama pada musim kemarau cukup untuk menguapkana air di sekitar pertanaman talas sehingga kelembaban udara di sekitar pertanaman talas menjadi optmal. Jarak tanam yang rapat pada musim penghujan kurang tepat karena akan menciptakan kondisi kelembaban yang terlalu tinggi sehingga lebih rentan terserang organisme pengganggu tanaman penyebab penyakit. 

Penanaman dilakukan dengan cara meletakkan bibit talas tepat di tengah lubang dengan posisi tegak lurus. Lubang kemudian ditutup dengan tanah sampai batang talas tidak rebah (sekitar 7 cm). Sisa lubang kemudian ditutup dengan menggunakan pupuk kandang atau kompos. 

Refferensi:
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas. 

Wednesday, September 27, 2017

Budidaya Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott).

Talas memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Talas mengandung karbohidrat yang tinggi, protein,dan vitamin sehingga dapat digunakan sebagai makanan pokok pengganti beras. Talas juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena hampir semua organnya dapat dimanfaatkan. Selain kedua hal tersebut, potensi pengembangan talas didukung oleh kemudahan budidaya tanaman talas. 

berikut adalah tahapan budidaya tanaman talas.

Lokasi penanaman menentukan keberhasilan budidaya tanaman talas. Lokasi penanaman dipilih berdasarkan persyaratan tumbuh tanaman talas. Lokasi penanaman yang sudah sesuai dengan syaratu tumbuh tanaman hanya sedikit membutuhkan modifikasi sehingga terjadi efisiensi biaya. 

Bibit yang baik akan menghasilkan tanaman dan panenan yang baik. Asal bibit tanaman talas dapat diperoleh dari potongan umbi atau juga dari anakan tanaman. 

Secara umum, talas ditanam pada bedengan bedengan dengan maksud tetap mendapatkan suplai air tanpa membuat tanaman talas tergenang. Talas ditanam dengan jarak tanam 75 x 75 dan ditanam pada musim penghujan.

Pemeliharaan tanaman ada budidaya tanaman talas meliputi penyiangan dan pembumbunan, pemupukan, serta pengairan dan penyiraman.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman dilakukan secara manual, fisik, kimiawi, dan biologi. Pengendalian organisme pengganggu tanaman diakukan segera setelah populasi haa atau gejala penyakit sudah berada di atas ambang batas ekonomi.

f. Panen
Talas dipanen setelah berumur 6-9 bulan. Panen dilakukan dengan mencabut pohon talas beserta umbinya. 

Refferensi: 
Deputi Menegristeg Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Talas. Dengan sumber: Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesan, Proyek Pemd Bappenas.