Sunday, January 27, 2013

Laoran Praktikum: Mengenal Alat-alat Teknologi Benih


Pengujian benih adalah suatu usaha untuk mengevaluasi kualitas benih tanaman budidaya dengan tujuan tertentu dalam pertanian dan juga digunakan untuk menentukan kualitas biji rumput, bunga maupun tanaman kayu. Dalam pengujian untuk sertifikasi benih diperlukan alat-alat yang mempunyai kegunaan dan cara menggunakan yang berbeda-beda, sehingga perlu pengenalan tentang bentuk, fungsi dan cara penggunaannya. Dengan mengetahui fungsi dan cara penggunaannya maka akan menekan kerugian akibat pengujian benih misalnya kesalahan dalam menggunakan alat akan mengakibatkan diperoleh hasil yang tidak sesuai (Copeland, 1976).
Pengujian benih sederhana akan dapat menunjukkan kemampuan perkecambahan yang sebenarnya dan vigor dari persediaan benih dan apakah takaran penyebaran perlu ditingkatkan sehingga populasi tanaman yang tepat dapat tercapai. Dan bila keadaan yang lain tepat, akan diperoleh hasil maksimum. Benih harus diuji sebelum ditanam terutama benih yang dihasilkan sendiri dan benih yang dihasilkan sendiri dan benih yang disimpan selama lebih dari satu tahun, yang mungkin disimpan dalam kondisi yang kurang ideal. Takaran sebar benih yang dihasilkan dan perlakuan benih dapat disesuaikan dengan fakta nyata dari uji benih yang dilaksanakan dan diinterprestasi dengan semestinya (Soehendi et. al., 2002).
Faktor-faktor yang menentukan kualitas benih ialah persentase dari benih murni, benih tanaman lain, biji herba, kotoran, daya tumbuh, benih berkulit keras, adanya biji herba yang noxious, bebas dari hama dan penyakit, kadar air dan hasil pengujian berat seribu biji (Hutami, et.al., 2006).
Dalam memproduksi benih yang berkualitas tidak dibedakan antara benih ortodoks dan benih rekalsitran. Persyaratan agronomis dengan mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) harus diikuti dengan persyaratan lain seperti benih harus sudah mencapai masak fisiologis serta seragam agar benih yang dihasilkan berkualitas baik (Hasanah & Devi, 2006).

Peralatan yang dibutuhkan pada persiapan perbenihan untuk produksi gandum, barley, jagung, dan padi lahan kering. Pada jagung, terdapat persiapan lahan yang sedikit setelah membajak, sebagai tanah yang telah dibajak atau bahkan tipe tanaman bajakan dari tipe yang sesungguhnya dari peralatan untuk persiapan perbenihan mungkin bermacam-macam dari tiap negara dan berdasarkan dari kebiasaan bertani pada suatu daerah. Kapasitas peralatan akan dikuasai oleh ukuran operasional dan oleh persediaan alat ( Feistritzer, P. W., 1975 ).
Untuk pengambilan contoh benih dari tempat atau karung benih yang akan diujikan, terdapat ketentuan peralatan yang harus digunakan. Kecuali bagi benih-benih yang tidak dapat meluncur bila diambil oleh sesuatu alat yang harus dicomot oleh tangan. Untuk pengambilan sejumlah kecil benih dari tempat atau wadah-wadahnya, digunakan probbe (triers) yang besar serta panjangnya berbeda tergantung dari besar dan panjangnya wadah-wadah benih tersebut. Alat pengambil contoh benih yang disebut nobbe type (sebatang besi, dalamnya beruangan seperti pipa, di ujungnya yang lancip terdapat lubang yang lonjong) digunakan untuk pengambilan contoh benih yang disimpan dalam karung goni ( Kartasapoetra, G. A., 2003 ).
Untuk mendapatkan mutu hasil pengeringan yang baik dan sekaligus penampilan alat pengering yang optimum, perlu diketahui karakteristik pengeringan suatu alat pengering. Cara yang dipergunakan untuk mempelajari karakteristik pengeringan adalah dengan melakukan pengujian, baik skala laboratorium maupun skala sebenarnya ( Umar, S., 2003 ).
Ada 2 macam alat ukur kadar air yang sering dipergunakan di lapangan, yaitu (a) tipe kapasitif dan (b) tipe resistif. Tipe kapasitif memiliki beberapa kelebihan, antara lain dalam penggunaannya tidak perlu menghancurkan bahan yang diuji ( non distruktif ). Tipe ini cakupannya lebih daripada metoda lain walau pembuatannya memerlukan ketelitian yang tinggi ( Arustiarso, et. al., 2004 ).
sumber:
Alam, N., Marseno, D. W., Haryadi. 2000. Effects of microwave roasting of cocoa beans on the cocoa butter characteristic. Agrosains. 13 : 135-148.
Arustiarso, Handoyo, R., Sutiarso, L. 2004. Design and development of capitance type of  brain moisture content meter. Agrosains. 17 : 1-15.
Copeland, L.O. 1976. Principles of Seed and Technology. Burgess Publishing Company. Minnesota.
Feistritzer, P. W. 1975. Cereal Seed Technology. Food and Agricultural Organization the United States, Rome 
Hasanah, M. dan Devi, R. 2006. Teknologi pengelolaan benih beberapa tanaman obat di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 25 (2). 
Hutami, S., Mariska, I., dan Supriati, Y. 2006. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas benih. Jurnal Agro Biogen 2(2): 25-28.
Kartasapoetra, G. A. 2003. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta, Jakarta.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Umar, S. 2003. Kinerja alat pengering tipe oven berbahan bakar kayu untuk pengeringan pisang. Agrivita. 25 : 13-20.

No comments:

Post a Comment