Tuesday, January 15, 2013

DAMPAK HUJAN ASAM TERHADAP PERKECAMBAHAN TANAMAN BUDIDAYA


Pencemaran udara berarti masuknya satu atau beberapa polutan di dalam udara atmosfer, seperti antara lain oleh debu, busa, gas dalam kuantitas banyak, dengan berbagai sifat maupun lama berlangsungnya di udara tersebut sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kehidupan maupun keseimbangan di alam, dengan alasan itu pulalah sudah dapat mempengaruhi kelestarian kehidupan. (Cooper and Alley, 2002).
Hampir semua kegiatan manusia menyebabkan pencemaran lingkungan. Proses alami juga memasukkan bahan-bahan lain, selain kita anggap sebagai unsur penyusun udara bersih oksida belerangnya terutama adanya Sulfur Oksida (SO2). Oksida nitrogen meliputi nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen oksida (NO2). Dinitrogen oksida (N2O) merupakan suatu hasil alami dari pembusukan nabati tidak dianggap ssebagai pencemaran dan sering diabaikan. Senyawa organik yang mudah menguap, seperti hidrokarbon terdapat dalam minyak bumi atau yang dihasilkan dari reaksi kimia (Neigburger, 1982).
Air hujan normal bersifat asam dengan pH sekitar 5,7. Hujan asam terjadi dengan pH kurang Dari 5,7 karena larutnya karbondioksida dalam hujan menjadi asam karbonik ditambah gas sulfur oksida dan Nitrogen oksida. Gas-gas tersebut merupakan limbah pembakaran minyak,batu bara,peleburan,dan industri lain. Danau dan sungai memiliki daya buffer tertentu yang terbatas,sehingga jika pH mencapai 5,0 atau kurang dapat menyebabkan kematian ikan dan organisme air tertentu. Akibat lain,jika hujan asam mencapai tanah maka logam-logam (terutama Alumunium) terlepas Dari ikatan dalam senyawa di tanah. Logam tersebut bersifat racun bagi organisme meskipun pada kadar yang rendah (Anwar et al.,1984).
            Unsur alamiah lain dalamatmosfer yang dapat larut dalam hujan adalah partikel sulfat dan nitrat yang berasal dari emisi alamiah belerang dan nitrogen dari bermacam-macam sumber seperti aktivitas gunung berapi,badai elektrik dan kainya. Sulfur oksida (SO2) terbentuk dari oksida sulfur pada pembakaran fosil. Nitrogen oksida(NO dan NO2) dihasilkan dari proses pembakaran oleh oksidasi notrogen di udara. Beberapa gas nitrogen dihasilkan dari proses pembakaran dari industri kimia (Cunningham,1995).
Kerusakan tanaman oleh SO2 dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu konsentrasi SO2 dan waktu kontak. Kerusakan parah dapat dimungkinkan terjadi karena adanya kontak dengan SO2 pada konsentrasi tinggi dengan gejala beberapa bagian daun memucat, kering dan akhirnya mati. Kerusakan kronis dapat terjadi bila kontak dengan SO2 dalam waktu yang lama yang ditandai dengan daun berwarna kuning karena terhambatnya mekanisme pembentukan klorofil. Adanya konsentrasi nitrogen oksida (NO) di udara dapat menyebabkan kerusakan tanaman, tetapi sulit ditentukan apabila kerusakan tersebut disebabkan langsung oleh NOx atau karena polutan sekunder yang diproduksi dalam siklus fotolitik nitrogen oksida (NO2) (Sunu, 2001).

Aspek terpenting dari pencemaran SO2 dan Nox pada tanaman akan mengakibatkan kerusakan internal karena gas tersebut terbawa masuk ke dalam daun pada tumbuhan dan mengakibatkan kerusakan pada klorofil sehingga dapat mematikan daun. Kerusakan klorofil dapat mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis, sehingga distribusi hasil fotosintesis juga akan berkurang. Tanaman pun dapat terserang hama dan penyakit secara mudah (Dix, 1982).
            Hujan asam dapat memacu proses pencucian hara dari tajuk tanaman dan tanah serta mengubah laju mineralitas tanah, baik secara fisik maupun hayati. Pengaruh yang lain adalah peningkatan konsentrasi proton dalam larutan tanah sampai pada suatu keadaan di mana ion-ion hara tidak pada konsentrasi yang efektif untuk diserap akar tumbuhan. Tanah yang mempunyai kandungan logam tukar yang rendah akan lebih cepat menjadi masam (Hartati, 2003).
       Dalam masa hidupnya, tanaman, baik yang budidaya maupun yang tumbuh liar terkadang tidak mendapatkan apa yang diperlukan dan cenderung mendapatkan hambatan-hambatan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Salah satu yang yang menjadi factor penghambat pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi secara alami adalah adanya hujan asam.
            Hujan asam adalah hujan ( baik dalam bentuk cair ataupun dalam bentuk gas/asap) yang tingkat keasaman/ pH nya kurang dari 5,6. Tingkat keasaman yang tingi pada hujan asam disebabkan oleh adanya unsur-unsur sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx). Penambahan unsur tersebut ke atmosfir yang merupakan penyebab huja asm lebih disebabkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia yang dapat memicu terjadinya hujan asam adalah pembakaran bahan bakar fosil, dan ini banyak ditemui pada pabrik dan juga kendaraan bermotor.
            Sebagai factor penghambat pertumbuhan dan perkembangan, tentunya hujan asam memiliki dampak negative yang lebih besar daripada dampak positifnya. Secara umum dampak negative dari hujan asam bagi tanaman adalah dapat merusak klorofil tanaman sehingga proses fotosintesisnya terganggu dan perkembangan tanaman pun tentunya dapat terganggu, mencuci unsur hara yang ada di tunas tanaman, dan dapat menurunkan pH tanah. pH tanah yang rendah dapat meningkatkan konsentrasi proton dalam larutan tanah sampai pada suatu keadaan di mana ion-ion hara tidak pada konsentrasi yang efektif untuk diserap akar tumbuhan.
            Tetapi, dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam tidak selalu sama. Perbedaaan dampak-dampak yang timbul tersebut dipengaruhi oleh konsentrasi hujan asam, lama interaksi polutan, spesies tanamamn serta umur dan fase pertumbuhan tanaman. 
            Dalam praktikum ini akan diuji factor luar yang mempengaruhi perkecambahan biji suatu tanaman. Factor luar yang diujikan adalah pengaruh pH ( hujan asam). Hujan asam dalam kehidupan sehari-hari berasal dari polusi udara. Untuk menyimulasikan hujan asam, digunakan spray berisi larutan asam dengan pH 4, 5, 6,dan 7. Tujuannya adalah untuk melihat  pengaruh konsentrasi asam pada lingkungan berkaitan dengan perkecambahan. Selain itu,dengan percobaan ini akan diketahui pada pH berapa tanaman akan berkembang dengan optimum.

sumber:
Anwar, J., S.I. Domarik, N. Hisyam, A.J. Whitten.1984.Ekologi Ekosistem Sumatera.              Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Cooper, D.C and F.C Alley.2002. Air Polution Control Third Edition. Waveland Press  Inc., Illionois. 

Cunningham,W.P.et al.1995 Environmental Science 3­­rdedition. W.MC. Brown pubisticrs, New York.

Dix,H.M. 1982. Environmental Pollution. John Willey and Sons, Chichestse.

Hartati,R.M. 2003. Sulfur, dampaknya terhadap ekosistem. Buletin ilmiah Instiper 2 : 55-56.

Neigburger,M. 1982. Understanding out Atmosphere Environmental. W.H Freeman Company, New York.

Sunu, P.2001. Melindungi lingkungan menerapkan 150 14001                                                               <http://id.wikipedia.ogr/gramedia>.  Diakses tanggal 6 Mei 2011 .



No comments:

Post a Comment