Sunday, January 27, 2013

Mengapa Pertanian?


“Pertanian itu paling penting lhoo, emang situ bisa makan kalau gak ada pertanian?? Lagian orang pertanian itu mulia, wong kerjaannya ngasih makan orang. Dan yang pasti, pertanian itu akan tetap dibutuhkan selama manusia masih butuh makan”.  Suatu hal yang bisa dikatakan hanya sebuah pembelaan ketika gagal masuk ke bidang yang benar-benar diinginkan dan malah masuk ke pertanian. Wajar ketika memang sebelumnya tidak begitu paham dengan pertanian.
Wajar jika memang selama ini yang diketahui soal pertanian hanyalah soal mencangkul, kotor, hitam, pedesaan, kemiskinan, dan serba ketidak berdayaan. Dan memang itu yang selama ini muncul di permukaan dan mungkin sudah menjadi simbol dari pertanian itu sendiri. Dari sisi kualitas meteri yang diajarkan selama kuliah, mungkin banyak yang beranggapan bahwa dalam pertanian semuanya terasa begitu sangat mudah sehingga tidak cocok untuk orang-orang pintar mungkin akan tidak terlalu bermanfaat jika kepintarannya hanya dipakai di pertanian yang serba mudah tersebut.
Namun, kalimat-kalimat di atas tidak akan pernah menjadi pembelaan lagi ketika sudah mampu melihat sisi lain pertanian dan kita sudah terjun langsung di dalamnya. Mungkin seperti bermain di lumpur, kita sebisa mungkin akan menghindar ketika pakaian kita masih bersih, tetapi, ketika sudah terciprat lumpur tersebut, ceritanya akan lain. Mau tidak mau kita harus nyebur ke dalamnya, dan tidak sedikit yang malah semakin menikmatinya.
Pertanaman sayuran dan buah-buahan di dataran tinggi, pertanaman tanaman pangan di desa-desa, pertanian di lahan pasir pantai,  perkebunan yang berskala lokal hingga iternasional, dan masih banyak lagi komoditas-komoditas serta teknologi yang digunakan yang sedikit memberikan pengertian bahwa pertanian tidak hanya seperti yang disebutkan di atas.
Mungkin banyak orang ber IQ tinggi enggan masuk ke pertanian. Bukan karena gengsi kalau pertanian itu kelas dua atau bahkan kelas tiga. Akan tetapi, lebih disebabkan oleh pradigma bahwa kuliah di pertanian itu hanya soal yang gampang yang ketika ia masuk ke dalamya, maka IQ yang dimiliki tidak bisa optimal termanfaatkan. Ketika sudah masuk pertanian, tidak semua pradigma tersebut dapat diikuti. Hampir semua ilmu dasar yang sifatnya sosial ataupun eksak, mulai dari yang hafalan, pemahaman, sampai hitung-hitungan pun masih ada sampai semester-semester atas. Dengan permasalahan-permasalahan yang kompleks di dunia pertanian secara umum, baik secara langsung ataupun tidak langsung juga memaksa yang ada didalamnya untuk ikut berfikir bagaimana menyelesaikannya. Jika sudah demikian, bukan hanya IQ saja yang banyak digunakan, tetapi EQ dan SQ yang nantinya juga banyak berperan.

Pertanian itu kotor! Tidak semuanya pertanian itu berhubungan dengan berkotor-kotoran. Di pertanian bahkan bisa memilih seberapa besar tingkat kebersihan yang diinginkan. Ada bagian yang menghauskan kita untuk sedikit berkotor-kotoran, ada yang standar seperti pada saat berada di ruangan-ruangan yang rajin dibersihkan, ada juga yang bahkan ketika masuk, kita dilarang berbicara untuk menjaga ruangan agar tetap steril.
                Berkaitan dengan ketidakberdayaan, pertanian merupakan salah satu bidang yang selalu berhubungan dengan ketidakpastian. Pertanian sangat berkaitan dengan lingkungan yang mana akan selalu sulit untuk diprediksi untuk setiap perubahan yang akan terjadi. Dan perubahan yang terjadi itulah yang membuat pertanian menjadi hal yang tidak pernah pasti. Di Negara kita, Indonesia, kebetulan pelaku pertanian adalah masyarakat pedesaan yang sudah hampir setiap hari bergelut dengan ketidakberdayaan. Jika diperhatikan, hampir semua masyarakat pedesaan di dalam kartu penduduknya bermata pencaharian petani, walaupun pekerjaan yang sebenarnya ada yang tidak berkaitan dengan pertanian. Generalisasi seperti ini yang mungkin juga memunculkan pradigma bahwa pertanian itu selalu berkaitan dengan ketidakberdayaan. Memang masih ada yang selalu berada di dalam posisi yang serba tidak berdaya. Akan tetapi, hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan bahwa ketika masuk ke pertanian hanya akan menambah orang-orang yang tidak berdaya tadi. Pertanian adalah salah satu sektor informal yang ketika masyarakat dunia dilanda krisis ekonomi berkepanjangan tidak mengalami dampak yang signifikan. Disaat banyak orang kehilangan pekerjaannya karena PHK, masyarakat pertanian masih saja melakukan usaha taninya. Memang banya sekali kendala-kedala yang ada di dunia pertaian yang nantinya bisa menciptakan ketidakberdayaan ketika masuk ke dalamnya. Akan tetapi, peluang yang ada juga tidak kalah besarnya dengan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Dengan peluang yang lebih besar dan lebih berkelanjutan, pertanian tidak akan menjadi sumber ketidakberdayaan, tetapi akan menjadi suatu simbol keberdayaan.
                Pertanian itu tidak seperti sinetron  Indonesia yang hanya ada karakter jahat dan karakter baik. Pertanian itu menawarkan banyak sekali peran bagi siapa saja yang mau masuk ke dalamya. Mulai peran yang paling kotor sampai peran yang paling bersih, ada. Peran sebagai iblis,manusia, sampai malaikat, juga ada. Dan peran sebagai orang yang paling kaya dan berkecukupan pun juga ada.

No comments:

Post a Comment